Rapuhnya Tauhid di Tengah Kuasa, Uang dan Popularitas
Lalai Kenikmatan Besar
Manusia seringkali melupakan kenikmatan besar yang baru saja dirasakannya. Mereka begitu mudah hilang memori kebaikan Tuhannya. Betapa banyak kenikmatan yang diperolehnya secara bergiliran. Alih-alih mengingat dan mengagungkan Tuhan yang telah memberikan segalanya, namun justru menguburkan-Nya hingga mencari tuhan lain yang dianggap bisa mendatangkan kenikmatan serupa.
Namun begitu selamat Bani Israil justru meminta berhala untuk disembah sebagaimana yang dilakukan oleh suatu kaum yang dilihatnya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَ تَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰۤى اَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّـنَاۤ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗ قَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ
Artinya :
“Dan Kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu. Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka berkata, Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan. Musa menjawab, Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf : 138)
Nikmat ekonomi tanpa kerja, mereka mendapatkan Manna dan Salwa, yang tidak membuat mereka lapar di tengah padang pasir. Nikmat infrastruktur langit, dimana di padang pasir yang panasnya 50 derajat, Allah kirimkan _awan (al-ghamam) yang menaungi mereka ke mana pun berjalan, demikian pula nikmat air dari batu yang memancar untuk menghilangkan rasa hausnya.
Semua kenikmatan itu dilupakan hanya karena melihat satu kaum menyembah patung yang berkilau. Mereka mengira kebahagiaan ada pada benda yang terlihat.
Berhala Modern
Ketika manusia bebas dari beban, tidak jarang melupakan pihak yang melepas bebannya. Hal ini bisa dilihat dari kisah Bani Israil yang telah Allah bebaskan dari berbagai beban dan penderitaan. Namun begitu beban itu hilang maka langsung hilang memori Sang urpelepas beban.
Al-Qur’an mengabadikan kenikmatan besar itu karena kesabaran dalam menghadapi kehidupan. Hal ini sebagaimana dinarasikan Al-Qur’an berikut :
وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ ۙ بِمَا صَبَرُوْا ۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ
Artinya :
“Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan baratnya yang telah Kami berkahi. Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya.” *(QS. Al-A’raf: 137)*
Fir’aun telah membangun piramida, istana, dan tentara. Semuanya dihancurkan dalam waktu sekejab. Bani Israil yang tertindas, mewarisi bangunan dan kekayaan Fir’aun. Inilah nikmat paling besar, dari budak menjadi pemilik negeri. Tapi kesabaran mereka hanya sebentar.
Hal ini juga berlaku pada manusia modern. Mereka melakukan pemberhalaan dengan mencari tuhan baru. Apa yang dilakukan Bani Israil di tepi laut itu persis terjadi hari ini. Kita baru saja ditolong Allah, tapi kita mencari tuhan-tuhan baru untuk menambah kenikmatan.
Contoh nyata ketika manusia sukses setelah memperoleh jabatan atau kekuasaan. Seorang pegawai baru saja diselamatkan Allah dari pengangguran, diberi pekerjaan yang halal. Tapi untuk naik jabatan, ia mulai menyembah tuhan baru bernama “Atasan”. Ia siap menjilat, memfitnah teman, bahkan meninggalkan shalat demi rapat. Ia berkata seperti Bani Israil: “Buatkan untukku jabatan sebagaimana mereka punya jabatan.”_ Padahal jabatannya yang pertama adalah murni pemberian Allah.
Seorang pedagang diselamatkan Allah dari kebangkrutan saat Covid, tokonya kembali laku. Tapi ia tidak puas. Ia ingin kaya seperti konglomerat. Ia mulai menyembah tuhan baru bernama “Riba” dan “Suap Proyek”. Ia mengambil kredit riba, menyogok pejabat, demi fasilitas yang lebih. Ia lupa, yang menyelamatkannya dari bangkrut kemarin adalah Allah, bukan bank.
Inilah rapuhnya tauhid masyarakat secara umum. Tauhid seperti buih di tepi laut. Sangat tebal saat di masjid, sangat tipis saat di depan kekuasaan, jabatan, dan uang. Semua tuhan palsu dan akan hancur. Jabatan akan pensiun, viral akan dilupakan, harta riba akan menjadi api. Namun kebanyakan manusia lalai dan mudah tergoda hingga melupakan Allah, Sang segala sumber (tabligh)

