Tolak Inisiasi Kongres AS, HNW Desak Dunia Islam Selamatkan Al Aqsa dari Ancaman Israel
INFOMU.CO | Jakarta – Gencatan senjata yang diteken Hamas dengan Israel benar-benar tidak berarti. Serangan Israel ke Gaza dan Tepi Barat tetap intens. Otoritas Palestina bahkan mengungkap data sejak gencatan senjata diteken, lebih 200 orang warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat meningggal akibat serangan Israel.
Kuat dugaan bahwa gencatan senjata hanya dalih untuk fokus menyusun dan memperkuat dukungan politik Israel di Amerika Serikat (AS). Saat ini terus mengemuka rencana sejumlah anggota Kongres AS untuk menyetujui resolusi pemberian hak kepada Israel atas Masjid Al Aqsa di Yerusalem.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Hidayat Nur Wahid, mengecam berlanjutnya agresi militer Israel ke Gaza dan Tepi Barat dan menolak keras upaya anggota Kongres AS.
Hidayat menyebut langkah tersebut sebagai tindakan provokatif yang berpotensi memperburuk situasi di Timur Tengah dan mengancam eksistensi Masjid Al Aqsa sebagai situs suci umat Islam. Ia menyerukan kepada Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan seluruh negara anggotanya untuk segera bersatu dan mengambil langkah tegas menolak rencana pencaplokan tersebut.
“Ini adalah persoalan serius yang harus ditanggapi dengan sangat serius oleh OKI dan masyarakat dunia Islam,” ujar Hidayat dalam siaran pers yang dirilis Sabtu (1/11/2025).
Ia menegaskan bahwa Masjid Al Aqsa bukan hanya kiblat pertama umat Islam, tetapi juga telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya milik umat Islam sejak Oktober 2016. Menurut dia, inisiatif segelintir anggota Kongres AS tersebut tidak demokratis dan mengabaikan sejarah. Tak heran bila Council on American-Islamic Relations (CAIR) menyebut langkah tersebut sebagai aksi berbahaya dan dapat memicu kemarahan besar umat Islam di seluruh dunia.
“Upaya provokatif ini tidak hanya mengganggu stabilitas kawasan, tetapi juga berpotensi merusak hubungan Amerika Serikat dengan masyarakat Islam global,” katanya.
Hidayat juga menyoroti bahaya fisik yang mengancam Masjid Al Aqsa akibat penggalian terowongan oleh Israel di bawah dan sekitar kompleks masjid. Ia mengutip peringatan Ma’rouf al Rifa’i, Penasehat Gubernur Yerusalem, yang menyebut kondisi tersebut sebagai ancaman nyata terhadap kelestarian situs suci tersebut.
Dalam konteks diplomasi, Hidayat berharap Pemerintah Indonesia dapat mengambil peran aktif, termasuk memanfaatkan hubungan baik antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Ia menyarankan agar Prabowo mengkomunikasikan isu ini secara langsung kepada Trump, bahkan mendorong penggunaan hak veto jika resolusi tersebut terus bergulir di Kongres AS.
“Presiden Trump telah beberapa kali memuji Presiden Prabowo, termasuk atas upaya perdamaian di Gaza. Hubungan baik ini bisa dimanfaatkan untuk mencegah rencana pencaplokan Masjid Al Aqsa,” ujarnya.
Hidayat juga mendesak agar negara-negara Islam yang tergabung dalam OKI serta negara-negara yang telah mengakui kemerdekaan Palestina mengambil langkah konkret dan terukur. Ia mengingatkan kembali tujuan pendirian OKI pada 1969 di Maroko, yakni sebagai respons atas pembakaran Masjid Al Aqsa oleh ekstremis Israel.
“OKI harus kembali kepada semangat awal pendiriannya: membela dan menyelamatkan Masjid Al Aqsa dari ancaman yang kini semakin nyata, baik dari sisi fisik maupun politik,” pungkasnya. (jakartamu)

