TAKDIR, Ketika Allah Memilihkan Jalan yang Tidak Kita Pilih
(Tulisan ke-77 dari Beberapa Tulisan Bertama Kaderisasi)
Oleh : Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumatera Utara / Dosen Universitas Negeri Medan
Ada masa ketika seorang kader merasa hidup begitu berat.
Ia sudah berusaha, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Ia sudah berbuat baik, tetapi justru disalahpahami. Ia sudah mengabdi, tetapi tidak dihargai. Ia sudah berjuang untuk persyarikatan, tetapi namanya dilupakan. Ia pernah berharap mendapat amanah tertentu, tetapi justru orang lain yang dipilih. Ia pernah berharap berada di sebuah tempat, tetapi Allah memindahkannya ke tempat yang sama sekali tidak ia inginkan.
Ada pula kader yang sedang menghadapi persoalan keluarga, ekonomi, pekerjaan, kesehatan, masa depan anak-anak, atau pergulatan batin yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Di depan jamaah ia tersenyum.
Di ruang rapat ia tetap berbicara.
Dalam dakwah ia tetap berdiri.
Dalam kaderisasi ia tetap memberi semangat.
Tetapi ketika malam tiba dan semua orang telah tidur, ia bertanya kepada dirinya sendiri:
“Sampai kapan aku harus menjalani semua ini?”
Barangkali itulah salah satu wajah kehidupan seorang kader: tetap berjalan meskipun hati sedang lelah.
Namun di titik itulah iman kepada takdir menemukan maknanya.
Tidak Semua yang Kita Inginkan adalah yang Terbaik
Manusia memiliki keinginan. Allah memiliki ketetapan.
Kita sering mengira bahwa kebahagiaan akan datang apabila apa yang kita inginkan terwujud. Padahal Allah mengingatkan:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini seharusnya menjadi salah satu ayat yang paling sering kita renungkan ketika kehidupan tidak berjalan sesuai rencana.
Kita hanya melihat satu halaman.
Allah mengetahui seluruh buku.
Kita melihat hari ini.
Allah mengetahui hari esok.
Kita melihat kegagalan.
Allah mungkin sedang melihat jalan keselamatan.
Kita melihat kehilangan.
Allah mungkin sedang menyiapkan pengganti yang lebih baik.
Kita melihat pintu yang tertutup.
Allah mungkin sedang mengarahkan kita menuju pintu yang belum kita lihat.
Karena itu, tidak semua yang tertunda adalah penolakan Allah. Tidak semua yang gagal adalah keburukan. Tidak semua yang hilang adalah kerugian.
Kadang-kadang Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang belum mampu kita pahami.
Takdir Bukan Alasan untuk Berhenti Berikhtiar
Tetapi memahami takdir bukan berarti menjadi manusia yang pasif.
Seorang kader Muhammadiyah tidak boleh menggunakan takdir untuk membenarkan kemalasan.
“Saya tidak berhasil karena memang sudah takdir.”
“Saya tidak berkembang karena memang bukan rezeki saya.”
“Saya tidak perlu berjuang karena semuanya sudah ditentukan Allah.”
Bukan demikian.
Takdir harus melahirkan ketenangan setelah ikhtiar, bukan kemalasan sebelum ikhtiar.
Kita diperintahkan berusaha. Setelah itu, hasilnya kita serahkan kepada Allah.
Di sinilah seorang kader belajar membedakan dua hal:
ikhtiar adalah wilayah tanggung jawab kita; hasil adalah wilayah kekuasaan Allah.
Kita wajib bekerja keras, tetapi tidak boleh menyembah hasil.
Kita wajib berjuang, tetapi tidak boleh menggantungkan harga diri pada kemenangan.
Kita wajib berdakwah, tetapi tidak boleh menganggap hidayah berada di tangan kita.
Kita wajib berbuat baik, tetapi tidak boleh menjadikan penghargaan manusia sebagai tujuan.
Karena kader sejati bukan orang yang selalu menang.
Kader sejati adalah orang yang tetap berada di jalan kebenaran ketika kemenangan belum datang.
Rasulullah Mengajarkan: Semua Keadaan Orang Beriman Itu Baik
Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kalimat yang sangat dalam:
“Sungguh menakjubkan urusan orang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang beriman. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, ia bersabar, maka itu juga baik baginya.”
(HR. Muslim No. 2999)
Perhatikan.
Rasulullah tidak mengatakan kehidupan orang beriman selalu mudah.
Tidak.
Ada kesenangan dan ada kesusahan.
Ada kemenangan dan ada kekalahan.
Ada kelapangan dan ada kesempitan.
Ada pujian dan ada celaan.
Ada penerimaan dan ada penolakan.
Yang membuat semuanya menjadi baik bukan karena keadaannya selalu menyenangkan, tetapi karena sikap imannya terhadap keadaan tersebut.
Ketika lapang, ia bersyukur.
Ketika sempit, ia bersabar.
Ketika berhasil, ia tidak sombong.
Ketika gagal, ia tidak putus asa.
Ketika dipuji, ia tidak mabuk pujian.
Ketika dicela, ia tidak kehilangan arah.
Inilah kematangan seorang kader.
Belajar dari Nabi Ya’qub: Sedih Tidak Berarti Tidak Beriman
Kadang kita keliru memahami kesabaran.
Seolah-olah orang yang sabar tidak boleh menangis.
Seolah-olah orang beriman tidak boleh kecewa.
Seolah-olah kader dakwah harus selalu kuat.
Padahal Nabi Ya’qub adalah seorang nabi. Ia kehilangan Yusuf, anak yang sangat dicintainya. Kesedihannya begitu dalam hingga matanya memutih karena banyak menangis.
Tetapi dalam kesedihan itu ia berkata:
“Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah.”
(QS. Yusuf: 86)
Betapa indahnya.
Nabi Ya’qub tidak mengingkari kesedihan.
Ia hanya memastikan bahwa kesedihannya memiliki tempat kembali: Allah.
Maka jika hari ini seorang kader sedang menangis, jangan merasa imannya gagal.
Menangislah.
Tetapi jangan menyerah.
Sedihlah.
Tetapi jangan berputus asa.
Kecewalah.
Tetapi jangan berburuk sangka kepada Allah.
Sampaikan semua kepada-Nya.
Karena ada kesedihan yang justru membuat seorang hamba semakin dekat dengan Rabb-nya.
Belajar dari Nabi Ayyub: Bertahan Ketika Ujian Terasa Panjang
Nabi Ayyub juga mengajarkan sesuatu yang luar biasa tentang takdir.
Ia diuji dengan penderitaan yang panjang. Namun ia tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk meninggalkan Allah.
Dalam doanya ia berkata:
“Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, sedangkan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
(QS. Al-Anbiya: 83)
Perhatikan cara Nabi Ayyub berdoa.
Ia menyebut penderitaannya, tetapi ia tetap menyebut kasih sayang Allah.
Ia mengakui sakitnya, tetapi tidak kehilangan keyakinannya.
Ia merasakan beratnya ujian, tetapi tidak menuduh Allah tidak adil.
Inilah iman yang matang: mampu mengakui beratnya kehidupan tanpa kehilangan kepercayaan kepada Allah.
Seorang Kader Tidak Selalu Mendapat Jalan yang Mudah
Ada kader yang sejak muda aktif di organisasi.
Mengikuti pengajian.
Masuk perkaderan.
Menjadi instruktur.
Menjadi pimpinan.
Mengurus ranting.
Mengurus cabang.
Mengurus daerah.
Bahkan sampai wilayah dan pusat.
Tetapi perjalanan itu tidak selalu indah.
Ada yang dicurigai.
Ada yang difitnah.
Ada yang ditinggalkan kawan.
Ada yang tidak mendapatkan jabatan yang diharapkan.
Ada yang sudah bekerja bertahun-tahun tetapi namanya tidak pernah disebut.
Ada yang melihat orang yang dahulu dibinanya justru melampauinya dalam struktur.
Ada yang pernah berada di puncak kemudian kembali ke bawah.
Dan ada yang akhirnya bertanya:
“Apakah semua pengorbananku selama ini sia-sia?”
Jawabannya: tidak.
Jika pengabdian itu dilakukan karena Allah, tidak ada yang sia-sia.
Mungkin manusia tidak mencatatnya.
Tetapi Allah tidak pernah lupa.
Mungkin organisasi tidak memberikan penghargaan.
Tetapi Allah mengetahui setiap langkah.
Mungkin nama kita tidak masuk dalam sejarah.
Tetapi boleh jadi doa kita masuk dalam keberkahan sejarah itu.
Bukankah dakwah memang bukan tentang siapa yang paling dikenal?
Dakwah adalah tentang siapa yang paling tulus menghidupkan kebaikan.
- Ahmad Dahlan: Sabar dalam Jalan yang Tidak Mudah
Perjalanan KH. Ahmad Dahlan sendiri bukan perjalanan tanpa penolakan.
Gagasan pembaruan yang dibawanya tidak langsung diterima semua orang. Bahkan menurut penuturan Haedar Nashir, pada masa Ahmad Dahlan, masjid pernah dibakar, gagasan tentang arah kiblat ditentang, dan sekolah Muhammadiyah pernah dicap dengan tuduhan yang keras. Namun Ahmad Dahlan menghadapinya dengan kesabaran.
Bayangkan jika saat itu Ahmad Dahlan memilih berhenti.
Mungkin sejarah Muhammadiyah akan berbeda.
Ia bisa saja berkata:
“Masyarakat belum siap.”
“Terlalu banyak yang menentang.”
“Saya sudah lelah.”
Tetapi ia tidak memilih jalan itu.
Ia terus bergerak.
Terus mendidik.
Terus berdakwah.
Terus beramal.
Terus menanam.
Karena ia tidak sedang bekerja untuk mendapatkan tepuk tangan manusia.
Ia sedang memenuhi panggilan Allah.
Inilah pelajaran besar bagi kader Muhammadiyah hari ini:
Jangan mengukur keberhasilan dakwah hanya dari seberapa cepat orang menerima perjuangan kita.
Ada benih yang baru tumbuh setelah puluhan tahun.
Ada gagasan yang baru dipahami setelah generasi berganti.
Ada amal yang baru terasa manfaatnya setelah kita tidak lagi berada di dalamnya.
Karena tugas kita adalah menanam.
Allah yang menentukan kapan ia tumbuh.
Haedar Nashir: Besar Dimulai dari Kecil
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir pernah mengingatkan bahwa Muhammadiyah tumbuh melalui pengkhidmatan, kerja keras, dan kerelawanan. Ia mengatakan:
“Besar dimulai dari kecil, tinggi dimulai dari rendah, perjalanan panjang dimulai dari titik nol. Tidak ada yang instan.”
Kalimat ini sangat relevan dengan perjalanan seorang kader.
Jangan terlalu cepat kecewa ketika belum menjadi siapa-siapa.
Jangan merasa gagal hanya karena belum mendapatkan posisi.
Jangan menganggap diri tidak berguna hanya karena belum dipercaya memimpin.
Sebab dalam dakwah, Allah tidak selalu menilai posisi kita. Allah menilai kesetiaan kita.
Bisa jadi seseorang tidak pernah menjadi ketua, tetapi hidupnya melahirkan puluhan kader.
Bisa jadi seseorang tidak pernah namanya terpampang di spanduk, tetapi ia bertahun-tahun menghidupkan pengajian.
Bisa jadi seseorang tidak pernah mendapatkan jabatan strategis, tetapi ia menjadi orang yang selalu hadir ketika organisasi membutuhkan.
Dan mungkin justru merekalah kader-kader yang sesungguhnya sedang menulis sejarah.
Jangan Bandingkan Takdirmu dengan Takdir Orang Lain
Salah satu sumber kelelahan terbesar manusia adalah membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain.
Mengapa dia lebih cepat?
Mengapa dia lebih berhasil?
Mengapa dia dipercaya?
Mengapa dia mendapatkan jabatan?
Mengapa usahanya maju?
Mengapa anak-anaknya berhasil?
Mengapa saya masih begini?
Padahal kita tidak pernah tahu seluruh cerita hidup orang lain.
Kita hanya melihat hasilnya.
Tidak melihat air matanya.
Kita melihat pencapaiannya.
Tidak melihat pengorbanannya.
Kita melihat panggungnya.
Tidak melihat kesepiannya.
Dan yang paling penting: Allah memang tidak menciptakan setiap manusia dengan jalan yang sama.
Jangan memaksa takdir kita menyerupai takdir orang lain.
Allah mempunyai jalan masing-masing untuk setiap hamba.
Ada yang cepat.
Ada yang lambat.
Ada yang naik melalui pintu depan.
Ada yang tumbuh melalui lorong panjang.
Ada yang dikenal banyak orang.
Ada yang hanya dikenal oleh lingkaran kecil.
Tetapi semuanya dapat menjadi jalan menuju ridha Allah.
Menerima Takdir Bukan Berarti Menyukai Semua Keadaan
Ini penting.
Menerima takdir bukan berarti kita harus mengatakan bahwa semua penderitaan itu menyenangkan.
Tidak.
Kita boleh tidak suka terhadap kesulitan.
Kita boleh berharap keadaan berubah.
Kita boleh menangis.
Kita boleh berdoa agar Allah memberikan jalan keluar.
Yang tidak boleh adalah kehilangan Allah ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan.
Ridha kepada takdir bukan berarti tidak merasakan sakit. Ridha berarti tetap percaya kepada Allah di tengah rasa sakit.
Itulah bedanya.
Kita mungkin belum memahami mengapa sesuatu terjadi.
Tetapi kita percaya bahwa Allah tidak pernah salah.
Kita belum melihat hikmahnya.
Tetapi kita percaya bahwa Allah Mahabijaksana.
Kita belum menemukan jalan keluarnya.
Tetapi kita percaya bahwa Allah Mahakuasa.
Dan keyakinan itulah yang membuat seorang kader mampu berkata:
“Ya Allah, aku belum memahami rencana-Mu. Tetapi aku percaya kepada-Mu.”
Ketika Dakwah Terasa Berat
Wahai kader Muhammadiyah.
Jika hari ini dakwah terasa berat, jangan buru-buru pulang.
Jika perjuangan terasa melelahkan, istirahatlah sejenak, tetapi jangan meninggalkan jalan.
Jika ada orang yang tidak menghargai pengabdianmu, jangan berhenti berbuat baik.
Jika ada yang salah memahami niatmu, serahkan penilaian kepada Allah.
Jika engkau belum mendapatkan amanah yang engkau harapkan, jangan berhenti belajar.
Jika amanah yang datang justru berat, jalani dengan sungguh-sungguh.
Jika engkau berada di bawah, jangan merasa hina.
Jika engkau berada di atas, jangan merasa tinggi.
Karena jabatan dalam Muhammadiyah hanyalah persinggahan.
Yang tinggal adalah amal.
Yang akan dibawa pulang bukan SK pimpinan.
Bukan jabatan.
Bukan popularitas.
Bukan jumlah pengikut.
Tetapi iman, amal saleh, ilmu yang bermanfaat, dan jejak kebaikan.
Mungkin Allah Sedang Menempamu
Boleh jadi kegagalanmu hari ini adalah sekolahmu.
Boleh jadi penolakanmu adalah latihan kedewasaanmu.
Boleh jadi kesendirianmu adalah ruang Allah untuk mendekatkanmu kepada-Nya.
Boleh jadi kehilanganmu sedang mengajarkanmu tentang arti memiliki.
Boleh jadi keterlambatanmu sedang menyelamatkanmu dari kesombongan.
Boleh jadi tidak terpilihnya dirimu sedang menjaga hatimu dari penyakit kekuasaan.
Boleh jadi Allah belum memberikan apa yang engkau minta karena Dia sedang menyiapkan dirimu agar mampu memikul apa yang kelak diberikan.
Kita sering meminta:
“Ya Allah, berikan aku amanah.”
Tetapi Allah mungkin menjawab:
“Bersabarlah, Aku sedang mempersiapkanmu.”
Kita meminta:
“Ya Allah, bukakan jalan.”
Allah mungkin menjawab dengan menutup jalan yang salah.
Kita meminta:
“Ya Allah, berikan kemenangan.”
Allah mungkin memberikan latihan berupa kekalahan agar kita belajar rendah hati.
Begitulah cara Allah mendidik hamba-Nya.
Tetaplah Optimis
Iman kepada takdir bukan iman yang membuat kita pasrah tanpa daya.
Sebaliknya, iman kepada takdir seharusnya membuat kita berani menjalani hidup.
Karena kita tahu bahwa hasil akhir berada dalam kekuasaan Allah.
Maka bekerja keraslah.
Belajarlah.
Berjuanglah.
Berdakwahlah.
Bangun Muhammadiyah.
Didik kader.
Rawat keluarga.
Besarkan anak-anak.
Jaga kesehatan.
Perbaiki ekonomi.
Perkuat ilmu.
Perbanyak amal.
Dan setelah semuanya dilakukan, serahkan hasilnya kepada Allah.
Jangan biarkan ketidakpastian masa depan mencuri ketenangan hari ini.
Allah berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan.
Ia adalah energi perjuangan.
Seorang kader boleh jatuh.
Tetapi tidak boleh kehilangan harapan.
Boleh kecewa.
Tetapi tidak boleh putus asa.
Boleh menangis.
Tetapi setelah itu harus bangkit.
Boleh lelah.
Tetapi jangan kehilangan arah.
Allah Tidak Pernah Mengecewakanmu
Pada akhirnya kita akan sampai pada sebuah kesadaran:
Allah tidak pernah mengecewakan kita.
Yang sering mengecewakan kita adalah harapan kita sendiri.
Kita berharap manusia akan memahami kita.
Ternyata tidak.
Kita berharap organisasi akan menghargai kita.
Ternyata tidak.
Kita berharap perjalanan hidup berjalan seperti yang kita rancang.
Ternyata tidak.
Kita berharap doa segera dikabulkan.
Ternyata Allah memilih waktu yang berbeda.
Lalu kita merasa Allah mengecewakan kita.
Padahal mungkin bukan Allah yang mengecewakan.
Kitalah yang terlalu cepat menyimpulkan bahwa apa yang kita inginkan pasti yang terbaik.
Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.
Allah melihat apa yang tidak kita lihat.
Allah mengetahui masa depan ketika kita hanya mengenal hari ini.
Maka tetaplah percaya.
Jika hari ini Allah menempatkanmu di tempat yang tidak engkau inginkan, jalani dengan sebaik-baiknya.
Jika Allah memberimu amanah yang berat, tunaikan dengan sekuat tenaga.
Jika Allah mengambil sesuatu darimu, bersabarlah.
Jika Allah menunda sesuatu, tunggulah dengan doa.
Jika Allah menutup sebuah pintu, jangan habiskan seluruh hidupmu dengan mengetuk pintu yang sama.
Mungkin Allah sedang mengajakmu berjalan menuju pintu yang lain.
Dan jika suatu hari engkau melihat kembali perjalanan hidupmu, mungkin engkau akan tersenyum sambil berkata:
“Oh, ternyata ini alasan Allah dulu membuatku menunggu.”
“Ternyata ini hikmah dari kegagalanku.”
“Ternyata kehilangan itu menyelamatkanku.”
“Ternyata jalan yang dulu tidak kusukai justru mengantarkanku kepada kebaikan.”
Sebab manusia sering baru memahami takdir setelah melewatinya.
Untuk Kader yang Sedang Bertahan
Maka, kepada kader yang hari ini sedang berada dalam masa sulit:
Bertahanlah.
Bukan karena engkau kuat.
Tetapi karena Allah tempatmu meminta kekuatan.
Bersabarlah.
Bukan karena masalahmu kecil.
Tetapi karena pahala kesabaranmu tidak kecil di hadapan Allah.
Tetaplah berdakwah.
Bukan karena semua orang akan menghargaimu.
Tetapi karena Allah mengetahui setiap pengabdianmu.
Tetaplah berbuat baik.
Bukan karena manusia selalu membalas kebaikan.
Tetapi karena Allah tidak pernah menyia-nyiakan amal orang yang berbuat baik.
Dan ketika langkahmu mulai berat, ingatlah:
Takdir Allah tidak pernah salah alamat.
Apa yang menjadi milikmu tidak akan tertukar.
Apa yang bukan untukmu tidak akan pernah menjadi milikmu, sekeras apa pun engkau mengejarnya.
Maka lakukan bagianmu dengan sungguh-sungguh.
Berikhtiar sebaik mungkin.
Berdoa sebanyak mungkin.
Bersabar sepanjang mungkin.
Lalu percayakan sisanya kepada Allah.
Sebab boleh jadi hari ini engkau sedang bertanya:
“Mengapa Allah memberikan jalan seperti ini kepadaku?”
Namun suatu hari nanti, dengan mata yang berkaca-kaca dan hati yang penuh syukur, engkau akan berkata:
“Alhamdulillah, ternyata takdir Allah jauh lebih baik daripada keinginanku.”
Dan saat itu engkau akan memahami satu hal:
Tidak semua yang Allah berikan terasa indah ketika pertama kali datang. Tetapi jika kita menjalaninya dengan iman, kesabaran, ikhtiar, dan tawakal, Allah dapat mengubah luka menjadi hikmah, kegagalan menjadi pelajaran, kehilangan menjadi kedewasaan, dan perjuangan menjadi jalan menuju kemuliaan.
Maka jangan menyerah, wahai kader.
Tetaplah berjalan.
Karena engkau tidak sedang berjalan sendirian.
Engkau berjalan bersama takdir Allah.
Dan selama Allah masih menggenggam hidupmu, selalu ada alasan untuk berharap.

