Korban Tewas Gempa Venezuela Hampir 1.500 Orang, 50 Ribu Hilang, 774 Bangunan Ambruk
INFOMU.CO | Venezuela – Jumlah korban tewas akibat gempa kembar yang mengguncang pesisir utara Venezuela terus bertambah. Hingga Senin (29/6), sedikitnya 1.450 orang meninggal dunia, lebih dari 3.150 orang terluka, sementara sekitar 50.000 orang masih belum dapat dipastikan keberadaannya ketika tim penyelamat berpacu dengan waktu mencari korban yang diduga masih terjebak di bawah reruntuhan.
Data terbaru yang dihimpun Reuters mencatat sedikitnya 12.721 warga mengungsi setelah dua gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang negara itu pada Rabu (24/6). Bencana tersebut merobohkan atau merusak berat 774 bangunan, terutama di negara bagian La Guaira, wilayah yang mengalami dampak paling parah.
Operasi pencarian masih berlangsung di sejumlah kawasan permukiman, apartemen, sekolah, dan fasilitas umum yang runtuh. Harapan menemukan korban selamat belum sepenuhnya pupus setelah tim SAR berhasil mengevakuasi 33 orang hidup-hidup dari bawah puing selama beberapa hari terakhir, meski peluang itu terus menurun seiring berlalunya waktu sejak gempa terjadi.
Ratusan gempa susulan turut menyulitkan proses evakuasi. Retakan baru pada bangunan yang masih berdiri memaksa petugas menghentikan pencarian beberapa kali demi keselamatan personel penyelamat.
Menurut Reuters, lebih dari 2.600 personel pencarian dan penyelamatan internasional telah bergabung dengan relawan lokal. Mereka membawa kamera pendeteksi kehidupan, radar pencari korban, anjing pelacak, alat pemotong beton, hingga alat berat untuk membuka akses menuju lokasi-lokasi yang diperkirakan masih menyimpan korban selamat.
Bantuan kemanusiaan juga terus mengalir dari berbagai negara. Reuters melaporkan Amerika Serikat mengirim tim urban search and rescue, perlengkapan medis, rumah sakit lapangan, serta bantuan logistik. Tim penyelamat dan bantuan darurat juga datang dari Prancis, Kolombia, Meksiko, Brasil, Argentina, Chile, Spanyol, Portugal, Republik Dominika, Panama, dan sejumlah negara Amerika Latin lainnya. China turut menawarkan bantuan kemanusiaan setelah mengonfirmasi dua warganya menjadi korban meninggal dalam bencana tersebut.
Selain personel SAR, bantuan yang masuk mencakup tenda pengungsian, generator listrik, sistem pemurnian air, makanan siap saji, obat-obatan, peralatan bedah darurat, hingga mesin berat untuk mempercepat pembongkaran puing bangunan.
Pemerintah sementara Venezuela yang dipimpin Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez menyatakan operasi penyelamatan akan terus dilakukan selama masih terdapat peluang menemukan korban hidup. Pemerintah juga memperpanjang penutupan seluruh sekolah di wilayah terdampak, sekaligus mengalihfungsikan banyak gedung sekolah menjadi tempat penampungan sementara bagi ribuan pengungsi.
“Kami tidak akan menghentikan operasi sampai menemukan setiap orang yang masih dapat kami selamatkan,” Rodríguez.
Saat ini sekitar 75 persen pasokan listrik di kawasan terdampak telah berhasil dipulihkan, meski sejumlah wilayah masih mengalami pemadaman bergilir. Di sektor energi, dampak gempa ikut memukul industri minyak Venezuela. Kilang minyak Amuay, salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di negara itu, menghentikan operasinya setelah pasokan listrik terputus akibat gempa. Gangguan tersebut turut memengaruhi distribusi bahan bakar dan aktivitas logistik di sejumlah daerah.
Meski bantuan internasional terus berdatangan, respons pemerintah mendapat sorotan dari warga. Associated Press melaporkan banyak keluarga korban mengaku harus melakukan pencarian secara mandiri selama berjam-jam sebelum alat berat dan tim penyelamat tiba. Sejumlah warga menilai keterbatasan peralatan serta lambatnya koordinasi pada hari-hari pertama memperkecil peluang menyelamatkan korban yang masih hidup.
Keluhan serupa juga muncul di La Guaira, lokasi dengan tingkat kerusakan tertinggi. Dalam laporan Reuters, keluarga korban masih menunggu proses evakuasi di depan bangunan yang runtuh sambil berharap kerabat mereka dapat ditemukan. Seiring bertambahnya korban meninggal, fasilitas penyimpanan jenazah di beberapa rumah sakit dilaporkan mengalami kelebihan kapasitas.
Otoritas Venezuela menyatakan fokus saat ini adalah menyelesaikan operasi pencarian, memastikan distribusi bantuan kemanusiaan berjalan lancar, serta memeriksa keamanan bangunan yang masih berdiri sebelum warga diizinkan kembali ke rumah masing-masing. Sementara itu, ribuan keluarga diperkirakan masih harus bertahan di pengungsian hingga proses pemulihan infrastruktur dasar selesai. (jakartamu)

