Khutbah Jumat : “Musibah dan Taubat untuk Perbaikan Masyarakat”
Oleh : Harun Al-Rasyid S.Pd.I – Ketua PCM Medan Denai
Khutbah Pertama;
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مَهْدًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا، وَفِي ذَلِكَ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِينُ، الَّذِي أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ تَقْوَاهُ خَيْرُ زَادٍ، وَأَفْضَلُ عِبَادَةٍ، وَهِيَ سَبِيلُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Jemaah yang dimuliakan Allah
Musibah dan ujian silih berganti datang kepada seseorang, dan tidaklah musibah dan ujian tersebut terjadi di dunia ini ataupun di akhirat nanti, melainkan di antara sebabnya adalah dosa dan kemaksiatan orang tersebut kepada Allah Ta’ala.
beberapa daerah Allah berikan ujian berupa musibah. Ada yang terkena banjir, longsor, jembatan rusak, rumah hancur, dan lain sebagainya. Di sisi lain, kita juga menyaksikan di berbagai media komunikasi tentang sebagian pejabat yang berlaku sewenang-wenang dengan jabatannya.
Sebagai umat yang beriman, kita memandang semua musibah dan kejadian ini sebagai tanda-tanda kekuasaan Allah sekaligus pengingat untuk memperbaiki diri dan segera bertaubat. Banjir dan longsor adalah pelajaran tentang bagaimana kita menjaga amanah lingkungan. Ketidakadilan para pemimpin adalah peringatan bagi kita agar berdoa, bersabar dan tetap berpegang pada nilai-nilai kejujuran dan kebenaran.
Renungilah wahai saudaraku sekalian, tidaklah Adam dan Hawa Allah turunkan dari surga, melainkan karena sebuah kemaksiatan. Tidaklah Iblis diusir oleh Allah dari langit dan surga, melainkan juga karena pembangkangan dan kemaksiatan yang dilakukannya terhadap Allah Ta’ala. Allah berfirman :
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍ قَالَ فَٱهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ فِيهَا فَٱخْرُجْ إِنَّكَ مِنَ
ٱلصَّٰغِرِينَ
“Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” (Iblis) menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan saya dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.’ Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’” (QS. Al-A’raf: 12-13)
Apa yang menimpa umat-umat terdahulu dari azab yang pedih. Dari kaum Nuh yang Allah tenggelamkan. Kaum Ad yang Allah luluh lantakkan dengan angin yang sangat dahsyat. Kaum Luth yang Allah balikkan bumi mereka, lalu Allah hujani dengan batuan panas dari neraka. Fir’aun dan bala tentaranya yang Allah tenggelamkan melalui perantara tongkat musa. Tidaklah semua itu terjadi, melainkan karena kemaksiatan dan ketidakpatuhan mereka terhadap perintah Allah Azza Wajalla. Mengenai kisah Nabi Musa dan Fir’aun, Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quran surah Az-Zariyat,
وَفِى مُوسَىٰٓ إِذْ أَرْسَلْنَٰهُ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ بِسُلْطَٰنٍ مُّبِينٍ فَتَوَلَّىٰ بِرُكْنِهِۦ وَقَالَ سَٰحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ فَأَخَذْنَٰهُ وَجُنُودَهُۥ فَنَبَذْنَٰهُمْ فِى ٱلْيَمِّ وَهُوَ مُلِيمٌ
“Dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata. Maka, dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata, ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.’ Maka, Kami siksa dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela.” (QS. Az-Zariyat: 38-40)
Di ayat yang lainnya, Allah Ta’ala kembali menyampaikan bahwa seluruh musibah yang menimpa manusia, baik itu rasa sempit yang mereka rasakan, rasa sakit pada tubuh mereka, cobaan pada anak keturunan ataupun harta mereka, atau bahkan musibah yang menimpa negeri dan tempat tinggal mereka, maka semuanya disebabkan perbuatan yang dilakukan oleh diri mereka sendiri.
Allah SWT berfirman,
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syura: 30)
Jemaah yang dimuliakan Allah Ta’ala,
Maksiat kita kepada Allah SWT, selain tentunya mendatangkan malapetaka dan musibah, hal tersebut juga menyebabkan setidaknya dua hal buruk lainnya kepada diri kita.
Yang pertama, menghalangi diri kita dari mendapatkan ilmu, menjadikan kita malas dan tidak bersemangat dalam menghafal dan menuntut ilmu. Suatu ketika, Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,
Aku mengadukan kepada Waki’ atas jeleknya hafalanku.
Lalu, ia menasihatiku untuk meninggalkan maksiat.
Dan mengabarkan kepadaku bahwa ilmu adalah cahaya.
Dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat.”
Yang kedua, maksiat menghalangi datangnya rezeki. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :
وَكَمَا أَنَّ تَقْوَى اللَّهِ مَجْلَبَةٌ لِلرِّزْقِ فَتَرْكُ التَّقْوَى مَجْلَبَةٌ لِلْفَقْرِ، فَمَا اسْتُجْلِبَ رِزْقُ اللَّهِ بِمِثْلِ تَرْكِ الْمَعَاصِ
“Takwa kepada Allah menjadi kunci pembuka pintu rezeki, sedangkan lalai dalam takwa, maka dapat mengundang kefakiran. Rezeki hanya akan mengalir ketika seseorang menjauhi segala bentuk maksiat.” (Ad-Da’ wa Ad-Dawa’, hal. 85)
Hadirin jamaah Jum’at yang dirahmati Allah
Diantara langkah yang perlu dilakukan dalam Rangka taubat adalah :
1. Menyadari dosa seperti kerusakan lingkungan, ketidakadilan maupun konflik antar kelompok.
Musibah dan kerusakan lingkungan tidak akan terjadi dalam sekejab, namun sebagai bentuk protes lingkungan atas tangan tangan jahat dan keserakahan manusia
2. Berkomitmen membangun masyarakat yang di ridhoi Allah
Komitmen yang konsisten berarti memiliki tekad yang kuat dan berkesinambungan untuk menjalankan amal kebaikan baik secara individu maupun kolektif, upaya ini harus dilakukan secara terus menerus, meskipun menghadapi berbagai tantangan.
3. Memperbanyak Istighfar dan amal saleh secara bersama-sama dalam upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memperbaiki keadaan Masyarakat. Dengan memperbanyak Istighfar, kita memohon ampun atas dosa-dosa yang telah kita lakukan baik secara individu maupun bersama-sama. Selain itu, amal saleh seperti membantu sesama, menyantuni yang membutuhkan, dan menjaga lingkungan dapat menjadi wujud nyata dari ketaatan kepada Allah.
Mari kita berusaha memperbaiki kehidupan dengan Taubat, menyadari akan kesalahan bersama, berkomitmen menjadi kebaikan untuk mencari ridho Allah dan beramal saleh semaksimal mungkin, semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk dan kekuatan kepada kita untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh ketaatan dan keberkahan.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْبَانْجِيرَ وَالْمَصَائِبَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
