MUI Dorong Pengembangan Bisnis Pesantren Berkelanjutan
- Lembaga Penggerak Ekonomi Umat MUI Sumut Gelkar FGD Bisnis
- Maratua Simanjuntak : Potensi Pesantren Harus Dioptimalkan
INFOMU.CO | Medan – Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (DP MUI) Sumatera Utara melalui Lembaga Penggerak ekonomi Umat menggelar kegiatan “Focus Group Discussion (FGD) Bisnis Pesantren” dengan tajuk Model Pengembangan Bisnis Pesantren Berkelanjutan. Kegiatan FGD ini berlangsung di Aula Gedung Kantor BSI Region 2 Medan Jalan Kejaksaan No. 3B, Medan Selasa (7/7)
Kegiatan FGD ini diisi oleh Tiga Narasumber berkompeten terkait pengembangan dan pendanaan pada Bisnis Pesantren. Materi pertama disampaikan oleh Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Wishnu Badrawani, Phd, dengan materi Peran dan Strategi Bank Indonesia dalam mendukung Pengembangan UMKM, perwakilan Bank Syariah Indonesia dengan materi Peran dan Prospek Bank Syariah dalam Penguatan UMKM serta Praktisi dan Pengusaha Bobby Umroh,PhD yang memaparkan materi Berkembang dan Menjadi Solusi.
Hadir dalam kegiatan ini Ketua Umum DP MUI Sumut, Dr. H. Maratua Simanjuntak, ketua Lembaga Penggerak Ekonomi Umat DP MUI Sumut Dr. Indra Utama, M.Si, Panitia Pelaksana FGD Dr. Salman Nasution, MA, Anggota dan Lembaga DP MUI Sumut dan 12 Perwakilan Pimpinan Pesantren se-Sumatera Utara yang memiliki bisnis pesantren

Dalam Sambutannya Ketua Umum Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Dr. H. Maratua Simanjuntak, mengatakan bahwa pembahasan mengenai ekonomi pesantren atau bisnis pesantren tidak terlepas dari peran pesantren sebagai lembaga yang membina generasi muda Islam di Indonesia. Menurutnya, ketika berbicara tentang pesantren, maka yang dibicarakan adalah lembaga pendidikan yang berorientasi pada pembinaan nilai-nilai keislaman.
Maratua menilai, pada umumnya pesantren saat ini telah memiliki unit-unit usaha. Hal itu didorong oleh kebutuhan ratusan bahkan ribuan santri yang menetap di asrama dan memerlukan berbagai kebutuhan sehari-hari. Menurutnya, potensi tersebut harus dimanfaatkan secara optimal melalui pengelolaan usaha yang baik, sehingga seluruh kebutuhan santri dapat dipenuhi oleh koperasi atau unit usaha yang dimiliki pesantren sendiri, tanpa harus bergantung pada pihak luar.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pengelolaan bisnis pesantren juga perlu mengikuti perkembangan teknologi. Sistem pelayanan dan transaksi sudah seharusnya memanfaatkan digitalisasi, seperti pembayaran non-tunai melalui Handphone atau platform digital lainnya, mengingat pola transaksi digital kini telah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.
Karena itu, ia berharap Focus Group Discussion (FGD) Bisnis Pesantren yang diselenggarakan Lembaga Penguatan Ekonomi Umat DP MUI Sumatera Utara dapat mengkaji pengembangan bisnis pesantren dari berbagai aspek dan sudut pandang, sehingga mampu melahirkan gagasan serta strategi yang memperkuat kemandirian ekonomi pesantren di masa mendatang.
Sementara itu Panitia pelaksana Focus Group Discussion (FGD) Bisnis Pesantren, Dr. Salman Nasution, SE.I., M.A., menjelaskan bahwa kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Penggerak Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara bertujuan mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari kalangan pesantren, perbankan, hingga Bank Indonesia. Pertemuan tersebut diharapkan mampu mengidentifikasi potensi yang dimiliki masing-masing pihak untuk mendukung pengembangan bisnis pesantren yang berkelanjutan.
Menurutnya, FGD ini diarahkan untuk menghasilkan model pengembangan bisnis pesantren yang komprehensif, mencakup penguatan tata kelola, peningkatan literasi keuangan, mitigasi risiko keuangan, serta perluasan akses pembiayaan bagi pesantren.
Salman menuturkan, berbagai gagasan yang disampaikan para narasumber, di antaranya dari Bank Indonesia, Bobby Umroh, serta perwakilan BSI, diharapkan tidak berhenti pada tataran diskusi, tetapi dapat diimplementasikan secara nyata dalam mendukung pertumbuhan dan pengembangan usaha di lingkungan pesantren. Mulai dari pemanfaatan teknologi, penguatan kapasitas usaha, hingga akses pembiayaan menjadi bagian penting dalam mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Ia menambahkan, melalui Lembaga Penggerak Ekonomi Umat, MUI Sumatera Utara berkomitmen menjadi penggerak dalam memperkuat ekonomi umat dengan membangun kolaborasi antarpemangku kepentingan. Menurutnya, forum seperti FGD menjadi ruang untuk melahirkan ide, gagasan, dan kerja sama yang dapat diwujudkan menjadi program nyata guna mendorong tumbuh kembang bisnis pesantren.
Salah satu pemateri dalam Focus Group Discussion (FGD) Bisnis Pesantren, Bobby Umroh, Ph.D., menilai diskusi yang berlangsung sangat fokus dan tajam dalam membahas upaya membangkitkan ekonomi pesantren. Menurutnya, hal utama yang harus dibangun bukan sekadar pendanaan, digitalisasi, atau penganggaran, melainkan menciptakan bisnis yang benar-benar kuat dan berkelanjutan.
Ia menegaskan, bisnis yang tidak memiliki produk berkualitas tidak akan mampu bertahan. Karena itu, teknologi menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas produk sekaligus memperkuat daya saing usaha yang dijalankan pesantren agar tetap berkelanjutan (sustain).
Bobby menjelaskan, pesantren sebenarnya memiliki potensi besar untuk mengembangkan berbagai sektor usaha. Selain memiliki sumber daya manusia melalui para santri, banyak pesantren juga memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian, peternakan, hingga usaha produksi. Bahkan, beberapa pesantren telah berhasil mengembangkan usaha berbasis komoditas lokal, seperti kopi.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pesantren telah memiliki modal dasar berupa sumber daya dan pasar internal, karena kebutuhan para santri dapat menjadi pelanggan pertama bagi produk yang dihasilkan. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas pengelolaan usaha melalui pemanfaatan teknologi.
“Untuk membangun bisnis yang berkelanjutan, kuncinya adalah kemampuan bertahan. Salah satu faktor yang menentukan keberlangsungan usaha tersebut adalah teknologi, karena teknologi mampu mempermudah pekerjaan sekaligus meningkatkan efektivitas dan daya saing bisnis pesantren,” pungkasnya

Pimpinan Pesantren yaitu dari Pesantren Darul Ilmi Murni Medan, DR. H. Dedi Masri, Lc., M.A., mengapresiasi terselenggaranya Focus Group Discussion (FGD) Bisnis Pesantren yang diinisiasi oleh Lembaga Penggerak Ekonomi Umat Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara. Menurutnya, forum tersebut dapat menjadi wadah untuk menghimpun berbagai potensi ekonomi dan produk unggulan yang dihasilkan oleh pondok pesantren.
Ia menilai pesantren memiliki modal yang sangat besar untuk mengembangkan kemandirian ekonomi. Selain memiliki lahan, pesantren juga didukung oleh keberadaan kiai, guru, serta para santri yang dapat menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan berbagai unit usaha di masing-masing pesantren.
Dedi berharap melalui wadah kolaborasi tersebut, produk-produk pesantren tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang untuk menembus pasar internasional. Ia menyebutkan bahwa pihaknya telah memiliki jaringan usaha di Malaysia melalui GTE Gunung Talang, sehingga produk-produk pesantren berpotensi untuk dipasarkan hingga ke luar negeri. Menurutnya, hal ini dapat menjadi sumber pendapatan baru yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi pesantren.
Selain itu, Dedi juga menawarkan konsep ekonomi sirkular yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren. Ia menjelaskan bahwa sisa makanan dari dapur yang selama ini menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Selanjutnya, maggot digunakan sebagai pakan ikan, ayam, maupun ternak lainnya. Hasil budidaya tersebut kemudian kembali dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi santri, sehingga tercipta siklus ekonomi yang berkelanjutan sekaligus mampu mengurangi limbah di lingkungan pesantren.
Ia berharap FGD Bisnis Pesantren ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun jejaring kemitraan antarpondok pesantren, sehingga berbagai potensi usaha yang dimiliki dapat saling terhubung, dikembangkan bersama, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi kemajuan ekonomi pesantren di Sumatera Utara.
Focus Group Discussion (FGD) ini diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang membahas berbagai aspek pengembangan bisnis pesantren. Pembahasan difokuskan pada program-program pemberdayaan UMKM, skema pembiayaan bagi bisnis pesantren yang disampaikan oleh Bank Indonesia dan Bank Syariah Indonesia, serta edukasi mengenai pemanfaatan alat-alat teknologi yang dapat mendukung pengelolaan dan pengembangan usaha di lingkungan pesantren. (AH)

