Rektor Berganti, Perjuangan UMSU Tak Pernah Berhenti
Oleh: Jufri
Setiap perguruan tinggi memiliki sejarah. Di dalam sejarah itu ada gedung yang dibangun, program studi yang dikembangkan, mahasiswa yang dididik, dosen yang mengabdi, dan tentu saja para pemimpin yang datang silih berganti.
Begitu pula Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
UMSU bukanlah universitas yang tiba-tiba menjadi besar. Ia tumbuh melalui perjalanan panjang, melewati berbagai zaman, menghadapi tantangan yang berbeda-beda, dan dipimpin oleh tokoh-tokoh yang masing-masing meninggalkan jejak dalam perjalanan institusi.
Karena itu, ketika kita berbicara tentang rektor UMSU dari masa ke masa, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang estafet perjuangan.
Setiap rektor datang membawa tantangan zamannya. Ada yang membangun fondasi, memperluas kelembagaan, memperkuat akademik, melakukan konsolidasi, hingga membawa UMSU memasuki fase baru yang semakin kompleks.
Kita tidak adil apabila mengukur seorang pemimpin masa lalu hanya dengan ukuran zaman sekarang. Setiap periode memiliki konteks dan tantangannya sendiri.
Namun ada satu prinsip yang tidak pernah berubah: kepemimpinan adalah amanah, bukan kepemilikan.
Dari Sebuah Gagasan Menjadi Institusi Besar
UMSU lahir dari semangat Muhammadiyah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Didirikan pada 27 Februari 1957, perjalanan UMSU merupakan bagian dari ikhtiar Muhammadiyah membangun manusia melalui pendidikan. Semangat itu sejalan dengan gagasan Islam Berkemajuan, bahwa Islam tidak boleh berhenti pada kesalehan individual, tetapi harus hadir dalam ilmu pengetahuan, pendidikan, pelayanan sosial dan kemajuan peradaban.
Membangun UMSU sesungguhnya bukan sekadar membangun kampus.
Ia adalah bagian dari membangun manusia.
Mahasiswa yang datang ke kampus bukan sekadar calon sarjana. Mereka adalah calon pemimpin, guru, pengusaha, birokrat, akademisi, profesional dan warga negara yang kelak ikut menentukan arah bangsa.
Maka semakin besar sebuah perguruan tinggi, semakin besar pula tanggung jawab moral yang berada di pundaknya.
Dalmy Iskandar dan UMSU di Era Orde Baru
Dalam perjalanan panjang itu, ada nama Dr. H. Dalmy Iskandar yang tidak bisa dilepaskan dari fase penting perkembangan UMSU.
Kehadirannya di UMSU pada 1981 sebagai Ketua Rektorium, kemudian memimpin sebagai rektor, membawa UMSU memasuki periode perkembangan yang cukup signifikan. Periode 1982–1999 tercatat sebagai salah satu fase penting dalam perkembangan fisik, akademik dan kemahasiswaan UMSU.
Dalmy Iskandar memimpin pada zaman yang sangat berbeda dengan sekarang, ketika Indonesia masih berada di bawah pemerintahan Orde Baru. Pada masa itu, beliau dikenal sebagai salah satu eksponen 66 dan aktif di Golkar.
Konteks zaman tentu perlu dipahami. Sebab sejarah akan kehilangan maknanya jika hanya dilihat dengan kacamata hari ini.
Pada masa kepemimpinannya, UMSU juga menjadi ruang perjumpaan dengan banyak tokoh nasional. Sejumlah pejabat dan tokoh penting pernah hadir memberikan ceramah umum di kampus, antara lain Harmoko, B.J. Habibie, Akbar Tanjung, Cosmas Batubara dan Panglima TNI Jenderal Feisal Tandjung.
Ada pula kisah menarik tentang H. Probosutedjo, pengusaha nasional yang dikenal sebagai adik Presiden Soeharto. Dalmy Iskandar berhasil menggandengnya menjadi Ketua Dewan Kurator UMSU.
Kehadiran Probosutedjo sebagai Ketua Dewan Kurator kemudian ikut memberi dukungan bagi pengembangan UMSU, termasuk pembangunan dan pengembangan fasilitas kampus.
Dari sini kita belajar bahwa membangun perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan kemampuan akademik. Ada pula kemampuan membangun komunikasi, jejaring, kepercayaan dan membaca peluang yang tersedia pada zamannya.
Setiap zaman memiliki caranya sendiri.
Apa yang dilakukan Dalmy Iskandar menjadi bagian dari mata rantai sejarah UMSU. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, estafet kemudian berpindah kepada Drs. H. Chairuman Pasaribu dan dilanjutkan oleh rektor-rektor berikutnya.
Begitulah sebuah institusi tumbuh.
Seorang pemimpin datang dengan kekuatan dan zamannya. Ia bekerja, meninggalkan jejak, kemudian menyerahkan tongkat estafet kepada generasi berikutnya.
Prof. Agussani: Enam Belas Tahun Sebuah Pengabdian
Dalam sejarah UMSU kontemporer, Prof. Dr. Agussani, M.AP. merupakan salah satu sosok penting. Beliau memimpin UMSU selama 2010–2026, melewati berbagai perubahan dan perkembangan dalam dunia pendidikan tinggi.
Selama masa kepemimpinannya, UMSU terus bertumbuh dan memperkuat kelembagaan, akademik, sumber daya manusia serta tata kelola.
Enam belas tahun tentu bukan waktu yang pendek.
Ada banyak proses, keputusan, keberhasilan, tantangan dan dinamika yang menyertai perjalanan tersebut. Semua itu akhirnya menjadi bagian dari sejarah UMSU.
Kini estafet kepemimpinan telah berpindah.
Namun pengabdian Prof. Agussani tidak berhenti. Dalam persiapan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 di Sumatera Utara, beliau dipercaya sebagai Ketua Panitia Muktamar.
Di sinilah kita kembali belajar bahwa jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian tetap dapat berlanjut.
Prof. Akrim: Dari Profesor Termuda Menjadi Rektor Termuda
Kini Prof. Dr. Akrim, M.Pd. menerima tongkat estafet sebagai Rektor UMSU.
Ada kisah menarik dalam perjalanan akademiknya. Prof. Akrim pernah menjadi profesor termuda di lingkungan UMSU. Sejarah kemudian seperti membuat sebuah lingkaran: sosok yang pernah berada dalam jajaran profesor termuda itu kemudian dipercaya menjadi rektor termuda UMSU ketika dilantik.
Tentu usia bukan ukuran tunggal keberhasilan seorang pemimpin.
Tetapi fenomena ini memberi pesan penting tentang regenerasi.
Perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada satu generasi. Ia harus memberi ruang kepada generasi muda untuk tumbuh, belajar, mengambil tanggung jawab dan pada waktunya memimpin.
Yang muda membawa energi, sementara pengalaman dari generasi sebelumnya tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan institusi.
Prof. Akrim kini memimpin UMSU dengan tantangan yang berbeda. Digitalisasi, kecerdasan buatan, perubahan dunia kerja, internasionalisasi, riset dan inovasi menuntut perguruan tinggi untuk terus bergerak.
Dunia pendidikan tinggi tidak lagi cukup hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah. Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan manusia yang adaptif, kritis, berintegritas dan mampu menciptakan solusi bagi masyarakat.
Muktamar ke-49 dan Kampus IV UMSU
Kini babak baru kepemimpinan UMSU beriringan dengan persiapan Muktamar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah ke-49 di Sumatera Utara.
Ada hal yang membuat momentum ini memiliki makna khusus bagi UMSU. Lokasi Muktamar direncanakan berada di Desa Sientis, Kabupaten Deli Serdang, yang sekaligus merupakan lokasi pengembangan Kampus IV UMSU.
Menariknya, tempat yang dipersiapkan untuk masa depan pendidikan UMSU itu akan menjadi tempat berkumpulnya warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dari berbagai penjuru Indonesia.
Di sini seakan ada pertemuan antara masa depan gerakan dan masa depan pendidikan. Muktamar membawa gagasan dan keputusan baru, sementara Kampus IV dipersiapkan menjadi ruang untuk melahirkan generasi yang akan melanjutkan perjuangan tersebut.
Namun Muktamar bukanlah hanya tanggung jawab UMSU.
UMSU memang memiliki posisi penting karena lokasi Muktamar berkaitan erat dengan Kampus IV. Tetapi Muktamar adalah agenda besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, sehingga keberhasilannya merupakan tanggung jawab bersama seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah.
Mulai dari tingkat pusat, PWM dan PWA, PDM dan PDA, hingga seluruh PCM dan PRM, termasuk seluruh organisasi otonom Muhammadiyah pada setiap tingkatan, semuanya memiliki ruang untuk mengambil bagian sesuai peran masing-masing.
Dengan semangat kebersamaan itulah Muktamar ke-49 diharapkan menjadi milik bersama. Bukan hanya milik panitia, bukan hanya milik UMSU, dan bukan hanya milik warga Muhammadiyah Sumatera Utara, tetapi menjadi momentum seluruh warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Indonesia.
Kita semua tentu berharap Muktamar ke-49 sukses penyelenggaraannya, baik hasil maupun syiarnya. Setelah Muktamar selesai dan peserta kembali ke daerah masing-masing, Kampus IV UMSU akan tetap berdiri dan melanjutkan tugasnya: mendidik manusia dan mencerdaskan bangsa.
Mungkin kelak kita akan mengenang Desa Sientis bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya Muktamar ke-49, tetapi juga sebagai salah satu titik penting dalam perjalanan baru UMSU.
Jangan Terjebak pada Kultus Figur
Dalam tradisi Muhammadiyah, ada hal penting yang harus terus dijaga: institusi harus lebih besar daripada figur.
Kita boleh menghormati pemimpin dan mengenang jasa mereka. Tetapi jangan sampai penghormatan kepada tokoh berubah menjadi ketergantungan kepada tokoh.
UMSU harus terus tumbuh meskipun rektor berganti.
Muhammadiyah harus terus bergerak meskipun pimpinan berganti.
Sebab Muhammadiyah tidak dibangun untuk mengagungkan individu, tetapi untuk membangun sistem, amal usaha, kader, ilmu dan peradaban.
Karena itu, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya seberapa besar namanya dikenang, tetapi seberapa kuat institusi yang diwariskannya kepada generasi berikutnya.
Estafet Itu Harus Terus Berjalan
Mengenang rektor UMSU dari masa ke masa pada akhirnya bukan sekadar mengingat nama-nama yang pernah berada di ruang rektorat.
Kita sedang belajar tentang waktu, amanah, kepemimpinan dan keberlanjutan.
Generasi terdahulu membangun fondasi.
Generasi berikutnya mengembangkan bangunan.
Generasi hari ini memperkuatnya.
Dan generasi yang akan datang harus mampu membawa UMSU lebih jauh lagi.
Prof. Agussani telah menjadi bagian penting dari sejarah panjang UMSU selama 2010–2026.
Prof. Akrim kini menerima tongkat estafet.
Dari profesor termuda menjadi rektor termuda, perjalanan Prof. Akrim mengingatkan kita bahwa regenerasi bukan sekadar pergantian orang. Ia adalah keberanian sebuah institusi untuk mempercayakan masa depan kepada generasi berikutnya.
Pada akhirnya, seorang rektor hanya memegang amanah dalam batas waktu tertentu.
Seorang ketua panitia juga akan menyelesaikan tugas ketika Muktamar selesai.
Tetapi Muhammadiyah akan terus berjalan.
UMSU akan terus tumbuh.
Kader akan terus berganti.
Dan estafet perjuangan akan terus berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Sebab kampus bukan milik seorang rektor.
Muhammadiyah bukan milik seorang pimpinan.
Ia adalah amanah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Rektor berganti. Generasi berganti. Zaman berganti.
Tetapi perjuangan mencerdaskan bangsa tidak boleh berhenti.
Islam Berkemajuan.
Cerdas Bangsa.
Semesta Bercahaya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

