Lebaran Muslim China: Masjid Penuh, Sedekah Mengalir, Tradisi Tetap Dijaga
INFOMU.CO | Jakarta – Di China, Idulfitri bukan hanya urusan salat Id. Hari raya ini juga jadi waktu bagi keluarga Muslim untuk berkumpul, berbagi, dan menurunkan adat kepada anak-anak mereka. Di tengah jumlah yang tidak dominan, momen seperti ini menjadi istimewa karena dari situlah rasa kebersamaan dirawat.
Dalam laporan Xinhua, jamaah memadati masjid di Urumqi, Kashgar, Beijing, dan Ningxia. Di Masjid Id Kah, Kashgar, jumlah jamaah pada momen besar keagamaan kabarnya bisa melampaui 10.000 orang. China Org juga mencatat bisanya saat Idulfitri, lebih dari dua juta Muslim di Ningxia mengenakan pakaian hari raya dan kopiah putih lalu berbondong-bondong ke masjid untuk mendengar khotbah imam.
Suasana Lebaran tidak berhenti di dalam masjid. Di sekitar gerbang, warga miskin menerima sedekah dari para jamaah, seperti dicatat China Org. Anak-anak pun ikut menyerap makna hari raya dari apa yang mereka lihat. Seorang siswa SD di Wuzhong, Qiang Zhaoyang, bercerita bahwa ia melihat ayahnya memberi salam kepada orang yang lebih tua dan bersedekah kepada orang miskin. Dari situ, ia belajar soal hormat dan kepedulian.
Ada juga keluarga yang sengaja menempuh perjalanan agar anak-cucu mereka tetap akrab dengan tradisi. Dalam laporan Xinhua, seorang warga Hui dari Harbin membawa keluarganya ke Ningxia untuk merayakan Idulfitri dan mengenalkan budaya etnis mereka kepada generasi yang lebih muda.
Bagi Muslim di China, Idulfitri tampaknya memang lebih dari hari libur keagamaan. Dari cara orang tua mengajak anak ke masjid, dari sedekah yang dibagikan di gerbang, sampai keputusan sebuah keluarga menempuh perjalanan jauh demi merayakan Lebaran bersama, terlihat satu hal yang sederhana bahwa tradisi tidak diwariskan lewat ceramah, melainkan lewat kebiasaan yang diulang dari tahun ke tahun (voi)

