• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Islam Berkemajuan: Risalah yang Tak Pernah Berhenti

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
11 September 2026
in Kolom
0

Islam Berkemajuan: Risalah yang Tak Pernah Berhenti

Oleh: Jufri

 

Pagi ini saya kembali membaca sebuah pidato KH Ahmad Dahlan yang disampaikan dalam Kongres Muhammadiyah ke-11 di Yogyakarta tahun 1922. Judulnya menarik: “Tali Pengikat Hidup Manusia.”

Sudah lebih satu abad telah berlalu, tetapi beberapa gagasan yang disampaikan pendiri Muhammadiyah itu terasa seperti sedang berbicara kepada kita hari ini.

KH Ahmad Dahlan mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya memiliki akar yang sama. Semua berasal dari satu nenek moyang, Nabi Adam dan Hawa. Karena itu, kehidupan manusia seharusnya dibangun dengan persatuan hati, pengetahuan, kebersamaan dan kepedulian.

Yang menarik, beliau juga memberikan kritik kepada para pemimpin yang belum bersatu hati, saling mengabaikan pengetahuan dan bahkan menolak pengetahuan yang datang dari orang lain. Akibatnya, pemikiran menjadi sempit dan manusia mudah terjebak dalam perselisihan.

Bukankah persoalan seperti itu masih kita temukan sekarang?

Zaman memang berubah. Teknologi berkembang luar biasa. Informasi begitu mudah diperoleh. Tetapi kemajuan ilmu pengetahuan tidak otomatis membuat manusia semakin bijaksana. Kita masih bisa menyaksikan orang berilmu tetapi sulit menerima ilmu dari orang lain, orang pintar tetapi mudah merendahkan, bahkan orang yang memiliki posisi justru merasa paling benar.

Di sinilah saya melihat pentingnya kembali memahami gagasan Islam berkemajuan.

Meski istilah Islam Berkemajuan sering dipopulerkan Muhammadiyah, pada dasarnya berkemajuan adalah watak Islam itu sendiri. Islam mengajak manusia untuk maju, bergerak dan menghadirkan kebaikan. Karena itu Muhammadiyah disebut gerakan.

Namanya gerakan, ya harus bergerak.

Tentu bukan berarti semua orang harus bergerak dengan cara yang sama. Setiap orang bergerak sesuai kemampuan, keahlian, kesempatan dan amanah masing-masing, dengan satu orientasi: mengharap ridha Allah SWT.

Ada yang bergerak melalui pendidikan, ada yang melalui dakwah, kesehatan, sosial, ekonomi, kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan berbagai bidang kehidupan lainnya.

Muhammad Abduh pernah mengemukakan sebuah ungkapan yang sangat menarik: umat Islam mundur karena meninggalkan agamanya, sementara orang Barat maju karena meninggalkan agamanya.

Kalimat ini bukan sekadar untuk membandingkan Islam dan Barat. Saya menangkap pesan yang lebih dalam: jika Islam dijalankan dengan benar, maka Islam semestinya melahirkan kemajuan, karena Islam memang mendorong manusia untuk berilmu, menggunakan akal, bekerja, berbuat baik dan memberi manfaat.

Mungkin karena itulah sejak awal Muhammadiyah tidak berhenti pada wacana.

Para pimpinan dan warga Muhammadiyah dari generasi ke generasi terbiasa berpikir: apa yang akan dibuat, apa yang akan dibangun, apa yang perlu dibeli, siapa yang harus dibantu, sekolah apa yang perlu didirikan, rumah sakit apa yang harus dikembangkan, dan amal apa yang bisa diberikan kepada masyarakat.

Dari tradisi berpikir dan bergerak seperti itulah kemudian lahir begitu banyak amal usaha Muhammadiyah di berbagai bidang.

Jadi, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid dan berbagai amal usaha lainnya sesungguhnya bukan sekadar bangunan fisik. Di baliknya ada pikiran, keberanian, pengorbanan dan visi tentang masa depan.

Inilah yang saya kira perlu terus diwarisi oleh generasi Muhammadiyah hari ini: jangan hanya bertanya apa yang sudah dimiliki Muhammadiyah, tetapi juga bertanya apa yang belum dimiliki dan apa yang bisa kita lakukan untuk menambah kemanfaatannya.

Islam berkemajuan bukan berarti mengejar kemajuan dunia semata. Kemajuan harus tetap berada dalam bingkai iman, akhlak dan kemaslahatan.

Karena itu, Islam berkemajuan bukan berarti mengubah Islam agar mengikuti zaman, tetapi menghadirkan nilai-nilai Islam untuk menjawab persoalan zaman.

Inilah yang membuat pemikiran KH Ahmad Dahlan tetap relevan.

Beliau tidak hanya mengajarkan manusia untuk beragama, tetapi juga mendorong manusia menggunakan akal, mencari pengetahuan, membangun persatuan dan melakukan amal nyata.

Hari ini Muhammadiyah membawa semangat itu dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, kemanusiaan dan kebangsaan.

Karena itu, ketika Muhammadiyah berbicara tentang “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya”, saya melihatnya sebagai kelanjutan dari cita-cita panjang untuk menjadikan Islam sebagai kekuatan yang mencerdaskan manusia dan menghadirkan cahaya bagi kehidupan.

Dari KH Ahmad Dahlan kita belajar bahwa kemajuan tidak cukup hanya dengan banyaknya lembaga, gedung, teknologi atau jumlah orang berpendidikan.

Kemajuan juga membutuhkan hati yang bersatu, pikiran yang terbuka, ilmu yang terus dicari dan amal yang memberi manfaat.

Zaman boleh berubah.

Teknologi boleh semakin canggih.

Generasi boleh berganti.

Tetapi risalah Islam untuk mencerahkan, mencerdaskan dan menghadirkan rahmat bagi kehidupan tidak pernah berhenti.

Dan Muhammadiyah, insya Allah, terus menjadi bagian dari perjalanan panjang itu.

Islam berkemajuan bukan hanya istilah, bukan pula sekadar slogan. Ia adalah semangat untuk terus bergerak, berpikir, beramal dan memberi manfaat—sesuai kemampuan masing-masing, dengan mengharap ridha Allah SWT.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: islam berkemajuanjufrikolom
Previous Post

Pasca Bencana Hidrometeorologi 2025, Dua Jembatan Utama di Aceh Siap Beroperasi

Next Post

LazisMu Sumut Lakukan Pendampingan dan Penguatan LazisMu Daerah

Next Post
LazisMu Sumut Lakukan Pendampingan  dan Penguatan LazisMu Daerah

LazisMu Sumut Lakukan Pendampingan dan Penguatan LazisMu Daerah

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.