• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Idulfitri Adalah Momentum Transformasi Ihsan Menjadi Gerakan Sosial Berkemajuan

Idulfitri Adalah Momentum Transformasi Ihsan Menjadi Gerakan Sosial Berkemajuan

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
23 Maret 2026
in Kabar
0
Idulfitri Adalah Momentum Transformasi Ihsan Menjadi Gerakan Sosial Berkemajuan

INFOMU.CO |  Yogyakarta – Gema takbir, tahlil, dan tahmid membubung tinggi menyambut datangnya 1 Syawal 1447 Hijriah yang jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.

Di tengah suasana penuh syukur tersebut, Ketua Lembaga Resiliensi Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Setiawan, menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya gaya hidup “Ihsan” dalam bingkai kemajuan dan kemanusiaan.

Khutbah yang disampaikan di hadapan jemaah salat Id Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Jumat (20/03) ini menyoroti berbagai isu, mulai dari dinamika global hingga penerapan sistem penanggalan baru di lingkungan Muhammadiyah.

Dalam pembukaannya, Budi Setiawan mengajak jemaah untuk tidak melupakan saudara-saudara yang merayakan Idulfitri dalam keterbatasan. Ia menyinggung memanasnya situasi geopolitik dunia serta nasib warga Indonesia yang masih berjuang di tenda pengungsian akibat bencana alam, seperti di Sumatra.

“Tentu masih ada sisa-sisa duka yang tidak mungkin hilang begitu saja. Namun, syukur harus tetap ditumbuhkembangkan karena ia menimbulkan semangat optimis menghadapi segala sesuatu yang tidak mengenakkan,” ujarnya.

Ada yang istimewa pada Idulfitri 1447 H kali ini. Budi menjelaskan bahwa Muhammadiyah untuk pertama kalinya resmi menetapkan penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem ini menggunakan prinsip satu tanggal dan satu hari yang sama untuk seluruh dunia, selaras dengan dunia yang semakin mengglobal dan menyatu berkat kemajuan teknologi.

Ia memaparkan secara saintifik bahwa akurasi hitungan astronomi saat ini sangat teliti, bahkan merujuk pada getaran atom sesium yang presisi.

“KHGT perlu terus disosialisasikan dan didialogkan secara ilmiah dan syar’i. Ini adalah upaya melayani umat agar memiliki kepastian dalam beribadah,” tambah Budi.

Ihsan sebagai Lifestyle Berkemajuan

Tema sentral dalam khutbah ini adalah makna Ihsan, yang disebut dalam Al-Qur’an lebih dari 160 kali. Ia menegaskan bahwa Ihsan merupakan sebuah komitmen untuk bekerja secara maksimal, indah, dan berkualitas tinggi dalam setiap aspek kehidupan.

Ia menggarisbawahi bahwa Ihsan adalah tingkat tertinggi dalam beragama. Dalam konteks sosial, Ihsan berarti menolak bekerja secara “secukupnya” atau sekadar menjalankan rutinitas (business as usual).

“Ihsan mengisyaratkan tindakan untuk selalu lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih bermakna. Pasca-Ramadan, umat Islam harus menjadi Muhsin—orang yang selalu berbuat Ihsan,” tegasnya di hadapan jemaah.

Budi membedah implementasi nyata Ihsan dalam gerak organisasi Muhammadiyah yang tidak boleh berhenti pada santunan semata:

Ihsan diwujudkan melalui semangat berinfak baik di waktu lapang maupun sempit. Ia menekankan bahwa penanganan kemiskinan adalah problem kompleks yang butuh akses politik dan perlindungan hukum, bukan sekadar bagi-bagi bantuan.

Sebagai pimpinan MDMC, Budi mengkritik pandangan fatalistik yang menganggap bencana semata-mata takdir atau amarah Tuhan. Menurutnya, Ihsan dalam kebencanaan adalah berpikir kritis mencari faktor penyebab dan melakukan aksi mitigasi yang terukur.

Ia mencontohkan kerja relawan di lapangan sebagai bentuk Ihsan yang presisi. “Memberikan bantuan harus sesuai kebutuhan spesifik. Jangan sampai anak-anak mendapat makanan orang dewasa, atau lansia dan ibu hamil tidak mendapatkan layanan yang proporsional,” tambahnya.

Ihsan juga mencakup pemenuhan hak-hak kelompok difabel melalui penyediaan fasilitas alat bantu, serta memberikan ruang luas bagi kepemimpinan perempuan di wilayah publik.

Ruang Luas untuk Perempuan

Budi juga memberikan catatan khusus mengenai isu-isu sosial kontemporer. Ia menyerukan pentingnya memberikan ruang luas bagi perempuan di wilayah publik, termasuk dalam kepemimpinan organisasi dan lembaga fatwa. Selain itu, perlindungan anak sebagai amanah bangsa dan sikap proporsional terhadap penyandang disabilitas menjadi sorotan penting.

Terkait kebencanaan, Ketua MDMC ini mengajak umat Islam untuk berpikir kritis. Ia menegaskan bahwa bencana tidak boleh hanya dipandang sebagai takdir atau amarah Tuhan karena kelalaian ibadah, tetapi harus dianalisis faktor penyebabnya secara ilmiah agar dapat dimitigasi dengan tepat.

Menutup khutbahnya, Budi Setiawan memimpin doa yang menyentuh hati, memohon ampunan bagi kedua orang tua dan kesehatan bagi yang sakit. Ia juga menyelipkan doa khusus bagi para pemimpin bangsa agar senantiasa diberikan petunjuk dalam menjaga amanah dan mampu membedakan antara yang hak (benar) dan yang batil (salah).

“Semoga semangat berkemajuan dalam bingkai iman yang kuat mampu menimbulkan harapan positif dan wujud ihsan dalam kehidupan kita sehari-hari,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: budi setiawanidul fitri
Previous Post

Setelah Lebaran, Mari Kita Tunaikan Puasa Sunnah 6 Hari di Bulan Syawal

Next Post

Polemik Tahanan Rumah Gus Yaqut, ‘Pimpinan KPK Layak Diperiksa’

Next Post
Polemik Tahanan Rumah Gus Yaqut, ‘Pimpinan KPK Layak Diperiksa’

Polemik Tahanan Rumah Gus Yaqut, ‘Pimpinan KPK Layak Diperiksa’

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.