Muhasabah Akhir Tahun, Kita Sepatutnya Bersyukur, dan Bertanggung Jawab atas Nikmat
INFOMU.CO | Yoqyakarta – Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan dipenuhi suasana reflektif pada Ahad pagi (28/12). Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakrta, Rofiul Wahyudi, menyampaikan pengajian bertema muhasabah akhir tahun.
Di hadapan jemaah, Rofiul mengingatkan bahwa hampir 365 hari telah dilewati dengan beragam nikmat Allah, mulai dari umur, kesehatan, rezeki, hingga kesempatan beramal. Seluruh nikmat tersebut, menurutnya, layak disambut dengan rasa syukur yang tulus seraya berharap seluruh amal ibadah selama tahun berjalan diterima dan dosa-dosa diampuni oleh Allah Swt.
Dalam pengantar muhasabah, Rofiul mengajukan pertanyaan yang menggugah kesadaran batin jemaah.
“Kapan terakhir kali meneteskan air mata? Tangisan bukan semata tanda kesedihan, melainkan bahasa hati yang paling jujur saat kata-kata tak lagi sanggup mewakili doa,” katanya.
Ia membagikan pengalaman pribadi saat pulang pengajian dan membagikan makanan kepada seorang lelaki tua yang masih berjuang mencari nafkah di malam hari. Peristiwa tersebut membuat air mata jatuh bukan karena terharu, melainkan karena kesedihan melihat ketimpangan nikmat.
Pengalaman itu menjadi pengingat bahwa kenyamanan yang dirasakan banyak orang sering berjalan beriringan dengan penderitaan orang lain yang luput dari perhatian.
Rofiul kemudian mengaitkan refleksi tentang air mata dengan kisah Rasulullah Saw bersama istrinya, ‘Aisyah ra. Diceritakan bahwa Rasulullah pernah meminta izin kepada Aisyah untuk beribadah pada malam giliran bermalam di rumahnya. Aisyah merelakan dengan penuh keikhlasan, bahkan merasa bahagia melihat Rasulullah mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam salat malam tersebut, Rasulullah menangis tersedu-sedu hingga air mata membasahi janggutnya. Tangisan itu berlangsung lama, bahkan hingga menjelang subuh. Ketika Bilal bertanya alasan tangisan tersebut, Rasulullah menjelaskan bahwa malam itu turun ayat Al-Qur’an yang mengandung lima doa “Rabbana” dalam Surah Ali Imran.
Ayat-ayat tersebut, jelas Rofiul, berisi permohonan agar dijauhkan dari siksa neraka, diampuni dosa besar dan kecil, diwafatkan bersama orang-orang saleh, ditepati janji-janji Allah, serta tidak dihinakan pada hari kiamat. Rasulullah menangis karena kandungan doa tersebut menggambarkan kelemahan manusia di hadapan Allah dan besarnya tanggung jawab sebagai hamba.
Menurut Rofiul, jika Rasulullah saja menangis saat ayat-ayat itu turun, maka umatnya semestinya lebih sering bermuhasabah dan melantunkan doa-doa tersebut dengan penuh kesadaran. Ia mendorong jemaah untuk membiasakan membaca dan menghafalkan ayat-ayat Rabbana, terutama saat bangun malam dan di penghujung doa.
Muhasabah kemudian diarahkan pada pengalaman universal manusia, yakni rasa lapar. Rofiul mengajak jemaah menyadari bahwa kebanyakan orang hari ini jarang mengalami lapar karena ketiadaan bahan makanan. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan kehidupan Rasulullah saw, yang kerap menahan lapar karena seluruh harta yang dimiliki dibagikan kepada orang lain.
Ia mengisahkan pertemuan Rasulullah dengan Abu Bakar dan Umar ra yang keluar rumah karena lapar, lalu bertamu ke rumah seorang sahabat Anshar bernama Abu Haitam at-Taihan. Sahabat tersebut menyambut dengan penuh kegembiraan, menyuguhkan kurma terbaik, air segar, hingga menyembelih kambing untuk menjamu tamunya.
Usai makan hingga kenyang, Rasulullah menyampaikan pesan yang menjadi inti muhasabah akhir tahun. Setiap nikmat yang masuk ke dalam tubuh, baik makanan maupun minuman, kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.
“Pesan ini sangat relevan bagi kehidupan modern yang serba berkecukupan,” ucap Rofiul.
Menjelang penutup pengajian, Rofiul mengajak jemaah menengok nikmat-nikmat sederhana yang sering diabaikan, seperti kemampuan makan, minum, bernapas, serta menjalankan fungsi tubuh secara normal. Nikmat-nikmat tersebut, tegasnya, tidak dapat ditukar dengan harta sebanyak apa pun.
Pengajian ditutup dengan ajakan memperbanyak rasa syukur di akhir tahun, seraya memohon agar Allah terus melindungi, membimbing, dan tidak membuka aib hamba-hamba-Nya kelak di hari kiamat. Jemaah pun diajak mengakhiri muhasabah dengan ucapan syukur, alhamdulillahi rabbil ‘alamin. (muhammadiyah.or.id)

