Filosofi Pohon Bambu: Lentur Menghadapi Badai, Teguh Menjaga Ideologi
(Tulisan ke-64 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal, S.Si., M.Pd. – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Allah tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa hikmah. Setiap makhluk adalah ayat. Setiap pohon adalah pelajaran. Setiap hembusan angin membawa pesan bagi mereka yang mau berpikir. Di antara sekian banyak pohon yang tumbuh di bumi, bambu tampak sederhana. Ia tidak semegah jati. Tidak setinggi kelapa. Tidak pula semewah mahoni. Bahkan sering kali tumbuh liar di tepi sungai, lereng bukit, atau pelosok kampung tanpa banyak diperhatikan.
Namun justru dari kesederhanaannya itulah Allah menyimpan pelajaran yang luar biasa. Bambu mengajarkan kepada manusia bagaimana menjadi kuat tanpa harus keras, tinggi tanpa menjadi sombong, serta teguh tanpa kehilangan kelembutan. Bukankah itulah karakter yang dibutuhkan seorang kader Muhammadiyah?
Allah berfirman,
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)
Ayat ini mengajak kita membaca alam sebagai kitab terbuka. Alam bukan sekadar pemandangan, tetapi ruang belajar. Jika hati kita hidup, maka setiap ciptaan akan menjadi guru. Dan bambu adalah salah satunya.
Semakin Tinggi, Semakin Merunduk
Pernahkah kita memperhatikan rumpun bambu ketika diterpa angin? Ia tidak melawan. Ia mengikuti arah angin. Ia menunduk. Ia melentur. Namun setelah badai berlalu, ia kembali tegak berdiri. Di sinilah letak kebijaksanaan yang diajarkan Allah melalui bambu. Yang patah bukanlah yang lentur. Yang patah justru yang terlalu kaku. Dalam kehidupan organisasi, tidak sedikit kader yang merasa dirinya paling benar sehingga menolak mendengar pendapat orang lain. Ada pula yang mudah marah ketika dikritik. Sedikit berbeda pandangan, ukhuwah pun retak. Sedikit tidak memperoleh posisi, semangat perjuangan ikut hilang. Padahal kader yang matang bukanlah mereka yang selalu menang dalam perdebatan. Melainkan mereka yang mampu menjaga prinsip tanpa kehilangan akhlak.
Muhammadiyah sejak awal dibangun di atas budaya musyawarah, tarjih, dan ilmu. Perbedaan bukan alasan untuk bermusuhan, melainkan ruang untuk saling menyempurnakan. Lentur dalam cara. Teguh dalam prinsip. Santun dalam berdialog. Kokoh dalam akidah. Itulah bambu.
Kekuatan yang Lahir dari Kebersamaan
Tidak ada bambu yang tumbuh sendirian. Ia selalu hadir dalam rumpun. Akar-akarnya saling mengikat di dalam tanah. Ketika satu batang diterpa angin, batang-batang lain ikut menopang. Kekuatan bambu ternyata bukan hanya pada batangnya. Tetapi pada persaudaraannya. Bukankah ini gambaran jamaah? Muhammadiyah tidak dibangun oleh seorang tokoh. Persyarikatan ini hidup karena ribuan kader bekerja dalam diam. Guru-guru yang mengajar tanpa dikenal. Dokter yang melayani tanpa publisitas. Relawan bencana yang berangkat tanpa sorotan kamera. Pengurus ranting yang menghidupkan masjid tanpa pernah masuk berita.
Mereka seperti rumpun bambu. Mungkin satu batang tampak biasa. Tetapi ketika bersatu, mereka menjadi kekuatan besar yang mampu menjaga umat selama lebih dari satu abad.
Rasulullah ﷺ mengingatkan,
“Orang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan.”
Kaderisasi sejatinya bukan melahirkan bintang-bintang yang berjalan sendiri. Kaderisasi melahirkan hutan bambu yang saling menopang.
Bambu Mengajarkan Kesabaran
Ada fakta menarik tentang bambu. Pada tahun-tahun pertama setelah ditanam, pertumbuhannya hampir tidak terlihat. Bahkan banyak orang mengira bambu tidak berkembang. Padahal pada masa itu ia sedang membangun akar. Ia memperkuat fondasi. Ia mempersiapkan dirinya. Barulah setelah akar cukup kuat, bambu tumbuh sangat cepat.
Demikian pula kaderisasi. Sering kali hasil kaderisasi tidak tampak hari ini. Membina seorang kader membutuhkan waktu bertahun-tahun. Mungkin belasan tahun. Mungkin puluhan tahun. Karena Muhammadiyah tidak sedang mencetak kader untuk lima tahun ke depan. Muhammadiyah sedang membangun peradaban. Dan peradaban tidak pernah lahir secara instan. KH. Ahmad Dahlan memulai semuanya dengan pengajian kecil. Namun dari pengajian itulah lahir sekolah, rumah sakit, universitas, panti asuhan, hingga gerakan dakwah yang kini menjangkau berbagai penjuru dunia. Semua yang besar selalu diawali oleh akar yang kuat.
Rongga yang Mengajarkan Kerendahan Hati
Ada satu keunikan bambu yang jarang diperhatikan. Batangnya berongga. Kosong di bagian dalam. Seolah-olah Allah ingin mengingatkan manusia bahwa semakin tinggi seseorang, semakin banyak ruang yang harus ia sediakan untuk menerima ilmu, nasihat, dan hikmah. Batang yang penuh tidak mampu diisi. Hati yang penuh kesombongan juga sulit menerima kebenaran. Karena itu Imam Syafi’i pernah mengingatkan bahwa ilmu tidak akan menetap pada hati yang dipenuhi kesombongan. Seorang kader Muhammadiyah harus tetap menjadi pembelajar. Jabatan tidak boleh menghentikan proses belajar. Usia tidak boleh menghentikan rasa ingin tahu. Semakin tinggi amanah, semakin rendah hati. Semakin luas ilmu, semakin lembut akhlaknya.
Jangan Menjadi Bambu yang Kosong Makna
Namun bambu juga mengingatkan kita akan sebuah bahaya. Batang yang kosong dapat mengeluarkan bunyi paling nyaring ketika dipukul. Begitulah manusia. Kadang yang paling banyak berbicara justru paling sedikit berkarya. Paling keras mengkritik, tetapi paling sedikit berkontribusi. Paling sering menilai orang lain, tetapi lupa membangun dirinya sendiri.
Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang hanya pandai berbicara. Muhammadiyah membutuhkan kader yang bekerja. Yang menghidupkan masjid. Menggerakkan pengajian. Membina generasi muda. Mengajar. Meneliti. Menulis.Malayani masyarakat. Karena sejarah tidak pernah diubah oleh mereka yang hanya berdiskusi. Sejarah diubah oleh mereka yang bekerja dalam senyap.
Menjadi Rumpun yang Meneduhkan
Suatu hari nanti, jabatan akan berakhir. Nama kita mungkin terlupakan. Tetapi nilai-nilai yang kita tanam dalam kader-kader muda akan terus tumbuh, sebagaimana rumpun bambu yang terus melahirkan rebung-rebung baru. Barangkali inilah pelajaran terbesar dari bambu. Ia tidak mengejar menjadi pohon paling megah. Ia hanya terus bertumbuh. Terus menguatkan sesamanya. Terus memberi manfaat. Dan tetap tegak meski berkali-kali diterpa badai. Muhammadiyah membutuhkan kader-kader seperti bambu.
Rendah hati, tetapi tidak rendah diri. Lentur menghadapi perubahan zaman, tetapi tidak pernah melenturkan akidah. Mampu berdialog dengan siapa saja, tetapi tetap teguh menjaga manhaj. Berjalan bersama dalam jamaah, bukan sibuk meninggikan diri. Karena sesungguhnya kader yang hebat bukanlah mereka yang paling tinggi berdiri. Melainkan mereka yang paling banyak menguatkan orang lain untuk tetap berdiri. Itulah filosofi bambu.
Lentur menghadapi badai. Kokoh menjaga prinsip. Rendah hati dalam perjuangan. Dan terus bertumbuh demi menghadirkan Islam yang berkemajuan.
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.

