• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Kader Muhammadiyah: Bukan Sekadar Pewaris Jabatan, Tetapi Pelanjut Perjuangan

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
31 Agustus 2026
in Kolom
0

Kader Muhammadiyah: Bukan Sekadar Pewaris Jabatan, Tetapi Pelanjut Perjuangan

Oleh : Jufri

 

Berbicara tentang Muhammadiyah, kita tidak hanya berbicara tentang sebuah organisasi Islam yang telah berusia lebih dari satu abad. Kita sedang berbicara tentang sebuah gerakan yang mampu bertahan, berkembang, dan terus memberikan manfaat karena memiliki kader yang dari generasi ke generasi melanjutkan perjuangannya.

Karena itu, kader Muhammadiyah sesungguhnya bukan sekadar anggota organisasi, apalagi hanya mereka yang sedang duduk dalam struktur kepengurusan. Kader adalah mereka yang dipersiapkan untuk memahami nilai, meneruskan cita-cita, menghidupkan gerakan, sekaligus melakukan pembaruan agar Muhammadiyah tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Tugas seorang kader tidak berhenti ketika mendapatkan jabatan. Justru di situlah tanggung jawab sebenarnya dimulai.

Kader Muhammadiyah harus mampu menjadi pelangsung, pelopor dan penyempurna amal usaha serta gerakan Muhammadiyah. Ia dituntut memiliki pemahaman ideologi, kemampuan organisasi, kompetensi profesional, sekaligus integritas pribadi. Sebab Muhammadiyah tidak cukup hanya memiliki banyak orang yang loyal kepada organisasi, tetapi juga membutuhkan orang-orang yang memiliki kapasitas dan mampu memberikan solusi bagi persoalan umat dan bangsa.

Di lingkungan kampus Muhammadiyah, misalnya, kita mengenal Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dengan semangat “Anggun dalam Moral, Unggul dalam Intelektual.” Jargon itu sesungguhnya menggambarkan bagaimana seorang kader mahasiswa Muhammadiyah idealnya dibentuk: memiliki akhlak dan moral yang baik, tetapi sekaligus unggul dalam ilmu pengetahuan.

Begitu pula Pemuda Muhammadiyah dengan semangat Fastabiqul Khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Demikian pula seluruh organisasi otonom Muhammadiyah. Masing-masing memiliki karakter dan ruang pengabdian, tetapi semuanya bermuara pada tujuan besar Muhammadiyah: dakwah amar makruf nahi mungkar dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi kehidupan.

Karena itu, jargon perjuangan jangan sampai berhenti sebagai slogan. Ia harus menjadi karakter.

Anggun dalam moral harus terlihat dalam akhlak. Unggul dalam intelektual harus terlihat dalam kualitas pemikiran. Fastabiqul Khairat harus terlihat dalam amal dan pengabdian.

Dan ada satu hal penting yang tidak boleh dilupakan: kader seharusnya memudahkan dan menguatkan langkah Muhammadiyah, bukan justru mempersulit dan melemahkannya.

Kader boleh berbeda pendapat. Bahkan kader harus memiliki keberanian untuk berpikir kritis. Sebab organisasi yang besar membutuhkan pikiran-pikiran kritis agar tidak terjebak dalam rutinitas, merasa selalu benar, atau kehilangan kemampuan membaca perubahan zaman.

Tetapi sikap kritis tidak identik dengan sikap kasar.

Kritik yang baik adalah kritik yang lahir dari kepedulian, disampaikan dengan ilmu, argumentasi dan akhlak. Kader Muhammadiyah boleh menyampaikan ketidaksetujuan, tetapi tidak perlu merendahkan. Boleh mengoreksi keputusan, tetapi tidak harus mempermalukan orang yang mengambil keputusan. Boleh berbeda pandangan, tetapi tetap menjaga ukhuwah dan marwah persyarikatan.

Kritis boleh, sinis jangan. Tegas boleh, kasar jangan. Berbeda pendapat boleh, tetapi jangan sampai perbedaan membuat langkah persyarikatan menjadi berat.

Di sinilah kedewasaan kader diuji.

Sebab terkadang yang membuat sebuah organisasi lemah bukan karena kurangnya orang pintar, tetapi karena orang-orang yang pintar tidak mampu mengelola perbedaan dengan baik. Kritik yang seharusnya menjadi energi perbaikan justru berubah menjadi konflik yang menghabiskan energi.

Muhammadiyah membutuhkan kader yang mampu mengatakan “ini kurang tepat” sekaligus menawarkan jalan keluarnya. Bukan sekadar menunjukkan kesalahan, tetapi ikut memperbaikinya. Bukan hanya pandai mengkritik dari luar arena, tetapi bersedia turun tangan ketika diperlukan.

Itulah kritik yang konstruktif.

Kader Muhammadiyah juga harus memahami bahwa dirinya bukan pemilik Muhammadiyah. Kita semua hanya bagian kecil dari perjalanan panjang sebuah persyarikatan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya dan akan diteruskan kepada generasi sesudah kita.

Hari ini kita mungkin memimpin. Besok kita mungkin dipimpin. Hari ini kita dipercaya mengambil keputusan. Besok mungkin keputusan itu berada di tangan kader lain.

Karena itu, jangan sampai kepentingan pribadi, kelompok, atau perebutan posisi membuat kita lupa bahwa Muhammadiyah jauh lebih besar daripada diri kita.

Kaderisasi juga tidak boleh hanya menghasilkan orang yang pandai mendapatkan jabatan. Kaderisasi harus melahirkan manusia yang siap bekerja, siap berkorban, siap menerima kritik, siap mengkritik dengan elegan, dan siap menyerahkan amanah ketika waktunya tiba.

Sebab keberhasilan kaderisasi bukan ketika kita berhasil mempertahankan jabatan selama mungkin, tetapi ketika kita mampu melahirkan kader yang suatu saat bisa menggantikan kita, bahkan mungkin lebih baik daripada kita.

Di sinilah pentingnya regenerasi.

Muhammadiyah tidak boleh bergantung kepada figur tertentu. Organisasi sebesar Muhammadiyah harus terus berjalan meskipun orang-orangnya berganti. Hari ini kita memimpin, besok mungkin kita hanya menjadi anggota. Hari ini kita diberi amanah, suatu saat amanah itu akan berpindah kepada generasi berikutnya.

Di sisi lain, kader Muhammadiyah juga harus memiliki kemandirian. Berkiprah di berbagai bidang kehidupan, termasuk politik, pemerintahan, dunia usaha dan profesi lainnya, tentu bukan sesuatu yang harus ditakuti. Muhammadiyah membutuhkan kader yang hadir di banyak ruang.

Namun, di mana pun kader berada, nilai dan marwah Muhammadiyah harus tetap dijaga.

Kader boleh memiliki profesi, karier dan penghasilan yang baik. Bahkan menjadi kader yang profesional dan mandiri secara ekonomi merupakan sesuatu yang penting. Mengabdi kepada Muhammadiyah tidak berarti seseorang harus mengabaikan kebutuhan hidupnya. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai pengabdian kepada Muhammadiyah berubah menjadi sekadar jalan untuk mencari keuntungan pribadi atau jabatan.

Wasiat KH Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” seharusnya menjadi renungan yang terus hidup dalam perjalanan kader.

Kalimat itu bukan berarti kader Muhammadiyah tidak boleh bekerja, mendapatkan penghasilan, atau berkiprah secara profesional di amal usaha Muhammadiyah. Maknanya lebih dalam: jangan menjadikan Muhammadiyah sebagai alat untuk kepentingan pribadi. Justru kader harus mampu memberikan hidup, pikiran, tenaga, ilmu dan pengabdiannya untuk membesarkan Muhammadiyah.

Pada akhirnya, kader Muhammadiyah adalah kader umat, kader bangsa dan kader kemanusiaan.

Ia tidak hanya bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari Muhammadiyah?” tetapi lebih dahulu bertanya, “Apa yang sudah saya berikan kepada Muhammadiyah?”

Pertanyaan sederhana itu penting, karena masa depan Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh besarnya amal usaha, banyaknya gedung, atau banyaknya struktur organisasi. Masa depan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kualitas manusianya.

Dan manusia itulah kader.

Maka kaderisasi sejatinya bukan sekadar kegiatan pelatihan, perkaderan formal, atau pergantian kepengurusan. Kaderisasi adalah proses panjang untuk menanamkan nilai, membangun kapasitas, menumbuhkan keteladanan dan mempersiapkan generasi yang sanggup melanjutkan perjuangan.

Jika kader hari ini mampu melahirkan kader baru yang lebih baik, maka sesungguhnya ia telah meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada sebuah jabatan.

Sebab jabatan akan berakhir, tetapi kader yang tumbuh dari keteladanan kita akan terus berjalan membawa perjuangan.

Itulah hakikat kader Muhammadiyah: bukan pewaris kursi, tetapi pelanjut perjuangan. Bukan pencari posisi, tetapi pemberi kontribusi. Kritis tanpa kehilangan akhlak, tegas tanpa kehilangan adab, dan berbeda tanpa harus memecah. Kader hadir untuk memudahkan dan menguatkan langkah Muhammadiyah, bukan mempersulit apalagi melemahkannya.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: jufrikolompewaris
Previous Post

AM3 LPCR-PM PWM Sumut Resmi Ditutup, Tiga Peserta Terbaik Raih Apresiasi

Next Post

Eksperimen Federal Negara Sumatera Timur (NST) sebagai Cermin Dekolonisasi yang Gagal: Pelajaran untuk Struktur Penghisapan Kontemporer

Next Post
Menakar Ilusi UU Perampasan Aset: Mengapa Regulasi Baru Hanya Menjadi Distraksi Teknokratik

Eksperimen Federal Negara Sumatera Timur (NST) sebagai Cermin Dekolonisasi yang Gagal: Pelajaran untuk Struktur Penghisapan Kontemporer

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.