Muhammadiyah Kerahkan Relawan Bantu Tangani Banjir di Sumatra hingga Aceh
INFOMU.CO | Yoqjakarta – Masih banyak korban selamat yang belum bisa mengungsi akibat banjir dan tanah longsor, Muhammadiyah bergerak cepat respon bencana alam besar yang menyebabkan kerusakan parah di Sumatra dan Aceh.
Selain itu masyarakat di berbagai wilayah diminta untuk berhati-hati dan mewaspadai berbagai potensi bencana hidrometeorologi. Hal itu disampaikan Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan.
“Jadi cuaca itu juga sangat memengaruhi bencana hidrometeorologi. Baik itu di Jawa yang kemarin banjir di Bumiayu, longsor di Cilacap, dan di Banjarnegara,” kata Budi Setiawan ketika dimintai keterangan reporter muhammadiyah.or.id di Gedoeng Moehammadijah pada Kamis (27/11).
Di Indonesia, bencana hidrometeorologi menyumbang angka 85 hingga 98 persen bencana yang terjadi di Indonesia. Maka masyarakat khususnya di Pulau Sumatra, seperti Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), sampai Provinsi Aceh diminta untuk selalu waspada.
“Bahkan yang di Langsa (Aceh) itu putus komunikasi, kecuali lewat satelit. Siang ini nanti kita akan berkomunikasi dengan Langsa/Aceh. Sementara dua tiga hari yang lalu kita sudah mem-backup Sumatra Utara,” katanya.
Selain di Sumut, MDMC saat ini juga tengah berkoordinasi untuk penambahan Relawan Muhammadiyah ke Sumbar. Budi menjelaskan, di Sumbar MDMC saat ini sudah mendirikan Posko Koordinasi yang berada di Kota Padang. Selanjutnya akan segera dirikan Posko Pelayanan (Posyan) di beberapa titik bencana.
Beratnya kerusakan infrastruktur yang disebabkan banjir dan tanah longsor menjadikan para korban selamat belum semua dapat dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Oleh karena itu, MDMC terus melakukan penanganan awal termasuk dengan membangun koordinasi melintas.
Bahkan untuk Sumbar, MDMC PP Muhammadiyah sedang bersurat ke MDMC regional Sumatra untuk pengerahan relawan ke Sumbar. Langkah ini diambil lantaran banyak relawan Muhammadiyah yang turut menjadi korban banjir dan tanah longsor di Sumbar.
“Bahkan ketika dilihat di Sumatra Barat ini sudah layak disebut sebagai bencana nasional. Karena melihat infrastruktur yang rusak luar biasa,” ungkap Budi yang juga telah memberikan masukan ke Pemerintah pusat terkait dengan situasi yang terjadi Sumbar.
“Sampai saat ini masih banyak korban yang belum bisa mengungsi, karena mereka terisolir tidak bisa ke mana-mana,” imbuhnya.
Selain adanya curah hujan yang ekstrim, bencana yang terjadi di beberapa kawasan juga disebabkan hilangnya fungsi hutan yang semakin gundul sehingga tidak mampu lagi menahan tanah dan air hujan. Budi menyebut, illegal logging menjadi ancaman serius setiap kali hujan lebat datang.
“Ini bisa menjadi hal yang sangat menarik untuk dijadikan masukan kepada Pemerintah tentu saja,” ungkapnya. (muhammadiyah.or.id)

