KHUTBAH JUMAT : SEBAB- SEBAB KEHANCURAN SUATU NEGERI
(Perspektif Al-Quran dan Hadits)
Oleh : Pratama Muhammad Panjaitan, S.Pd., M.Pd – (Sekretaris Lembaga Seni Budaya PDM Kota Medan)
Khutbah Pertama :
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَسْتَهْدِيْهِ وَنَعُوذُ بِالِلّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ
يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ
فَيَا عِبَادَ الِلّٰهِ¸ أُوْصِيْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ¸ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ
وَقَالَ تَعَالَى ; يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimiin, Rahimani Wa Rohimakumullah,
Hari-hari ini, Indonesia seolah sedang mengajak kita untuk berhenti sejenak dan menatap keadaan negeri dengan hati yang lebih dalam. Di berbagai tempat, kabar tentang bencana datang silih berganti. Banjir yang merendam permukiman daerah Aceh Suamtera Utara dan Sumatera barat tempo lalu, gempa yang mengguncang tanah di Nusa Tenggara Timur pada tanggal 15 Agustus 2026 yang berkekuatan 7,7 magnitudo, kemudian anak gunung Krakatau yang memuntahkan abu vulkanik, gunung Sinabung di Kabupaeten Karo juga sedang Erupsi , di daerah lain Karhutla di Kalimantan juga terjadi secara massif yang melahap 12 ribu Hektar lahan (BPBD Kalsel) , serta berbagai bencana lain yang meninggalkan luka dan kehilangan.Satu bencana belum selesai ditangani, kabar bencana lain kembali datang.
Kita mungkin bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan negeri ini? Alam memang memiliki hukum dan siklusnya sendiri. Gempa bumi, letusan gunung api, hujan lebat, dan berbagai fenomena alam tidak selalu dapat dipahami sebagai akibat langsung dari perilaku manusia. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: mengapa sebuah bencana sering berubah menjadi tragedi besar? Di situlah kita perlu bercermin.
Banjir bukan hanya tentang hujan. Ia juga mengingatkan kita tentang hutan yang hilang, sungai yang dipenuhi sampah, daerah resapan yang berubah menjadi bangunan, dan tata ruang yang terkadang mengabaikan keseimbangan alam.
Kebakaran bukan hanya tentang api. Ia juga mengingatkan kita tentang keserakahan, kelalaian, lemahnya pengawasan, dan bagaimana alam yang seharusnya diwariskan kepada generasi berikutnya bisa diperlakukan seolah-olah tidak akan pernah habis.
Gempa dan letusan gunung mengingatkan kita bahwa manusia, sehebat apa pun teknologi dan kekuasaannya, tetaplah makhluk yang kecil di hadapan kekuatan alam. Dan ketika semua itu terjadi bersamaan dengan berbagai persoalan sosial—ketidakadilan, korupsi, kesenjangan, kerusakan lingkungan, hilangnya kepedulian, serta masyarakat yang semakin mudah terpecah—muncul sebuah pertanyaan besar: Apakah sebuah negeri bisa runtuh bukan hanya karena bencana alam, tetapi juga karena kerusakan yang terjadi di dalam dirinya sendiri?
Sejarah banyak bangsa menunjukkan bahwa kehancuran sebuah negeri tidak selalu dimulai dari perang atau runtuhnya gedung-gedung. Kadang ia dimulai jauh sebelumnya: ketika kejujuran dianggap kelemahan, keserakahan dianggap keberhasilan, hukum hanya tajam kepada yang lemah, kekuasaan lebih penting daripada keadilan, dan alam diperas tanpa memikirkan akibatnya. Sebuah negeri menjadi rapuh ketika manusianya kehilangan rasa malu terhadap kesalahan, kehilangan rasa takut untuk berbuat zalim, dan kehilangan rasa peduli terhadap penderitaan orang lain.
Karena itu, mungkin rangkaian bencana yang kita saksikan hari ini tidak perlu buru-buru kita tafsirkan sebagai tanda bahwa Tuhan sedang menghukum Indonesia. Lebih baik kita menjadikannya sebagai tanda untuk introspeksi. Sebab tanda-tanda kehancuran suatu negeri bukan semata-mata ketika gunung meletus, bumi berguncang, banjir datang, atau api membakar. Tanda kehancuran yang paling mengkhawatirkan justru ketika manusia sudah tidak lagi peduli. Ketika melihat korban bencana kita hanya sibuk mencari siapa yang bisa disalahkan. Ketika penderitaan rakyat menjadi tontonan. Ketika pejabat lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kepercayaan rakyat. Ketika hukum dapat diperjualbelikan. Ketika hutan lebih dihargai setelah ditebang daripada ketika masih berdiri. Ketika sungai baru diperhatikan setelah banjir datang. Ketika kita baru mengingat Tuhan setelah musibah, tetapi melupakan-Nya ketika hidup sedang lapang. Dan ketika sebuah bangsa mengetahui bahwa ada sesuatu yang salah, tetapi memilih diam karena merasa bukan urusannya.
Mungkin inilah saatnya Indonesia tidak hanya membangun kembali rumah-rumah yang rusak, tetapi juga membangun kembali kesadaran manusia di dalamnya. Bukan hanya memperbaiki tanggul, tetapi memperbaiki tata kelola. Bukan hanya memadamkan api, tetapi memadamkan keserakahan. Bukan hanya mengevakuasi korban, tetapi memperkuat kepedulian. Bukan hanya menghitung kerugian, tetapi mengevaluasi kesalahan. Sebab sebuah negeri tidak akan kuat hanya karena memiliki gedung-gedung tinggi, jalan yang panjang, sumber daya alam yang melimpah, dan teknologi yang semakin maju. Sebuah negeri menjadi kuat ketika rakyatnya memiliki keadilan, kejujuran, kepedulian, dan kesadaran untuk menjaga apa yang diwariskan kepada mereka.
Ma’asyiral Muslimiin, Rahimani Wa Rohimakumullah,
Dalam perspektif Al-Quran dan Hadits Nabi Muhammad Sallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, kita menemukan banyak sekali sebab sebab kehancuran suatu negeri diantaranya ada 4 Faktor :
- Kedzaliman dan ketidakadilan
- Kedzaliman :
Allah Berfirman dalam Al- Quran Surah Al-Hajj [22] ayat 45 :
فَكَاَيِّنْ مِّنْ قَرْيَةٍ اَهْلَكْنٰهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلٰى عُرُوْشِهَاۖ وَبِئْرٍ مُّعَطَّلَةٍ وَّقَصْرٍ مَّشِيْدٍ
Artinya : Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan.
Ketidakadilan
Rasulullah Bersabda :
فَإِنَّمَا أَهْلَكَ النَّاسَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمِ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Artinya : Sesungguhnya telah membinasakan umat sebelum kalian, ketika di antara orang-orang terpandang yang mencuri, mereka dibiarkan (tidak dikenakan hukuman). Namun ketika orang-orang lemah yang mencuri, mereka mewajibkan dikenakan hukuman hadd. Demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, seandainya Fatimah puteri Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari no. 4304 dan Muslim no. 1688).
- Merajalelanya Kemungkaran dan Kemaksiatan
Allah Berfirman dalam Al-Quran Surah Ar-Rum [30] Ayat : 41
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Rasulullah Bersabda :
لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوْا بِهَا إِلَّا فَشَا فِيْهِمْ الطَّاعُوْنُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ قَدْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِيْنَ مَضَوْا
Artinya : ”Tidaklah nampak perbuatan keji (zina) di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha’un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi sebelumnya.” [HR. Ibnu Majah, lihat ash-Shahihah no. 106].
Ali bin ABi Thalib Mengatakan :
مَا نَزَلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍِ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
Artinya : Tidaklah musibah itu menimpa, kecuali disebabkan dosa, dan musibah itu tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.
Kufur Nikmat dan Sombong
- Kufur Nikmat
Allah Berfirman dalam Al-Quran Surah An-Nahl [16] Ayat : 112
وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَانَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَىِٕنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِاَنْعُمِ اللّٰهِ فَاَذَاقَهَا اللّٰهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ
Artinya : Allah telah membuat suatu perumpamaan sebuah negeri yang dahulu aman lagi tenteram yang rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari setiap tempat, tetapi (penduduknya) mengingkari nikmat-nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan karena apa yang selalu mereka perbuat.
- Sombong
Allah Berfirman dalam Al-Quran Surah Fushsilat [41] Ayat : 15
فَاَمَّا عَادٌ فَاسْتَكْبَرُوْا فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَقَالُوْا مَنْ اَشَدُّ مِنَّا قُوَّةًۗ اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ الَّذِيْ خَلَقَهُمْ هُوَ اَشَدُّ مِنْهُمْ قُوَّةًۗ وَكَانُوْا بِاٰيٰتِنَا يَجْحَدُوْنَ
Artinya : Adapun (kaum) ‘Ad, mereka menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Mereka berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?” Tidakkah mereka memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan mereka itu lebih hebat kekuatan-Nya daripada mereka? Mereka telah mengingkari tanda-tanda (kebesaran) Kami.
- Meninggalkan Prinsip Amar Maruf Nahi Munkar
Allah Berfirman dalam Al-Quran Surah Ali-Imran [3] Ayat : 104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya : Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Rasulullah Bersabda :
إنَّ النَّاسَ إذا رأَوُا الظَّالمَ فلم يأخُذوا على يدَيْه أوشك أن يعُمَّهم اللهُ بعقابٍ
Artinya : Sesungguhnya jika manusia melihat seseorang melakukan kezhaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang itu, maka Allah akan meratakan adzab kepada mereka semua. [HR Abu Dâwud, at-Tirmidzi).
Ma’asyiral Muslimiin, Rahimani Wa Rohimakumullah,
Semoga kita semua menjadi manusia yang peka akan peringatan Allah, Alam yang allah karuniakan ini mari kita jaga bersama, karena allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kita merubah apa yang ada pada diri kita meuju kearah yang lebih baik
Allah Berfirman dalam Quran Surah Ar-Rad [13] Ayat : 11
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ …..
Artinya : ….. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka……
فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَار
Khutbah Kedua :
الحمدُ للهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا
مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيَ الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَخُصُوصًا فِي فِلَسْطِينَ وَغَيْرِهَا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَ الْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُون

