• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Empat Pilar Takwa Harus Dibangun Sejak Keluarga

Empat Pilar Takwa Harus Dibangun Sejak Keluarga

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
14 Juli 2026
in Literasi, Pendidikan
0
Empat Pilar Takwa Harus Dibangun Sejak Keluarga

 

INFOMU.CO |  Yogyakarta – Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, mengajak umat Islam untuk menjadikan ketakwaan sebagai proses pembentukan karakter yang terus diupayakan sepanjang hayat.

Menurutnya, seluruh ibadah yang dijalankan seorang muslim pada akhirnya bermuara pada terbentuknya pribadi yang bertakwa, yaitu pribadi yang mampu mengendalikan diri, menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup, bersikap qanaah, serta selalu mempersiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

Hal itu disampaikan dalam Pengajian Ahad Pagi Kliwon di Masjid Al-Musannif Tabligh Institute Muhammadiyah Yogyakarta, Ahad (12/07).

Mengawali pemaparannya, Evi mengingatkan bahwa seruan untuk bertakwa selalu hadir dalam berbagai kesempatan, termasuk khutbah Jumat. Namun, menurutnya, ketakwaan bukanlah status yang selesai dicapai, melainkan proses yang harus terus diperjuangkan hingga akhir hayat.

“Sesungguhnya semua ibadah yang kita jalankan ujung-ujungnya adalah berproses menjadi orang yang bertakwa. Takwa itu proses terus-menerus yang tidak pernah berhenti sampai akhir hayat,” ujarnya.

Empat Pilar Ketakwaan

Ia kemudian mengutip atsar dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang empat pilar ketakwaan. Evi menegaskan bahwa riwayat tersebut bukan hadis, melainkan atsar sahabat yang memberikan gambaran mengenai karakter seorang yang bertakwa.

Pilar pertama adalah al-khauf min al-Jalil, yakni memiliki rasa takut kepada Allah Swt. Menurut Evi, rasa takut yang dimaksud bukan ketakutan yang bersifat patologis atau gangguan psikologis, melainkan kesadaran bahwa seluruh perbuatan manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah.

“Takut di sini adalah rasa khawatir yang dilandasi kesadaran. Jangan-jangan apa yang kita lakukan melanggar ketentuan Allah. Kesadaran inilah yang membuat seseorang hidup lebih hati-hati,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kesadaran akan pengawasan Allah akan melahirkan self control atau pengendalian diri. Seseorang akan berhati-hati dalam bertindak meskipun tidak ada manusia yang melihatnya.

Untuk memudahkan pemahaman jamaah, Evi mengibaratkan pengawasan Allah seperti kamera pengawas yang tidak pernah berhenti bekerja.

“Kalau CCTV buatan manusia masih bisa dimatikan atau dipindahkan, pengawasan Allah tidak pernah berhenti. Ketika kita sadar Allah Maha Mengawasi, hidup kita akan lebih hati-hati sehingga tidak mudah tergelincir pada perbuatan yang buruk,” tuturnya.

Ia juga memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengambil makanan sisa tanpa izin ketika menghadiri sebuah acara. Menurutnya, perkara yang tampak sepele justru menjadi latihan penting dalam membangun kejujuran dan amanah.

“Hal-hal kecil seperti itu adalah pendidikan akhlak. Jujur, amanah, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan hak kita harus dibiasakan sejak di lingkungan keluarga,” ujarnya.

Pilar kedua ketakwaan, lanjut Evi, adalah al-‘amal bi at-tanzil, yakni menjadikan Al-Qur’an dan sunah sebagai pedoman utama kehidupan.

Menurutnya, keluarga memiliki peran besar menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an sejak anak masih kecil. Orang tua tidak boleh menganggap remeh pertanyaan-pertanyaan kritis anak mengenai agama, melainkan menjadikannya sebagai kesempatan untuk berdialog.

Ia mengaku pernah mendapat pertanyaan dari anaknya mengenai alasan umat Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup. Bahkan, anaknya juga pernah bertanya apakah kisah runtuhnya Romawi disebutkan dalam Al-Qur’an.

“Pertanyaan seperti itu jangan dimatikan. Justru harus dijelaskan agar anak memahami bahwa Al-Qur’an bukan sekadar dibaca, tetapi menjadi sumber nilai dan pedoman hidup,” katanya.

Menurut Evi, Al-Qur’an mengandung spirit yang selalu relevan sepanjang zaman. Nilai-nilai yang dikandungnya mendorong terwujudnya kemakmuran, keadilan, kesetaraan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta kehidupan yang damai.

“Al-Qur’an memberikan spirit kemakmuran, keadilan, kesetaraan, dan memanusiakan manusia. Islam membawa kedamaian. Semua ajarannya diarahkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan pentingnya terus menggali spirit Al-Qur’an agar mampu menjawab persoalan-persoalan baru yang terus berkembang di tengah masyarakat.

“Islam berkemajuan itu memang spirit Al-Qur’an. Bukan sekadar romantisme kejayaan masa lalu, tetapi menggali nilai-nilai Al-Qur’an untuk menjawab tantangan zaman.”

Dalam kesempatan tersebut, Evi juga menyinggung pentingnya pendidikan keluarga di tengah derasnya arus media sosial. Ia menilai orang tua harus hadir mendampingi anak-anak karena berbagai informasi kini sangat mudah mereka akses.

Menurutnya, ayah dan ibu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengasuh dan mendidik anak. Kehadiran ayah tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga harus hadir secara emosional dalam kehidupan anak.

“Anak laki-laki sering kali ingin berbicara dengan ayahnya. Jangan sampai terjadi fatherless, yaitu ketidakhadiran ayah dalam pengasuhan. Dalam keluarga sakinah, ayah dan ibu memiliki kewajiban yang sama untuk merawat, mendidik, dan mengasuh anak.”

Evi juga mengingatkan agar keluarga memberikan pendampingan yang tepat terhadap berbagai persoalan sosial yang dihadapi generasi muda. Ia menekankan pentingnya mengarahkan anak agar tumbuh dengan akhlak yang baik, sekaligus membangun komunikasi yang terbuka di dalam keluarga.

Pilar ketiga ketakwaan adalah al-qana’ah bi al-qalil, yaitu merasa cukup dan rida terhadap rezeki yang diberikan Allah. Namun, menurutnya, qanaah bukan berarti pasrah tanpa usaha.

“Qanaah bukan malas. Tetap harus ikhtiar, tetap kreatif, tetap bekerja keras. Yang dikendalikan adalah nafsu agar tidak terus-menerus merasa kurang.”

Ia menilai sikap qanaah menjadi semakin penting di tengah budaya konsumtif yang berkembang saat ini. Kemudahan berbelanja melalui berbagai platform digital sering kali mendorong seseorang membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

“Kalau tidak punya qanaah, keinginan itu tidak akan pernah berhenti. Hari ini melihat barang lucu langsung ingin membeli, besok melihat yang lain ingin membeli lagi. Padahal belum tentu dibutuhkan.”

Menurutnya, qanaah mengandung tiga unsur penting sekaligus, yakni rasa syukur, kesabaran, dan ikhtiar. Ketiganya menjadi benteng agar manusia tidak terjerumus pada sifat tamak dan rakus.

Pilar terakhir adalah al-isti’dad li yaum ar-rahil, yaitu mempersiapkan bekal untuk hari ketika setiap manusia kembali menghadap Allah Swt.

Evi mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun mengetahui kapan ajal akan datang. Karena itu, seluruh amal yang dilakukan di dunia harus dipandang sebagai bekal yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

“Kita semua pasti akan kembali kepada Allah. Karena itu, setiap perbuatan harus menjadi tanaman kebaikan yang nanti akan kita panen di akhirat.”

Menutup kajiannya, Evi menegaskan bahwa empat pilar ketakwaan tersebut tidak hanya membentuk kualitas spiritual seseorang, tetapi juga berdampak positif terhadap kesehatan mental dan karakter kepemimpinan.

“Kalau empat hal ini kita amalkan, secara psikologis jiwa kita akan sehat. Orang bertakwa adalah orang yang tangguh, kuat, tegar, dan menjadi pemenang. Pemimpin seperti inilah yang dibutuhkan, baik dalam keluarga maupun di tengah masyarakat,” pungkasnya.(muhammadiyah.or.id)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: keluarga
Previous Post

SICARA: Membangun Muhammadiyah Berkemajuan melalui Tata Kelola Berbasis Data

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.