• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Ketika Sepak Bola Menunjukkan Wajah Kemanusiaannya

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
20 Juli 2026
in Kolom
0
Ketika Sepak Bola Menunjukkan Wajah Kemanusiaannya
Oleh : Jufri 
Di antara semua selebrasi dan teriakan kemenangan Spanyol yang memenuhi stadion, ada satu momen kecil yang justru membungkam semua suara itu.
Lamine Yamal, 19 tahun, baru saja menjadi juara dunia. Trofi Piala Dunia ada di sana menunggunya. Rekan-rekannya merayakan kemenangan. Stadion bergemuruh. Dunia menyaksikan lahirnya  juara baru piala dunia .
Namun, Yamal memilih berjalan ke arah yang berbeda.
Ia berjalan menuju Lionel Messi yang berdiri dengan kesedihan yang tidak dapat disembunyikannya. Yamal kemudian menghibur Messi.
Sebuah pemandangan sederhana, tetapi sangat manusiawi. Seorang Junior sedang menghibur dan menghormati senior dan idolanya .
Saya juga yakin, Messi tidak terlalu larut dalam kesedihan. Tentu saja ia kecewa karena Argentina kalah. Setiap pemain tentu ingin memenangkan final Piala Dunia. Tetapi mungkin ada perasaan yang berbeda ketika yang mengalahkan Argentina adalah Spanyol.
Spanyol dan Argentina memiliki sejarah panjang. Argentina pernah menjadi bagian dari imperium kolonial Spanyol. Hubungan sejarah dan migrasi antara kedua negeri itu juga sangat panjang. Tidak sedikit warga Argentina yang memiliki leluhur Spanyol.
Karena itu, ketika Spanyol mengalahkan Argentina, ada hubungan sejarah yang tidak bisa begitu saja dihapus oleh sebuah pertandingan sepak bola.
Apalagi, para pemain Spanyol tetap menunjukkan penghormatan kepada para pemain Argentina, terutama kepada Lionel Messi. Mereka tahu siapa Messi. Mereka tahu sejarah dan kebesaran namanya.
Messi bukan sekadar pemain yang mereka kalahkan di final.
Ia adalah salah satu legenda terbesar dalam sejarah sepak bola dunia.
Dan Spanyol memang pantas menjadi juara.
Mereka bermain dengan kualitas, konsistensi, dan keberanian. Mereka tidak hanya memenangkan pertandingan, tetapi juga menunjukkan bahwa generasi baru sepak bola Spanyol telah menemukan jalannya sendiri.
Namun, di tengah kemenangan itu, tetap ada penghormatan kepada yang kalah.
Jika yang terjadi sebaliknya, Argentina yang menjadi juara dunia, saya yakin Messi pun akan melakukan hal yang sama kepada Yamal.
Sebab, mereka bukan sekadar dua pemain yang kebetulan bertemu di final Piala Dunia.
Ada sejarah panjang yang menghubungkan mereka.
Messi adalah salah satu legenda terbesar Barcelona. Yamal adalah generasi baru yang tumbuh dari akademi sepak bola yang sama. Keduanya menjadi mata rantai yang tak terpisahkan dari perjalanan panjang klub yang sama.
Messi pernah menjadi masa kini Barcelona. Yamal kini sedang menjadi masa depannya.
Maka ketika Yamal berjalan menghampiri Messi untuk menghiburnya, yang kita lihat bukan sekadar seorang pemain muda Spanyol yang menghibur pemain senior Argentina.
Ada masa lalu yang bertemu dengan masa depan.
Ada seorang legenda yang telah menulis sejarah, dan seorang anak muda yang kini mulai menulis sejarahnya sendiri.
Di lapangan, mereka boleh menjadi lawan. Argentina dan Spanyol boleh bertarung untuk menjadi juara dunia. Tetapi di luar lapangan, ada rasa hormat, persahabatan, sejarah, dan hubungan kemanusiaan yang jauh lebih panjang daripada 90 menit pertandingan.
Begitulah sepak bola.
Ia memang berbicara tentang skor, trofi, kemenangan dan kekalahan. Tetapi di balik semua itu, sepak bola juga memperlihatkan sisi manusia: tentang menghormati yang kalah, menghibur yang bersedih, dan tetap memiliki hati ketika dunia sedang bersorak merayakan kemenangan.
Barangkali itulah keindahan sepak bola.
Seorang pemain dapat mengalahkan idolanya di lapangan, tetapi tetap menghormatinya di luar pertandingan.
Seorang juara dapat merayakan kemenangannya, tetapi tetap mampu melihat kesedihan orang lain.
Dan seorang pemain muda dapat berdiri di puncak kejayaan, tetapi tetap memiliki kerendahan hati untuk menghampiri seorang legenda.
Messi kalah di final.
Tetapi yang mengalahkannya adalah Spanyol—sebuah negeri yang memiliki hubungan sejarah panjang dengan Argentina, sebuah negeri yang memiliki hubungan erat dengan sejarah Barcelona, dan sebuah negeri yang kini melahirkan generasi baru yang tetap menghormati legenda yang telah lebih dahulu menulis sejarah.
Seorang juara sejati bukan hanya mereka yang mampu mengangkat trofi.
Tetapi juga mereka yang tetap mampu melihat air mata orang lain, bahkan ketika dirinya sendiri sedang berada di puncak kebahagiaan.
Dan di antara gemerlap Piala Dunia, mungkin momen kecil antara Yamal dan Messi itulah yang justru paling lama diingat manusia.
Karena sepak bola bukan hanya tentang siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Sepak bola juga tentang bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.
Namun, di balik semua itu, saya tetap memiliki satu bayangan dan harapan yang berbeda.
Saya tetap membayangkan Indonesia menjadi juara dunia.
Bukan lagi Spanyol. Bukan Argentina. Bukan Prancis, Jerman, atau Brasil.
Suatu hari nanti, semoga kita menyaksikan Merah Putih berkibar di stadion terbesar dunia. Semoga kita mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan setelah pertandingan final Piala Dunia.
Dan saat itu, kita tidak lagi hanya menjadi penonton yang mengagumi Messi, Yamal, Mbappe, atau para bintang dunia lainnya.
Kita akan menyaksikan anak-anak Indonesia mengangkat trofi Piala Dunia.
Mungkin hari itu masih jauh.
Tetapi bukankah semua sejarah besar selalu dimulai dari sebuah mimpi?
Dan saya tetap ingin bermimpi.
Karena dalam sepak bola, sebagaimana dalam kehidupan, tidak ada yang benar-benar mustahil bagi mereka yang mau bekerja keras, membangun sistem yang baik, melakukan pembinaan dengan sungguh-sungguh, dan berani bermimpi besar.
Saya tetap membayangkan Indonesia juara dunia.
Suatu hari nanti.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: jufrikolomSEPAKBOLA
Previous Post

Dosen AIK FAI-FEB UMSU Tunjukkan Kreativitas Lewat “Bubur Rempah Nusa” dan “Teh Telang” Kekayaan Indonesia

Next Post

Kick Off CRM Award VII Digelar di Gombong, Muhammadiyah Perkuat Gerakan Cabang dan Ranting

Next Post
Kick Off CRM Award VII Digelar di Gombong, Muhammadiyah Perkuat Gerakan Cabang dan Ranting

Kick Off CRM Award VII Digelar di Gombong, Muhammadiyah Perkuat Gerakan Cabang dan Ranting

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.