• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni: Tahu Kapan Bertanding, Kapan Bersanding

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
9 September 2026
in Kolom
0

Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni: Tahu Kapan Bertanding, Kapan Bersanding

Oleh : Jufri

 

Dalam beberapa tahun terakhir, hampir di setiap tulisan saya, di bagian bawah selalu saya bubuhkan empat kata: Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.

Bagi sebagian orang mungkin itu hanya sebuah tagline. Tetapi bagi saya, empat kata tersebut adalah bagian dari ikhtiar untuk terus menjaga kebersamaan, merawat hubungan, dan menjauhkan diri dari pertikaian yang tidak perlu.

Bukan berarti saya tidak memahami bahwa dalam kehidupan manusia selalu ada perbedaan dan keragaman. Justru sebaliknya. Dalam kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, bahkan dalam kehidupan bernegara, perbedaan adalah sesuatu yang tidak mungkin dihindari.

Kita berbeda cara berpikir, berbeda latar belakang, berbeda kepentingan, berbeda pilihan, bahkan kadang berbeda dalam menentukan arah perjuangan. Karena itu, perbedaan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi sesuatu yang harus dikelola.

Di sinilah empat kata tersebut menjadi penting.

Silaturahmi mengajarkan kita untuk tetap menjaga hubungan, meskipun dalam suatu persoalan kita tidak berada pada posisi yang sama.

Kolaborasi mengajarkan bahwa pekerjaan besar tidak mungkin diselesaikan sendirian. Ada saatnya kita harus bekerja bersama dengan orang-orang yang mungkin tidak sepenuhnya memiliki pandangan yang sama dengan kita.

Sinergi mengajarkan bahwa perbedaan potensi dan kemampuan justru dapat menjadi kekuatan apabila diarahkan untuk tujuan yang sama.

Sedangkan harmoni bukan berarti semua orang harus selalu sepakat. Harmoni justru berarti kita mampu hidup bersama dalam perbedaan tanpa harus saling meniadakan.

Dalam pengalaman saya, perbedaan pilihan adalah sesuatu yang tidak dapat kita elakkan. Dalam situasi tertentu, kita memang harus menentukan pilihan, bahkan memilih berada di pihak atau kelompok mana. Itu bagian dari dinamika kehidupan.

Tetapi pilihan tersebut tidak seharusnya membuat hubungan kita berhenti selamanya.

Setelah semuanya terpilih, setelah kompetisi selesai, setelah masing-masing menjalankan pilihan dan tanggung jawabnya, kita semestinya dapat kembali bersama untuk hal-hal yang memang masih bisa kita kerjakan bersama.

Setidaknya, komunikasi tetap terjaga dan persaudaraan tidak rusak.

Sebab pilihan dalam satu momentum hanyalah bagian dari perjalanan hidup. Jangan sampai pilihan sesaat membuat kita kehilangan saudara, sahabat, atau kawan seperjuangan yang mungkin masih akan kita perlukan untuk mengerjakan banyak hal di masa yang akan datang.

Hal seperti ini pun dapat kita lihat dalam kehidupan Muhammadiyah. Di dalam organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad ini tentu terdapat perbedaan pandangan, kelompok-kelompok pemikiran, dan dinamika dalam menentukan berbagai pilihan organisasi. Itu sesuatu yang wajar.

Namun sejauh ini, berbagai dinamika tersebut masih dapat ditempatkan dalam konteks kemaslahatan organisasi dan umat. Perbedaan tidak harus membuat Muhammadiyah kehilangan arah. Justru perbedaan yang dikelola dengan baik dapat menjadi energi untuk memperkaya gagasan dan memperkuat organisasi.

Ada satu ungkapan yang menurut saya relevan dalam konteks ini: menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri; meludah ke langit, jatuh ke muka sendiri.

Dalam Muhammadiyah, hampir tidak ada orang yang mau dengan sengaja merusak nama baik rumah besarnya sendiri. Sebab kalau seseorang menepuk air di dulang, pada akhirnya dirinya juga yang terkena percikan. Kalau meludah ke langit, pada akhirnya ludah itu akan jatuh kembali ke wajahnya sendiri.

Begitu pula dalam organisasi. Ketika seseorang merusak marwah organisasi yang menjadi tempatnya tumbuh dan berproses, sesungguhnya ia sedang mempertaruhkan kehormatan dirinya sendiri.

Karena itu, kritik boleh, berbeda pendapat boleh, bahkan berkompetisi juga boleh. Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan rasa memiliki terhadap rumah bersama.

Dan jangankan hanya dalam satu organisasi. Dalam kehidupan yang lebih luas, ketika kita berhadapan dengan orang-orang di luar organisasi, bahkan dengan mereka yang berbeda agama sekalipun, kita harus belajar memahami kapan bertanding dan kapan bersanding.

Tidak semua perbedaan harus dipertandingkan. Tidak semua perbedaan harus dipertentangkan.

Ada saatnya kita berbeda pilihan dan memperjuangkan gagasan masing-masing. Tetapi ada pula saatnya kita duduk bersama, mencari titik temu, dan menemukan persamaan di tengah perbedaan.

Bangsa Indonesia dibangun oleh begitu banyak perbedaan. Karena itu, kemampuan menemukan persamaan menjadi jauh lebih penting daripada terus-menerus memperbesar perbedaan.

Bagi saya, di situlah salah satu wajah Islam Berkemajuan. Islam tidak hadir hanya untuk memenangkan perdebatan, tetapi untuk menghadirkan kemaslahatan. Islam mengajarkan kita untuk memiliki keyakinan yang kuat sekaligus kemampuan hidup berdampingan dengan manusia lain dalam kehidupan yang beragam.

Bukankah misi besar Rasulullah Muhammad SAW juga adalah menghadirkan rahmat bagi sekalian alam?

Karena itu, menjadi Muslim yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita berhubungan dengan Allah, tetapi juga bagaimana kehadiran kita memberikan manfaat, kedamaian, dan rahmat bagi lingkungan di sekitar kita.

Dalam konteks inilah saya melihat tema Muktamar Muhammadiyah ke-49, “Cerdas Bangsa Semesta Bercahaya,” memiliki makna yang sangat dalam.

Bagaimana mungkin kita ingin mencerdaskan bangsa dan membuat semesta bercahaya jika Muhammadiyah sendiri tidak terlebih dahulu menjadi organisasi yang cerdas dan bercahaya?

Cerdas dalam berpikir, dewasa dalam berbeda, bijak dalam bersikap, dan bercahaya dalam memberikan manfaat.

Muhammadiyah harus menjadi contoh bahwa organisasi yang besar tidak harus takut terhadap perbedaan. Justru karena besar, Muhammadiyah harus semakin mampu mengelola perbedaan, mempertemukan berbagai potensi, dan mengubah keragaman menjadi kekuatan.

Jika ke dalam saja kita mampu membangun silaturahmi, kolaborasi, sinergi dan harmoni, maka ke luar kita akan lebih mudah menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Sebab pada akhirnya, semesta yang bercahaya tidak mungkin dibangun dengan hati yang terus-menerus dipenuhi pertikaian.

Dalam kehidupan organisasi, kompetisi dan konstelasi adalah sesuatu yang biasa. Dalam negara demokratis, perbedaan pilihan merupakan bagian dari kehidupan bersama. Dalam organisasi pun dinamika kepemimpinan, gagasan, kepentingan, dan strategi merupakan sesuatu yang tidak mungkin dihilangkan.

Yang membedakan organisasi yang dewasa dengan organisasi yang rapuh bukanlah ada atau tidak adanya perbedaan, tetapi kemampuan mengelola perbedaan tersebut.

Sebagai kader Muhammadiyah dan setelah mengikuti berbagai kelompok serta organisasi lainnya, saya semakin melihat bahwa sebuah organisasi akan menjadi kuat bukan karena semua orang di dalamnya selalu sepemikiran. Organisasi menjadi kuat ketika para kadernya memiliki kedewasaan untuk berbeda, tetapi tetap mampu menjaga persatuan.

Ada kalanya kita menang dalam sebuah kompetisi. Ada kalanya kita kalah. Ada kalanya gagasan kita diterima, tetapi ada pula saatnya gagasan orang lain yang menjadi keputusan bersama.

Ketika keputusan sudah ditetapkan, kedewasaan diuji.

Apakah kita hanya mau berjuang ketika gagasan kita yang diterima? Ataukah kita tetap merasa memiliki organisasi dan bersedia menjaga keputusan bersama meskipun sebelumnya pilihan kita berbeda?

Di sinilah kaderisasi menjadi sangat penting.

Kaderisasi tidak boleh hanya dimaknai sebagai proses menambah jumlah anggota atau menyelenggarakan pelatihan. Kaderisasi harus melahirkan manusia yang memiliki rasa memiliki, rasa tanggung jawab, dan rasa cinta terhadap organisasi.

Kader yang baik bukan hanya kader yang mampu mendapatkan posisi, tetapi kader yang ketika berada di posisi apa pun tetap merasa bertanggung jawab terhadap keberlangsungan organisasi.

Ia tidak akan mudah merusak nama baik organisasi hanya karena kepentingan pribadinya tidak terpenuhi. Ia tidak akan menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membangun permusuhan. Bahkan ketika kecewa, ia tetap memahami bahwa organisasi yang telah dibangun bersama jauh lebih besar daripada kepentingan dirinya sendiri.

Sebab organisasi adalah rumah bersama.

Kalau atapnya bocor, semua akan merasakan akibatnya. Kalau namanya baik, semua ikut mendapatkan kehormatan. Karena itu, menjaga nama baik organisasi semestinya menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab mereka yang sedang memegang amanah kepemimpinan.

Saya semakin percaya bahwa semakin besar sebuah organisasi, semakin beragam pula manusia yang ada di dalamnya. Maka semakin besar pula kebutuhan untuk membangun budaya silaturahmi, kolaborasi, sinergi dan harmoni.

Kita tidak harus selalu berjalan dalam barisan yang sama untuk tetap menuju tujuan yang sama.

Kita juga tidak harus selalu sepakat untuk tetap menjadi saudara.

Perbedaan mungkin membuat langkah kita sesekali berbelok, tetapi jangan sampai membuat kita kehilangan arah dan tujuan bersama.

Mungkin itulah alasan mengapa sampai hari ini empat kata itu terus saya gunakan:

Silaturahmi. Kolaborasi. Sinergi. Harmoni.

Bukan karena kehidupan selalu harmonis, tetapi karena kita tahu kehidupan penuh dengan perbedaan.

Bukan karena kita tidak pernah berbeda, tetapi karena kita ingin belajar bagaimana berbeda dengan tetap menjaga persaudaraan.

Dan bukan karena pertikaian tidak pernah terjadi, tetapi karena kita memilih untuk terus mencari jalan agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan.

Berbeda adalah keniscayaan. Mengelola perbedaan adalah kedewasaan. Menjaga kebersamaan adalah tanggung jawab.

Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni.

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: jufrikolom
Previous Post

Ketika Ilmu Harus Menjadi Cahaya: Menghidupkan Irfani dan Ihsan dalam Gerakan Muhammadiyah

Next Post

Tim UMMAH Aceh Gelar ‘Rihlah Ilmi’ ke Kampus UMSU

Next Post
Tim UMMAH Aceh Gelar ‘Rihlah Ilmi’ ke Kampus UMSU

Tim UMMAH Aceh Gelar 'Rihlah Ilmi' ke Kampus UMSU

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.