• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Ramadhan di Tengah Bencana: Ujian Iman atau Krisis Empati?

Harta Pimpinan: Keteladanan dan Ilmu

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
4 Maret 2026
in Opini
0
Harta Pimpinan: Keteladanan dan Ilmu
Oleh : Padian Adi S. Siregar – Ketua PC Muhammadiyah Kampung Durian-Medan
Kekuasaan seringkali diukur dari fasilitas, gaji, atau kemewahan yang menyertainya. Namun sejarah dan etika menegaskan: harta pimpinan sesungguhnya bukan angka di rekening atau gedung yang ditempati, melainkan keteladanan dan ilmu yang ia wariskan. Tanpa itu, semua simbol jabatan hanyalah pajangan yang menutupi kekosongan moral.
Seorang pimpinan yang sejati tidak menggunakan jabatan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, termasuk untuk memperoleh posisi atau pekerjaan di lembaga tertentu, bahkan di amal usaha sekalipun. Jabatan adalah amanah, bukan tiket untuk memuluskan kepentingan diri atau kelompok tertentu. Keteladanan seorang pimpinan muncul ketika ia menempatkan kepentingan masyarakat dan keberlangsungan lembaga di atas kepentingan pribadi, serta menahan diri dari praktik yang merugikan pihak lain.
Ilmu menjadi “mata uang” utama kepemimpinan. Keputusan yang bijak lahir dari pengetahuan dan pertimbangan yang berpihak pada kebaikan bersama, bukan dari upaya menjaga citra atau memanfaatkan fasilitas jabatan. Tanpa ilmu, fasilitas yang tampak mewah sekalipun dapat berubah menjadi alat dominasi, bukan alat pelayanan. Tanpa keteladanan, jabatan hanyalah panggung sandiwara yang menutupi ketidaksadaran moral.
Fenomena kontemporer menunjukkan ironi yang tajam: pada periode tertentu, ada sebagian kecil pimpinan justru menggunakan posisi mereka untuk mengganti atau menggeser mata pencaharian orang yang telah lebih dahulu bekerja di amal usaha, atau menambah beban sumber daya lembaga karena memasukkan diri atau orang dekatnya sebagai pekerja. Prosedur formal mungkin dipenuhi, tetapi etika moral diabaikan. Kritik dianggap mengganggu, dan mereka yang berada di lingkaran elite bebas memanfaatkan fasilitas seolah menjadi hak istimewa. Ironisnya, jabatan yang seharusnya menjadi sarana pelayanan masyarakat, berubah menjadi instrumen yang menekan yang lemah dan menambah beban organisasi.
Seorang pimpinan yang bijak mengingatkan bahwa keteladanan dan ilmu adalah harta sesungguhnya. Ia menempatkan setiap kebijakan dan tindakan sebagai cermin moral yang dapat diikuti masyarakat, bukan sekadar sebagai simbol status atau sarana kepentingan pribadi. Dengan keteladanan dan ilmu, seorang pimpinan menegakkan batas moral yang menjaga agar jabatan tidak disalahgunakan untuk menggeser hak orang lain atau membebani sumber daya amal usaha.
Oleh karena itu, integritas seorang pimpinan diukur bukan dari fasilitas atau posisi yang dikuasai, tetapi dari kemampuan menahan diri dan memprioritaskan kepentingan publik. Barang siapa mengabaikan prinsip ini, mungkin memperoleh semua kemewahan jabatan dan akses, tetapi kehilangan harta yang paling berharga: integritas, kredibilitas, dan manfaat nyata bagi masyarakat serta kelangsungan lembaga yang dipimpinnya. (***)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: keteladanan dan ilmuopinipadian adi s.siregar
Previous Post

Tim Muballigh Hijran Pondok Pesantren KHA Dahlan Diberangkatkan ke Palas dan Madina

Next Post

Meneguhkan Ideologi, Menguatkan Langkah Persyarikatan

Next Post
Menata Dakwah Berbasis Data: Pelatihan SiCARA dan SiMasMu LPCR PM PWM Sumut di Tebing Tinggi

Meneguhkan Ideologi, Menguatkan Langkah Persyarikatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.