Menghidupkan Kembali Etos Saudagar Muhammadiyah
Oleh: Jufri
Saya membaca sebuah kutipan menarik dari Dr. IrFan Gubarsa , Ketua Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata PWM Sumatera Utara: “Sejarah mencatat KH Ahmad Dahlan adalah seorang pengusaha batik, dan banyak kader awal persyarikatan yang berprofesi sebagai saudagar.”
Kutipan sederhana ini sebenarnya menyimpan pesan yang cukup besar. Muhammadiyah sejak awal bukan hanya gerakan yang berbicara tentang dakwah, pendidikan dan sosial, tetapi juga memiliki etos bekerja, berusaha dan membangun kemandirian ekonomi.
KH Ahmad Dahlan adalah contoh menarik. Di satu sisi beliau dikenal sebagai ulama dan pendiri Muhammadiyah, tetapi di sisi lain beliau juga seorang pengusaha batik. Banyak kader generasi awal Muhammadiyah juga dikenal sebagai saudagar.
Maka ketika hari ini kita berbicara tentang kewirausahaan, UMKM dan pemberdayaan ekonomi umat, sesungguhnya kita bukan sedang membawa Muhammadiyah ke arah yang baru sama sekali. Kita justru sedang menghidupkan kembali salah satu etos yang pernah menjadi bagian dari perjalanan awal Persyarikatan.
Kebetulan, gagasan itu menjadi semakin menarik ketika Sumatera Utara sedang bersiap menyambut Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49.
Sabtu kemaren Kami baru saja berdiskusi dengan Muhammad Irsyad Ketua LP UMKM PWMSU, penggagas sekaligus investor Berseri Mart, bersama Dr. Suhadi Lestiadi, Wakil Ketua LP UMKM PP Muhammadiyah, dan Dr. Kadar Budiman dari Bank Muamalat Regional Sumatera. Pembicaraan kami banyak menyentuh persoalan UMKM dan bagaimana Berseri Mart dapat menjadi bagian dari pemberdayaan ekonomi umat.
Diskusi kemudian berlanjut diruangan Rektor UMSU bersama Prof. Akrim, Sekretaris BPH Mutholib Dumasti M.M., dan Bendahara BPH Dr. Irwan Syahputra . Kali ini pembicaraan juga menyentuh gagasan Muhammadiyah Expo, pemberdayaan ekonomi umat, sekaligus bagaimana kegiatan tersebut dapat menjadi bagian dari syiar dan menyukseskan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49.
Menurut saya, ini menarik untuk dipikirkan bersama.
Berseri Mart jangan hanya dilihat sebagai tempat berjualan. Muhammadiyah Expo jangan pula hanya dipandang sebagai pameran.
Keduanya bisa menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar: mempertemukan UMKM, kader, warga Persyarikatan, Amal Usaha Muhammadiyah, Aisyiyah, Ortom, dunia usaha, perbankan, teknologi dan masyarakat luas.
Kalau dikelola dengan baik, orang yang datang ke Sumatera Utara untuk mengikuti Muktamar tidak hanya mendapatkan pengalaman spiritual dan persyarikatan, tetapi juga dapat melihat karya dan kekuatan ekonomi warga Muhammadiyah.
Ada produk UMKM yang dipasarkan. Ada kreativitas anak muda yang ditampilkan. Ada inovasi yang diperkenalkan. Ada peluang kerja sama yang terbuka. Ada jaringan usaha yang terbentuk.
Dengan demikian, Muktamar tidak hanya menjadi peristiwa organisasi, tetapi juga dapat menjadi momentum pemberdayaan ekonomi umat.
Apalagi Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 memiliki kekhasan tersendiri karena Muhammadiyah dan Aisyiyah dilaksanakan dalam satu waktu dan tempat. Ini menjadi momentum istimewa yang tentu membutuhkan kerja bersama, bukan hanya oleh UMSU atau panitia lokal, tetapi oleh seluruh pimpinan dan warga Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Karena itu, semangat menyukseskan Muktamar seharusnya juga menjadi semangat untuk menunjukkan wajah Muhammadiyah yang lengkap: kuat dalam dakwah, maju dalam pendidikan, peduli dalam sosial, kreatif dalam budaya, dan semakin mandiri dalam ekonomi.
Kita tentu tidak sedang mengatakan bahwa semua kader harus menjadi pengusaha. Tidak. Setiap orang mempunyai jalan pengabdian masing-masing. Tetapi bagi mereka yang memiliki kemampuan dan minat dalam dunia usaha, Persyarikatan harus memberikan ruang, jaringan dan ekosistem agar usaha tersebut dapat tumbuh.
Sebab kemandirian ekonomi juga bagian dari dakwah.
Kita sering mengatakan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang besar. Tetapi kebesaran itu idealnya bukan hanya diukur dari banyaknya Amal Usaha Muhammadiyah, jumlah sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit atau masjid. Kebesaran juga dapat dilihat dari seberapa jauh Muhammadiyah mampu memberdayakan manusia agar tidak hanya menjadi objek, tetapi menjadi pelaku perubahan.
Di sinilah semangat saudagar Muhammadiyah menjadi penting.
Saudagar bukan semata-mata soal kaya. Ada etos di dalamnya: berani mengambil peluang, bekerja keras, jujur, kreatif, membangun jaringan dan berani mengambil risiko. Kalau kekuatan seperti ini bertemu dengan semangat dakwah dan kepedulian sosial, maka ekonomi tidak berhenti pada mencari keuntungan, tetapi dapat menjadi sarana memberikan kemanfaatan yang lebih luas.
Karena itu, saya membayangkan Berseri Mart dan Muhammadiyah Expo tidak berhenti pada momentum Muktamar.
Muktamar boleh selesai, Expo boleh dibongkar, tetapi jaringan ekonomi dan semangat pemberdayaannya harus tetap berjalan.
Kalau itu bisa diwujudkan, maka Muktamar ke-49 bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga meninggalkan warisan gerakan.
Warisan berupa UMKM yang semakin kuat.
Kader yang semakin kreatif.
Jaringan usaha yang semakin luas.
Dan umat yang semakin berdaya.
Pada akhirnya, semangat “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya” tidak cukup hanya diwujudkan melalui forum dan slogan. Ia harus hadir dalam kehidupan nyata: melalui pendidikan yang mencerdaskan, dakwah yang mencerahkan, ekonomi yang memberdayakan dan kader yang mampu menciptakan manfaat.
Mungkin inilah salah satu cara sederhana kita belajar dari KH Ahmad Dahlan dan generasi awal Muhammadiyah: berilmu, berdakwah, bekerja, berusaha dan tetap menghadirkan kemanfaatan bagi umat dan bangsa.
Karena Muhammadiyah tidak hanya perlu kader yang pandai berbicara tentang kemandirian.
Muhammadiyah juga membutuhkan kader yang mau mulai bekerja membangun kemandirian itu.
Silaturahmi, Kolaborasi, Sinergi, Harmoni. (***)

