• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Menata Dakwah Berbasis Data: Pelatihan SiCARA dan SiMasMu LPCR PM PWM Sumut di Tebing Tinggi

Menata Dakwah Berbasis Data: Pelatihan SiCARA dan SiMasMu LPCR PM PWM Sumut di Tebing Tinggi

KHGT: Saat Gagasan Mendahului Zaman

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
25 Maret 2026
in Kolom
0
KHGT: Saat Gagasan Mendahului Zaman
Oleh : Jufri 
Ada satu candaan yang terasa seperti cermin sejarah. Tahun 1997, Abdurrahman Wahid pernah mengatakan kepada tokoh-tokoh Muhammadiyah: kalian itu sering “menang” bukan di awal, tapi di akhir. Ide-idenya ditolak, diperdebatkan, bahkan dicurigai. Namun beberapa waktu kemudian, ide yang sama justru diikuti oleh banyak orang. Sejarah, rupanya, punya pola yang berulang, apa yang terasa asing hari ini, sering kali hanya karena ia datang lebih cepat dari kesiapan kita.
Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1912, Muhammadiyah membawa semangat yang sederhana tetapi berdampak besar: kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta keberanian menggunakan akal sehat. Dari sinilah banyak pembaruan lahir, bukan untuk melawan tradisi, tetapi untuk memurnikan dan memajukan cara umat memahami agama. Apa yang dikerjakan tidak selalu mudah diterima, tetapi waktu perlahan memberi ruang bagi pemahaman.
Kita bisa melihatnya dalam hal-hal yang kini terasa biasa. Arah kiblat, misalnya, tidak lagi sekadar “ke barat”, tetapi dihitung dengan ilmu falak dan presisi. Salat Id di lapangan yang dulu terasa asing, kini justru menjadi pemandangan yang dinanti. Bahkan ucapan “taqabbalallahu minna wa minkum” yang dulu terdengar kaku, hari ini mengalir dalam khutbah, pesan singkat, hingga percakapan sehari-hari. Yang dulu dipertanyakan, perlahan menjadi kebiasaan.
Lebih jauh lagi, Muhammadiyah menghadirkan agama dalam bentuk yang nyata. Terinspirasi dari Al-Ma’un, dakwah tidak berhenti pada kata, tetapi menjelma menjadi tindakan: rumah sakit, panti asuhan, sekolah, dan berbagai layanan sosial. Apa yang dulu sempat dituduh “meniru Barat”, kini justru menjadi wajah utama pelayanan umat. Lembaga zakat seperti LAZISMU dan BAZNAS pun menunjukkan bahwa ibadah bisa dikelola dengan rapi, transparan, dan berdampak luas.
Dulu penggunaaan meja dan kursi disekolah dianggap meniru orang kafir , dan memang KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan seorang pendeta Katolik, dan beliau terinspirasi untuk memodernisasi sekolah , mendirikan rumah sakit , dan panti asuhan. Disamping Masjid yang didirikan biasa dilengkapi dengan sekolah agar masjid menjadi tempat penyemaian generasi muda Islam yang kritis dan dinamis .
Di titik ini, saya sering merasa bahwa Muhammadiyah tidak sekadar bergerak lebih cepat, tetapi juga lebih tenang dalam menghadapi perbedaan. Ia tidak terburu-buru membuktikan diri, tetapi konsisten berjalan. Mungkin karena keyakinannya sederhana: jika sesuatu itu benar dan bermanfaat, waktu akan menjadi saksi.
Hari ini, semangat itu hadir kembali dalam gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Secara logika, gagasan ini terasa sederhana: bumi satu, bulan satu, umat Islam satu—maka waktu ibadah pun seharusnya bisa disatukan. Namun seperti yang sudah-sudah, setiap gagasan yang melampaui kebiasaan akan lebih dulu berhadapan dengan keraguan.
Sebagian bertanya, sebagian menolak, dan sebagian memilih menunggu. Itu wajar. Karena dalam banyak hal, kita memang lebih akrab dengan yang sudah lama kita jalani daripada sesuatu yang baru kita pahami. Tetapi jika menengok ke belakang, pola itu tidak pernah benar-benar berubah: ditolak, diperdebatkan, dipahami perlahan, lalu dijalankan tanpa banyak disadari.
KHGT, dengan demikian, bukan sekadar soal penentuan tanggal. Ia adalah ikhtiar untuk menyatukan ritme umat dalam dunia yang semakin terkoneksi. Sebuah usaha untuk menjembatani perbedaan, bukan menghapus tradisi, tetapi mencari titik temu yang lebih luas.
Sebagaimana dahulu Ahmad Dahlan menghadapi penolakan bahkan dari lingkungan terdekatnya, hari ini pun setiap gagasan besar harus melewati fase yang sama. Tidak semua orang langsung melihat manfaatnya, tidak semua orang siap menerimanya. Namun waktu, seperti biasa, akan bekerja dengan caranya sendiri.
Pada akhirnya, saya melihat ini bukan tentang siapa yang benar lebih dulu, atau siapa yang harus diikuti. Ini tentang keberanian untuk berpikir, sekaligus kerendahan hati untuk menunggu proses. Karena sering kali, yang hari ini kita anggap berbeda, esok justru menjadi bagian dari keseharian kita.
Dan mungkin di situlah letak pelajarannya: bahwa gagasan yang lahir dari ilmu, keikhlasan, dan keberanian, tidak selalu menang di awal, tetapi hampir selalu menemukan jalannya pada waktunya.
Pada akhirnya perdebatan , atau bahkan disalah artikan adalah hal yang lumrah. Ruang diskusi untuk menumbuhkan kesadaran demi kebersamaan harus terus dilakukan dengan kearifan dan kebijaksanaan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: jufriKHGTkolom
Previous Post

Lebaran Muslim China: Masjid Penuh, Sedekah Mengalir, Tradisi Tetap Dijaga

Next Post

Lebaran Idul Fitri 1447 H, Jalur Rusak Umah Besi Bener Meriah Bikin Macet

Next Post
Lebaran Idul Fitri 1447 H, Jalur Rusak Umah Besi Bener Meriah Bikin Macet

Lebaran Idul Fitri 1447 H, Jalur Rusak Umah Besi Bener Meriah Bikin Macet

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.