Gema dakwah tak lagi bisa dibatasi oleh dinding-dinding masjid atau mimbar pengajian semata. Di tengah pusaran teknologi informasi dan kecerdasan artifisial (AI) yang melesat tanpa rem, syiar keagamaan menuntut cara-cara baru agar tetap relevan dan menyentuh denyut nadi masyarakat.
Kesadaran inilah yang menjadi sorotan utama Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad, ketika membuka Rapat Kerja Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah 2026 di Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Jumat (17/7).
Dadang menegaskan bahwa MPI memegang kemudi strategis dalam transformasi dakwah Persyarikatan.
“Dakwah pada hari ini tidak cukup dilakukan hanya dari mimbar ke mimbar. Dakwah zaman kini harus berlangsung melalui buku, jurnal, media massa, televisi, radio, media sosial, podcast, video digital, hingga kecerdasan artifisial.
Siapa yang menguasai ruang informasi, ia memiliki peluang besar membentuk cara berpikir masyarakat,” ujarnya.
Muhammadiyah Diharap Menjadi Oase di Tengah Pandemi Disinformasi
Meski teknologi menawarkan panggung dakwah yang tak terbatas, ia juga membawa bayang-bayang kelam: hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan jurang polarisasi sosial. Di titik kritis inilah, Muhammadiyah dipanggil untuk hadir sebagai penawar. Berbekal prinsip tabayyun dari Surah Al-Hujurat ayat 6, etika komunikasi dan jurnalisme yang bertanggung jawab harus dikedepankan.
“Muhammadiyah tidak boleh menjadi korban disinformasi, hoaks, ujaran kebencian, maupun polarisasi sosial. Muhammadiyah harus menjadi sumber informasi yang terpercaya, menenangkan, mencerahkan, dan mempersatukan,” tegasnya.
Terkait pesatnya kehadiran AI, Dadang mendorong agar Muhammadiyah tidak sekadar menjadi pengguna pasif, melainkan pelopor yang membumikan teknologi tersebut di atas fondasi nilai Islam, ilmu pengetahuan, dan etika kemanusiaan.
Merancang Peta Jalan Peradaban
Untuk menerjemahkan visi besar tersebut, Rapat Kerja MPI diharapkan mampu melahirkan Peta Jalan Digital Muhammadiyah. Peta ini bukan sekadar wacana, melainkan cetak biru yang mencakup:
- Penguatan literasi digital bagi warga Persyarikatan.
- Modernisasi perpustakaan dan arsip digital sebagai pusat inovasi dan solusi umat.
- Penguatan posisi media Muhammadiyah sebagai rujukan tepercaya.
- Penciptaan konten dakwah yang kreatif bagi generasi muda.
- Penyusunan pedoman etika dalam pemanfaatan AI.
Khusus di ranah media, Dadang menitipkan pesan fundamental. Media Muhammadiyah memikul tanggung jawab besar untuk tidak larut dalam arus jurnalisme dangkal yang hanya mengejar sensasi.
“Media Muhammadiyah jangan sekadar memberitakan peristiwa, tetapi harus menghadirkan perspektif yang mencerdaskan. Jurnalisme Muhammadiyah harus membela kebenaran, memperkuat persaudaraan, mengangkat suara mereka yang lemah, serta menghadirkan harapan di tengah berbagai krisis,” katanya.
Sebagai penutup, Dadang berharap forum ini tidak berhenti pada urusan program administratif di atas kertas, tetapi benar-benar melahirkan langkah taktis yang akan mengukuhkan Muhammadiyah sebagai gerakan ilmu dan pelopor peradaban di era digital.

