Instruktur, Bukan Penguji: Kesalahan Kita dalam Kaderisasi
(Tulisan ke-48 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Unimed
Tidak sedikit kader Muhammadiyah yang tumbuh dengan kenangan pahit tentang proses kaderisasi. Bukan karena materinya berat atau waktunya panjang, melainkan karena suasana yang terasa menekan. Alih-alih menjadi ruang belajar dan pematangan kesadaran, kaderisasi kerap berubah menjadi ruang pengujian yang menegangkan. Di situlah persoalan mendasar bermula: ketika instruktur lebih merasa sebagai penguji daripada pendidik.
Saya menulis ini bukan sebagai pengamat dari luar, melainkan sebagai bagian dari proses panjang kaderisasi itu sendiri. Pernah menjadi peserta, pernah menjadi instruktur, dan pernah pula berada pada posisi pengambil kebijakan kaderisasi di berbagai level. Dari pengalaman itulah muncul satu kegelisahan yang terus berulang: mengapa banyak kader “lulus” secara struktural, tetapi tidak tumbuh secara ideologis?
Kaderisasi sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Ia bukan ajang seleksi siapa yang paling cepat memahami istilah, paling lantang berbicara, atau paling tepat mengulang jawaban instruktur. Kaderisasi adalah ruang perjumpaan nilai, tempat kader belajar mengenali diri, memahami Persyarikatan, dan menautkan keduanya dalam realitas kehidupan. Ketika proses ini berubah menjadi pengujian semata, maka yang lahir bukan kesadaran, melainkan kepatuhan semu.
Dalam praktiknya, instruktur sering terjebak pada standar kaku. Peserta dinilai dari kesesuaian jawaban, bukan dari proses berpikir. Pertanyaan kritis dianggap sebagai perlawanan, perbedaan pandangan dicurigai sebagai penyimpangan. Akibatnya, peserta belajar satu hal yang keliru: bahwa keselamatan dalam kaderisasi adalah mengikuti apa yang diinginkan instruktur, bukan memahami nilai yang diajarkan Muhammadiyah.
Pendekatan seperti ini mungkin melahirkan kader yang rapi secara administratif, tetapi rapuh secara kesadaran. Mereka hafal konsep, tetapi gagap menghadapi realitas. Mereka fasih berbicara ideologi, tetapi kering dalam empati sosial. Lebih jauh lagi, kaderisasi yang menekan berpotensi melahirkan luka batin—rasa minder, takut salah, atau bahkan menjauh dari Persyarikatan.
Instruktur dalam kaderisasi Muhammadiyah sejatinya adalah pendamping perjalanan. Ia hadir bukan untuk memamerkan keunggulan intelektual, melainkan untuk membuka jalan pemahaman. Instruktur yang baik tidak merasa terancam oleh pertanyaan kritis. Ia justru menggunakannya sebagai pintu dialog. Dari dialog itulah kesadaran tumbuh, bukan dari tekanan.
Menjadi instruktur berarti bersedia menanggalkan ego. Tidak semua pengalaman kita harus dijadikan standar mutlak. Tidak semua cara lama relevan untuk generasi baru. Kader hari ini hidup dalam konteks yang berbeda, menghadapi tantangan yang lebih kompleks, dan memiliki cara berpikir yang lebih terbuka. Jika instruktur gagal memahami ini, maka kaderisasi akan tertinggal oleh zaman.
Pengalaman mendampingi kader di berbagai forum menunjukkan bahwa kader yang tumbuh paling kuat justru lahir dari ruang kaderisasi yang humanis. Ruang yang aman untuk bertanya, jujur dalam refleksi, dan kritis tanpa rasa takut. Di ruang seperti itulah kader berani menyatakan kegelisahan, mempertanyakan praktik, dan mencari makna. Inilah kaderisasi yang melahirkan kesadaran, bukan sekadar kelulusan.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah menjadikan kaderisasi sebagai ajang pembuktian otoritas. Instruktur merasa harus selalu benar, selalu unggul, dan selalu dominan. Padahal, dalam kaderisasi ideologis, keteladanan jauh lebih penting daripada kehebatan verbal. Kader belajar lebih banyak dari sikap instruktur daripada dari materi yang disampaikan.
Instruktur juga perlu menyadari bahwa kaderisasi adalah proses jangka panjang. Tidak semua hasil terlihat seketika. Ada kader yang tampak biasa hari ini, tetapi kelak menjadi penggerak penting. Ada pula yang kritis dan gelisah di awal, namun justru itulah tanda kesadaran yang sedang tumbuh. Karena itu, instruktur tidak berhak memvonis masa depan kader berdasarkan penilaian sesaat.
Kaderisasi Muhammadiyah tidak membutuhkan instruktur yang galak, tetapi instruktur yang berintegritas. Tidak membutuhkan penguji yang menakutkan, tetapi pendidik yang menenangkan. Instruktur yang mampu hadir sebagai manusia utuh yang pernah salah, pernah ragu, dan terus belajar. Dari instruktur seperti inilah kader belajar bahwa ber-Muhammadiyah adalah proses menjadi manusia yang lebih baik.
Pada akhirnya, kritik ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk mengingatkan. Kita semua pernah berada di titik yang sama: belajar, mencari, dan bertumbuh. Jika kaderisasi ingin tetap relevan dan bermakna, maka peran instruktur harus diluruskan kembali. Kita bukan penguji yang menentukan siapa layak atau tidak. Kita adalah pendamping yang membantu kader menemukan jalannya sendiri dalam Muhammadiyah.
Dari kesadaran inilah kaderisasi akan kembali menemukan ruhnya. Melahirkan kader yang bukan hanya patuh secara struktural, tetapi matang secara ideologis. Kader yang berpikir jernih, bersikap arif, dan berjuang dengan cara yang manusiawi. Itulah kader yang dibutuhkan Muhammadiyah hari ini dan masa depan.
Wallahu a’lam bish shawab

