Cintamu : Bergerak dengan Cinta, Berjuang dengan Ikhlas
Oleh: Jufri
Kamis malam Jumat, 15 Oktober 2026, Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Muhammadiyah Sumatera Utara mengadakan kegiatan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dari Darul Arqam yang berlangsung pada awal Juli 2026 di Parapat, kawasan Danau Toba. Kegiatan ini diberi nama CINTAMU, singkatan dari Cerita Ideologi, Nasionalisme, dan Tabligh ala Muhammadiyah.
Meski dilaksanakan secara daring melalui Zoom, kegiatan ini tetap memiliki nilai yang luar biasa. Sebab, kualitas perkaderan tidak semata-mata ditentukan oleh tempat pertemuan atau kemewahan fasilitas, tetapi oleh gagasan yang disampaikan, nilai yang ditanamkan, dan tindak lanjut yang dilakukan. Teknologi menjadi jembatan untuk menjaga silaturahmi, memperkuat pemahaman ideologi, dan memastikan proses kaderisasi tidak terputus oleh jarak.
Ada yang menarik dari kegiatan tersebut. Menurut Dr. Faiz Rafdhi dari MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kegiatan tindak lanjut seperti ini baru dilaksanakan oleh MPKSDI Muhammadiyah Sumatera Utara. Beliau berharap kegiatan tersebut dapat menjadi model kaderisasi berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti Darul Arqam untuk memperoleh sertifikat atau syahadah.
Pesan ini tentu menarik untuk direnungkan. Sebab, kaderisasi Muhammadiyah seharusnya tidak berhenti ketika kegiatan selesai, peserta pulang, dan syahadah dibagikan. Justru setelah itulah proses kaderisasi yang sesungguhnya diuji dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan CINTAMU menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Prof. Dr. Hasyimsyah Nasution, dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Langkat, Abdi Sukamto , M.Si., dengan moderator Dr. Benito Asdhie . Kegiatan dibuka oleh Dr. Faiz Rafdhi dari MPKSDI Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Acara ini juga dipandu dengan saksama oleh Ketua MPKSDI Muhammadiyah Sumatera Utara yang sekaligus menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr. Zainuddin Zainuddin Gayo Gayo .
Dalam pengantarnya, Dr. Faiz mengingatkan pentingnya bergerak berdasarkan cinta. Sebab, organisasi sebesar Muhammadiyah tidak mungkin hanya digerakkan oleh instruksi, jabatan, atau aturan administratif. Harus ada kecintaan yang tumbuh dari kesadaran ideologis.
Namun, cinta tentu tidak cukup hanya diucapkan. Cinta harus diwujudkan melalui tindakan nyata dan pengabdian yang berkelanjutan.
Ada pula hal menarik ketika Prof. Hasyimsyah Nasution menyanyikan lagu Sang Surya. Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya lagu yang biasa dinyanyikan dalam kegiatan Muhammadiyah. Namun, jika direnungkan lebih jauh, sesungguhnya ada proses penanaman ideologi, terutama tauhid sebagai fondasi utama gerakan Muhammadiyah.
Sang Surya bukan sekadar lagu penyemangat organisasi. Di dalamnya terkandung pesan tentang keyakinan, perjuangan, dan pengabdian kepada Allah.
Muhammadiyah sejak awal bukan didirikan hanya untuk membangun sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, atau berbagai amal usaha lainnya. Semua itu merupakan sarana dakwah untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang mencerahkan kehidupan.
Karena itu, menjadi kader Muhammadiyah bukan hanya persoalan memahami struktur organisasi, menghafal keputusan muktamar, atau mengetahui sejarah persyarikatan. Lebih jauh, seorang kader harus mampu mengukur dirinya sendiri, sejauh mana hubungannya dengan Allah.
Dari sinilah muncul persoalan keikhlasan.
Ikhlas memang mudah diucapkan, tetapi tidak selalu mudah dilaksanakan. Apalagi ketika seseorang mulai memperoleh jabatan, penghormatan, dan berbagai fasilitas organisasi.
Tidak sedikit orang yang pada awalnya begitu bersemangat ketika belum memperoleh jabatan. Namun, setelah mendapatkan kedudukan, semangat pengabdiannya justru mulai berubah. Sebaliknya, ada pula yang tetap bekerja dan mengabdi meskipun tidak pernah memperoleh jabatan apa pun.
Tentu kita tidak sedang mengukur keikhlasan seseorang, karena hanya Allah yang mengetahuinya. Namun, setidaknya kita dapat mengukur diri sendiri.
Menjadi Pribadi Saleh: Spiritual, Moral, dan Sosial
Dalam pemaparannya, Ketua PDM Langkat, Abdi Sukamto, mengingatkan pentingnya kehidupan pribadi dalam beribadah sebagaimana tercantum dalam Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah. Beliau juga mengemukakan tiga aspek penting sebagai indikator kepribadian saleh, yaitu aspek spiritual, moral, dan sosial.
Pertama, aspek spiritual. Kesalehan dimulai dari hubungan seseorang dengan Allah. Ibadah bukan sekadar kewajiban yang ditunaikan secara rutin, melainkan kebutuhan yang membentuk kesadaran bahwa setiap amanah akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Kedekatan dengan Allah semestinya melahirkan keikhlasan, ketenangan, dan kesungguhan dalam menjalankan tugas. Bagi seorang kader Muhammadiyah, kesalehan spiritual tidak hanya terlihat dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam kesediaannya mengabdikan waktu, pikiran, tenaga, dan kemampuan untuk kemaslahatan umat.
Kedua, aspek moral. Kesalehan harus tercermin dalam akhlak dan perilaku sehari-hari. Kejujuran, amanah, kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, dan konsistensi antara perkataan dengan perbuatan menjadi bagian penting dari kepribadian seorang kader.
Di sinilah keteladanan pemimpin diuji. Jangan sampai seseorang rajin berbicara tentang nilai-nilai Islam, tetapi perilakunya justru bertentangan dengan nilai yang disampaikan. Jangan pula jabatan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Ketiga, aspek sosial. Kesalehan tidak berhenti pada hubungan pribadi dengan Allah, tetapi harus menghadirkan manfaat bagi sesama manusia. Seorang pribadi yang saleh semestinya peduli terhadap persoalan masyarakat, menghargai perbedaan, mampu bekerja sama, serta bersedia membantu orang lain tanpa selalu menghitung keuntungan pribadi.
Dalam konteks Muhammadiyah, aspek sosial ini sangat penting. Dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi juga harus diwujudkan melalui pendidikan, pelayanan kesehatan, pemberdayaan ekonomi, kepedulian sosial, dan berbagai amal usaha yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ketiga aspek tersebut saling berkaitan. Spiritual yang kuat seharusnya membentuk moral yang baik, sedangkan moral yang baik semestinya terlihat dalam perilaku sosial yang bermanfaat.
Dengan demikian, kesalehan tidak hanya menjadi urusan pribadi, tetapi juga menjadi kekuatan untuk membangun organisasi dan masyarakat yang lebih baik.
Tentu, ketiga aspek ini bukan alat untuk menghakimi kesalehan orang lain. Sebaliknya, semuanya menjadi bahan muhasabah agar kita terus memperbaiki diri.
Sebab, semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kualitas spiritual, moral, dan sosial.
## Pendidikan: Membiasakan Manusia Berbuat Baik
Dalam diskusi tersebut, Prof. Hasyimsyah Nasution melanjutkan pemikirannya tentang pentingnya atmosfer pendidikan yang membiasakan manusia melakukan perbuatan baik.
Pemikiran ini menarik untuk direnungkan. Sebab, pendidikan bukan sekadar proses memindahkan pengetahuan dari seseorang kepada orang lain. Pendidikan juga merupakan proses membangun kebiasaan, membentuk karakter, dan menumbuhkan kesadaran untuk memilih serta melakukan kebaikan.
Manusia senantiasa menghadapi tarik-menarik antara dorongan untuk melakukan kebaikan dan godaan untuk melakukan keburukan. Dalam bahasa simbolik yang sering kita pahami, ada tarik-menarik antara dorongan malaikat dan godaan setan.
Karena itu, lingkungan tempat seseorang tumbuh dan berinteraksi memiliki peran penting. Keluarga, sekolah, kampus, dan organisasi seharusnya menjadi ruang yang memperkuat kebiasaan baik, bukan justru membiarkan perilaku buruk tumbuh dan dianggap biasa.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa kejujuran itu penting. Namun, mengetahui saja belum cukup jika ia terbiasa berbohong demi kepentingan pribadi. Seseorang mungkin memahami pentingnya amanah, tetapi pemahaman itu kehilangan makna ketika ia justru menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Begitu pula dalam organisasi. Kita dapat berbicara panjang lebar tentang keikhlasan, persaudaraan, dan pengabdian. Akan tetapi, semua itu baru memiliki arti ketika diwujudkan dalam perilaku nyata.
Di sinilah pentingnya atmosfer pendidikan yang sehat. Ketika kejujuran dibiasakan, keteladanan dihadirkan, dan perilaku baik diapresiasi, orang akan lebih mudah menjadikan nilai-nilai tersebut sebagai bagian dari kehidupannya.
Sebaliknya, jika lingkungan justru memberi ruang bagi kepura-puraan, manipulasi, dan perilaku yang hanya mengejar penampilan, jangan heran apabila nilai-nilai yang diajarkan berhenti sebatas kata-kata.
Dalam konteks kaderisasi Muhammadiyah, nilai-nilai Islam tidak cukup hanya diajarkan selama Darul Arqam. Nilai tersebut harus dihidupkan melalui budaya organisasi, keteladanan pemimpin, interaksi antarkader, dan kebiasaan sehari-hari.
Kader perlu dibiasakan berkata jujur, menepati janji, menjaga amanah, menghargai orang lain, dan bekerja dengan ikhlas. Bukan hanya ketika berada dalam forum resmi, tetapi juga ketika tidak ada orang yang melihat.
Sebab, karakter tidak terbentuk hanya karena seseorang mengetahui banyak nasihat. Karakter tumbuh ketika nilai-nilai yang diyakini terus dilatih, dicontohkan, dan dibiasakan dalam kehidupan nyata.
Dengan demikian, keberhasilan pendidikan dan perkaderan bukan hanya diukur dari seberapa banyak materi yang dikuasai peserta, melainkan juga dari perubahan perilaku yang tumbuh setelah kegiatan selesai.
Kaderisasi Tidak Berhenti pada Syahadah
Dalam perspektif komunikasi organisasi, apa yang disampaikan para narasumber berkaitan erat dengan keteladanan kepemimpinan. Pesan seorang pemimpin akan lebih mudah diterima apabila perkataan dan tindakannya berjalan seiring.
Kader tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan pemimpinnya, tetapi juga dari bagaimana pemimpin tersebut bersikap, beribadah, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.
Sementara dalam pendekatan manajemen sumber daya manusia berkelanjutan, kaderisasi tidak cukup hanya dilakukan melalui pelatihan beberapa hari. Harus ada kesinambungan antara pembinaan ideologi, penguatan spiritual, pembentukan moral, peningkatan kompetensi, dan kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh.
Di sinilah pentingnya Rencana Tindak Lanjut seperti CINTAMU.
Selama ini, kegiatan kaderisasi sering kali berlangsung cukup meriah. Pesertanya banyak, materinya bagus, narasumbernya hebat, dokumentasinya lengkap, dan sertifikatnya pun tersedia.
Namun, setelah kegiatan berakhir, tidak selalu mudah mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada diri peserta.
Apakah semakin baik ibadahnya? Apakah semakin jujur dan bertanggung jawab? Apakah semakin peduli terhadap masyarakat? Apakah semakin memahami ideologi Muhammadiyah? Apakah semakin aktif di ranting dan cabang? Karena seperti kata Prof Hasyimsah Nasution, tidak ada jaminan siapapun termasuk ketua PWM atau PDM lebih baik Tauhidnya . Kita hanya harus terus berupaya berbuat baik , soal nilai tentu hanya Allah yang maha tau.
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini justru menjadi ukuran penting keberhasilan kaderisasi.
Karena itu, gagasan MPKSDI Muhammadiyah Sumatera Utara melaksanakan RTL Darul Arqam patut diapresiasi. Apalagi jika kegiatan tersebut terus dilaksanakan secara konsisten, bukan hanya sekali atau dua kali.
Kaderisasi seharusnya menjadi proses pembelajaran sepanjang hayat. Tidak berhenti ketika seseorang memperoleh syahadah, menjadi pengurus, bahkan ketika sudah menduduki jabatan tertinggi dalam organisasi.
Sebab, Muhammadiyah membutuhkan kader yang terus belajar, bergerak, dan memberikan manfaat. Tidak harus semuanya menjadi ketua, sekretaris, atau menduduki jabatan tertentu.
Mencintai Muhammadiyah tidak selalu harus dibuktikan dengan memiliki jabatan di Muhammadiyah.
Dalam konteks yang lebih luas, ideologi, nasionalisme, dan tabligh sebagaimana terkandung dalam CINTAMU juga harus berjalan beriringan.
Ideologi memperkuat keyakinan dan arah perjuangan. Nasionalisme meneguhkan komitmen Muhammadiyah terhadap bangsa dan negara. Sementara tabligh menjadi sarana menghadirkan dakwah Islam yang berkemajuan, moderat, dan mencerahkan.
Ketiganya tidak boleh dipisahkan dari kehidupan nyata.
Kader Muhammadiyah diharapkan memiliki hubungan yang baik dengan Allah, berakhlak mulia, mampu membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, sekaligus memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
Sebagaimana pesan yang sering dikaitkan dengan KH Ahmad Dahlan, “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan hanya mencari hidup di Muhammadiyah.”
Pesan tersebut tentu tidak berarti seseorang dilarang memperoleh penghidupan melalui amal usaha Muhammadiyah. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kepentingan persyarikatan.
Akhirnya, CINTAMU mengingatkan kita bahwa Muhammadiyah tidak cukup hanya dikelola dengan kemampuan manajerial dan kecakapan organisasi. Ia juga membutuhkan kekuatan spiritual, kepribadian yang bermoral, kepedulian sosial, keteladanan, serta kaderisasi yang berkelanjutan.
Kita berharap apa yang dilakukan MPKSDI Muhammadiyah Sumatera Utara dapat menjadi contoh bagi pelaksanaan kaderisasi di berbagai tingkatan persyarikatan.
Jangan sampai Darul Arqam hanya menghasilkan syahadah, tetapi belum menghasilkan perubahan sikap dan perilaku.
Sebab, ukuran keberhasilan kaderisasi bukan semata-mata berapa banyak orang yang telah mengikuti pelatihan, melainkan seberapa besar nilai-nilai yang diperoleh benar-benar diamalkan dalam kehidupan.
CINTAMU boleh menjadi nama kegiatan, tetapi mencintai Muhammadiyah harus menjadi gerakan yang terus hidup.
Dan pada akhirnya, cinta kepada Muhammadiyah harus membawa kita semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, semakin besar manfaatnya bagi sesama, bukan sekadar semakin dekat kepada jabatan, pujian manusia , atau hal lainnya.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
(***)

