PERINGATAN ALLAH KEPADA MANUSIA MELALUI GEJALA ALAM
Dr. Junaidi, M.Si – (Ketua MT PDM Medan dan Dosen FUSI UIN-SU Medan)
Khutbah Pertama;
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَجَعَلَ الْأَرْضَ مَهْدًا وَالْجِبَالَ أَوْتَادًا، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا، وَفِي ذَلِكَ آيَاتٌ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الصَّادِقُ الْأَمِينُ، الَّذِي أَمَرَنَا بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّ تَقْوَاهُ خَيْرُ زَادٍ، وَأَفْضَلُ عِبَادَةٍ، وَهِيَ سَبِيلُ النَّجَاةِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.
Jamaah Jumat yang Allah muliakan
Marilah kita renungkan bersama betapa alam semesta ini adalah ciptaan Allah yang penuh hikmah, di mana setiap peristiwa seperti hujan deras dan banjir yang melanda negeri kita saat ini bukanlah kebetulan belaka, melainkan peringatan nyata dari Allah Swt Sang Pencipta. Pekan ini, data empiris dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa banjir dan longsor telah merendam ribuan rumah di berbagai wilayah, seperti di Sumatera Utara dan juga Aceh dengan korban jiwa dan kerugian material yang signifikan. Di sumatara Utara mulai Tapanuli Tengah (Barus) Tapsel dan juga sepanjang wilayah sumut, termasuk kota Medan juga terkena dampak banjir.
Fenomena ini, secara sistematis, dapat ditelusuri melalui hubungan sebab-akibat yang logis antara perilaku manusia dan respons alam, sebagaimana teori lingkungan modern yang mapan menyatakan bahwa perubahan iklim global memperburuk intensitas curah hujan, sementara faktor lokal seperti penyumbatan drainase mempercepat bencana.
Secara empiris, penyebab utama banjir khususnya di Sumut dan Aceh saat ini Adalah;
Pertama, curah hujan ekstrem yang dipicu oleh siklon tropis seperti Bibit Siklon 95B di perairan timur Aceh, yang telah meningkatkan intensitas angin kencang dan hujan deras sejak pertengahan November.
Kedua, Pendangkalan sungai dan gorong-gorong akibat penumpukan sampah plastik serta limbah rumah tangga menjadi faktor krusial, karena hal ini menghambat aliran air dan menyebabkan luapan yang tak terkendali, seperti yang terjadi di Sibolga dan Batang Boru.
Ketiga, alih fungsi lahan hijau menjadi pemukiman atau kawasan industri tanpa perencanaan yang matang, ditambah keretakan tanggul dan kondisi geologi labil di daerah pegunungan, semakin memperparah situasi, sebagaimana terlihat di Bali dan Jakarta di mana infrastruktur drainase yang tidak memadai gagal menampung debit air.
Jamaah Jumat yang Allah muliakan
Ini semua adalah bukti logis dari teori kausalitas dalam ekologi, di mana eksploitasi berlebih terhadap alam memicu ketidakseimbangan yang berujung pada bencana. Dari perspektif Islam yang relevan dan up-to-date dengan kondisi ini, banjir bukan hanya fenomena alam semata, melainkan peringatan Allah SWT atas kerusakan yang ditimbulkan oleh tangan manusia sendiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini secara sistematis menghubungkan penyebab banjir seperti pencemaran dan deforestasi dengan dosa umat manusia, seperti ketamakan dalam mengelola sumber daya alam, yang pada akhirnya mengundang ujian ilahi untuk membangunkan kita dari kelalaian. Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
عَنْ ثَابِتٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ “ الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى ” .
Artinya: “Kesabaran yang sebenarnya adalah pada saat hantaman pertama dari musibah.”
Hadis ini mengajarkan kita untuk sabar dan segera introspeksi, bukan menyalahkan cuaca semata, tapi melihat banjir sebagai panggilan taubat dari dosa-dosa kolektif seperti korupsi lingkungan dan ketidakadilan sosial yang memperburuk dampak bencana.
Untuk mengatasi masalah ini secara logis dan berbasis teori pencegahan bencana yang established, kita harus mulai dari langkah-langkah sederhana yang empiris terbukti efektif. Yaitu: Pertama, perbaiki infrastruktur dengan membersihkan saluran air dan gorong-gorong secara rutin untuk mencegah penyumbatan sampah, sebagaimana direkomendasikan oleh pemerintah daerah dalam upaya mitigasi.
Kedua, lakukan reboisasi massal dengan menanam pohon besar yang dapat menyerap air hujan, sehingga mengurangi limpasan permukaan yang memicu banjir, sesuai dengan prinsip ekologi berkelanjutan.
Ketiga, bangun sumur resapan dan dam tampungan air di kawasan rawan, serta kembangkan sistem peringatan dini berbasis teknologi untuk evakuasi tepat waktu, yang telah terbukti menyelamatkan jiwa di wilayah seperti Klaten dan Wonogiri. (tentu ini tugas utama dari pemerintah kita, khususnya di Sumatera Utara dan Medan)
Keempat, hindari pembangunan liar di daerah resapan air dan normalisasi sungai untuk mengembalikan fungsi alamiahnya, sambil meningkatkan kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena hal ini adalah bentuk amal shaleh yang langsung berkontribusi pada pencegahan bencana.
Semua ini, jika dilakukan secara kolektif, akan mendatangkan berkah dari Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-A’raf ayat 96:
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ
Artinya: “Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami limpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.”
Jamaah Jumat yang Allah muliakan
Oleh karena itu, wahai saudara-saudaraku, ambillah pelajaran dari banjir ini: tingkatkan ketakwaan, jaga lingkungan sebagai amanah Allah, dan bantu sesama korban sebagai wujud solidaritas. Semoga Allah lindungi kita dari segala musibah dan ampuni dosa-dosa kita.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat yang Allah muliakan
Banjir dan longsir yang saat ini terjadi merupakan bagian dari peringatan Allah melalui alam atas penyebab seperti curah hujan ekstrem, penyumbatan sampah, dan alih fungsi lahan, yang semuanya akarnya dari perbuatan manusia.
Untuk mengatasinya, mari kita terapkan langkah empiris seperti reboisasi, pembersihan saluran, dan sistem peringatan dini, sambil bertaubat dan meningkatkan amal shaleh agar berkah turun. Jangan biarkan musibah berlalu tanpa hikmah; jadikan ini katalisator perubahan positif di masyarakat.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ أَجْمَعِيْنَ. اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْبَانْجِيرَ وَالْمَصَائِبَ. اللَّهُمَّ آمِنَّا فِيْ أَوْطَانِنَا وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

