• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Kolom Adam Chairivo : Menjadi Islami di Era Disrupsi

Adam Chairivo

Sudut Pandang Buto Ijo Dalam Cerita Rakyat “Timun Mas”

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
1 Januari 2026
in Opini
0

Sudut Pandang Buto Ijo Dalam Cerita Rakyat “Timun Mas”

Oleh Adam Chairivo

 

Pasti kita sudah sering mendengar ataupun sekilas mengetahui dongeng yang berasal dari Jawa Tengah yaitu Timun Mas. Kisah ini cukup populer ketika saya masih kecil dulu. Dongengnya tak hanya ada di buku cerita anak – anak, atau didongengi ibu saat hendak tertidur nyenyak, tapi juga muncul di layar kaca Indonesia. Hal itu yang membuat kisah legenda Timun Mas menjadi sangat dikenal oleh banyak kalangan.

Timun Mas adalah sosok yang digambarkan protagonis karena menjadi karakter utama dalam cerita, namun pokok pembahasan dalam tulisan ini bukanlah kisah heroik Timun Mas yang berhasil kabur dari kejar – kejaran dengan Buto Ijo (tokoh antagonis dalam cerita legenda Timun Mas). Tulisan ini bertujuan untuk membuka pandangan baru dari persfektif Buto Ijo yang sebetulnya tidak jahat, tapi Ibu Timun Maslah yang tidak tahu diri.

 

KISAH TIMUN MAS DAN BUTO IJO

Dalam kisahnya ibu Timun Mas adalah wanita yang hidup sebatang kara yang sedang membutuhkan seseorang untuk membantu pekerjaan hariannya. Lalu datanglah Buto Ijo menawarkan jasa mengatasi masalah Ibu Timun Mas itu. Buto Ijo ingin membantu mewujudkan keinginan Ibu Timun Mas untuk memiliki anak. Kebaikan Buto Ijo tidaklah cuma – cuma, melainkan ada syarat dimana ketika anak tersebut berusia 17 tahun Ibu Timun Mas harus mengembalikan anak itu kepada Buto Ijo. Ibu Timun Mas akhirnya menyetujui tawaran dari Buto Ijo itu tadi, dan Buto Ijo memberikan bibit mentimun kepada Ibu Timun Mas. Tanpa pikir panjang Ibu Timun Mas akhirnya menanam bibit mentimun itu, hanya dalam waktu dua minggu saja akhirnya bibit itu berbuah, dan ketika dibelah isinya adalah bayi mungil yang akhirnya diberi nama Timun Mas.

Seiring berjalannya waktu akhirnya Timun Mas beranjak remaja. Waktu saya nonton di televisi dulu Buto Ijo datang ke rumah Timun Mas dan ibunya ketika Timun Mas belum memasuki usia 17 tahun alias belum deadlinenya. Ibu Timun Mas panik dan akhirnya pergi ke gunung untuk menemui Petapa Tua untuk meminta bantuan melawan Buto Ijo yang hendak mengambil dan menyantap Timun Mas. Petapa tua akhirnya memberikan empat bungkusan kecil yang akan membantu Timun Mas melawan Buto Ijo.

Setelah Timun Mas memasuki usia 17 tahun akhirnya datanglah Buto Ijo untuk mengambil Timun Mas. Namun, Ibu Timun Mas berusaha untuk menggagalkan rencana tersebut demi tidak kehilangan Timun Mas yang dicintainya. Ibu Timun Mas berdalih bahwa Timun Mas masih terlalu muda untuk disantap. Buto Ijo mahfum dan memberikan kesempatan bagi mereka. Waktu terus berjalan dan Buto Ijo Kembali datang untuk menagih janji kepada  Ibu Timun Mas. Ibu Timun Mas pun mengelak dan menyuruh Timun Mas lari untuk mengecoh Buto Ijo dan mengalahkan Buto Ijo dengan jimat – jimat dari petapa tua. Pada akhirnya Buto Ijo kalah dan dianggap sebagai sosok yang jahat karena ingin memakan Timun Mas.

BUTO IJO ADALAH KORBAN PLAYING VICTIM

            Dari kisah di atas bagi sebagian orang, Buto Ijo adalah sosok yang jahat karena ingin mengambil Timun Mas dari ibunya. Namun Buto Ijo sebenarnya tidak sejahat itu tapi Ibu Timun Maslah yang tidak tahu diuntung serta berlagak menjadi korban atau bahasa anak sekarang playing victim. Ibu Timun Mas seolah – olah menjadi korban pada kasus ini sedangkan korban yang sebenarnya adalah Buto Ijo. Bagaimana bisa seseorang yang sebenarnya datang untuk mengambil haknya malah tidak diperbolehkan bahkan dibuat celaka oleh orang yang dibantunya. Buto Ijo hanya ingin menagih janji dari Ibu Timun Mas, hanya itu saja.

Kisah dongeng ini tanpa disadari sangat relevan dengan kehidupan di era sekarang. Banyak sekali orang yang bersifat seperti Ibu Timun Mas yang merasa bahwa sesuatu yang dipinjamkan padanya itu menjadi miliknya. Padahal jelas bahwa itu adalah sesuatu yang dipinjamkan dan memiliki syarat tertentu bukan diberikan secara gratis atau percuma. Contoh kasus di era sekarang adalah saat seseorang diberikan pinjaman kepada orang lain berupa uang atau barang, pasti si peminjam (bisa jadi pihak Bank, Pinjol, atau secara pribadi) akan memberikan syarat dan ketentuan bagi orang yang dipinjamkan untuk memberikan kepastian kapan pinjaman itu akan dikembalikan. Namun pada dasarnya orang yang dipinjami ini lupa diri dengan tidak bertanggungjawab atas janji yang sudah mereka sepakati. Tak sedikit dari banyaknya kasus, si peminjam pada akhirnya menjadi bulan – bulanan orang yang dipinjaminya dengan mendapatkan makian, teriakan, kekerasan dan dikatai tidak punya hati karena ingin mengambil hak yang sebetulnya milik si peminjam itu tadi.

Buto Ijo hanya meminjamkan Timun Mas kepada ibu Timun Mas namun Ibu Timun Mas lupa diri bahwa Timun Mas itu bukanlah miliknya melainkan sudah sedari awal milik Buto Ijo. Mau diapapun Timun Mas oleh Buto Ijo itu adalah hak Buto Ijo karena dialah sang pemilik Timun Mas sesungguhnya. Sial betul Buto Ijo, hendak mengambil apa yang dia punya malah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan oleh orang yang dipinjaminya.

BAGAIMANA DONGENG TIMUN MAS MEMPENGARUHI TUMBUH KEMBANG ANAK?

            Dongeng menjadi hal lumrah yang kerap kali digunakan sebagai sarana pembelajaran secara tidak langsung kepada anak – anak Indonesia, karena ceritanya yang menghibur dan syarat akan makna pembelajaran di dalamnya. Manfaat dongeng juga banyak, seperti membantu dalam penanaman nilai dan pengembangan moral, melatih empati, menumbuhkan kerativitas, imajinasi dan lain sebagainya. Namun tidak semua dongeng dapat ditelan mentah – mentah. Ada beberapa dongeng yang butuh pendampingan orang tua agar anak tidak salah tangkap terhadap cerita yang sedang didengarnya, dilihatnya ataupun dibacanya.

Dongeng Timun Mas adalah salah satu contoh dari sekian banyak dongeng di Indonesia yang membutuhkan pendampingan orang tua. Jika secara sekilas dongeng ini akan membawa kita kepada perjuangan Timun Mas dan ibunya untuk dapat terlepas dari Buto Ijo yang kejam, melalui strategi dan kerja keras Timun Mas melawan Buto Ijo. Namun di sisi lain, harusnya cerita ini menjadi sarana untuk memberikan informasi bahwa kita tidak boleh melupakan janji dan tanggung jawab kita terhadap sesuatu. Seperti membayar utang, tidak lari dari masalah atau harus menjadi orang yang bertanggung jawab. Dalam kisah dongeng Timun Mas peran Ibu Timun Mas hanya seperti oknum masyarkat di Indonesia yang ingin melepaskan diri dari tanggung jawabnya terhadap utang piutang, lari dari masalah dan enggan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia janjikan. Mungkin dongeng inilah yang menjadi cikal bakal menjamurnya rasa tidak bertanggung jawab dan tidak ada rasa kepedulian terhadap utang dan hak kewajiban orang lain yang ada diri mereka. Dongeng yang diceritakan sedari kecil terdoktrinisasi hingga dewasa sehingga berdampak pada persepsi bahwa orang yang meminta haknya kembali adalah orang yang jahat dan harus segera dihindari bahkan dihabisi.

Maka dari itu, dongeng Timun Mas adalah dongeng yang pelajaran hidupnya bukan terletak pada perjuangan melawan Buto Ijo, namun pelajaran moral yang bisa diambil adalah jangan contoh Ibu Timun Mas yang keluar dari masalah dan tidak bertanggung jawab. Mungkin Buto Ijo tidak ingin ibu Timun Mas masuk ke dalam neraka karena tidak membayar utangnya kepada Buto Ijo, jadi Buto Ijo menagihnya.

Hanya Tuhan yang tahu, Rest In Peace Buto Ijo.

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: adam chairivobutu ijoopini
Previous Post

Banjir Sumatera Berpotensi Terulang Lagi akibat Kelemahan Tata Kelola

Next Post

Refleksi Akhir Tahun 2025: Bangkit Bersama untuk Indonesia

Next Post
Refleksi Akhir Tahun 2025: Bangkit Bersama untuk Indonesia

Refleksi Akhir Tahun 2025: Bangkit Bersama untuk Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.