Pelajaran dari Bang Irwan Syahputra
Oleh : Jufri
Walaupun sempat berhenti kuliah dua kali, alhamdulillah saya tidak pernah kehilangan harapan untuk belajar dan membaca. Dalam masa-masa sulit itu, ada beberapa orang yang terus memberi semangat. Salah satunya adalah Pak Ramuzir yang sering berkata kepada saya, “Nanti Jufri pasti jadi orang sukses.” Mungkin beliau ingin menghibur dan menumbuhkan optimisme dalam diri saya. Padahal saya tahu, sebelum bekerja di Kantor Gubernur, beliau sendiri telah menjalani kehidupan yang penuh perjuangan dan pengalaman luar biasa.
Pada tahun 1998, ketika mulai kuliah, saya sudah mengenal Bang Irwan Syahputra. Saat itu beliau masih tinggal di sebuah rumah kos di Jalan AR Hakim. Di kamar kosnya terdapat begitu banyak buku. Sebagai aktivis masjid yang masih muda, saya sering mendapat amanah untuk menjemput dan mengantar beliau berceramah, terutama jika jadwal pengajian di Mushalla Al Huda.
Suatu siang saya mampir ke kamar kosnya. Begitu melihat rak-rak buku yang penuh, saya langsung terpesona. Maklum, pada masa itu untuk memiliki buku RPUL atau RPAL saja saya harus menunggu cukup lama karena keterbatasan biaya. Karena merasa cukup akrab, saya memberanikan diri meminjam salah satu bukunya.
Di luar dugaan, beliau menolak.
Dengan tenang beliau berkata bahwa jika ingin memiliki buku, seseorang harus belajar membeli buku sendiri. Buku-buku di kamarnya tidak dipinjamkan.
Jujur saja, saat itu saya merasa malu dan sedikit tersinggung. Namun dari raut wajahnya saya melihat senyum yang seolah menyimpan maksud tertentu. Ada pelajaran yang belum saya pahami saat itu.
Sejak hari itu saya bertekad untuk tidak lagi bergantung pada meminjam buku, baik kepada beliau maupun kepada orang lain. Saya mulai berusaha membeli buku sendiri, sedikit demi sedikit sesuai kemampuan.
Aneh tapi nyata, setiap kali saya membeli buku, seolah-olah rezeki datang menggantikan uang yang telah saya keluarkan. Hari ini membeli buku, esok hari ada saja rezeki yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Orang kampung kami menyebutnya, “rezeki tak berpintu.”
Dari peristiwa itulah kebiasaan membeli buku mulai tumbuh dalam diri saya. Koperasi IAIN yang menjual buku sering menawarkan buku-buku baru kepada saya. Saya juga rajin berburu buku bekas di lapak-lapak loak di depan kampus. Sedikit demi sedikit koleksi buku saya bertambah.
Empat tahun kemudian, menjelang penyusunan skripsi pada tahun 2002, Bang Irwan yang saat itu rutin mengisi pengajian di Ranting Al Huda berkunjung ke kamar saya yang, kalau meminjam istilah sekarang, sangat “mewah” dalam tanda kutip.
Beliau memperhatikan rak buku saya yang mulai terisi cukup banyak buku. Namun setelah melihat-lihat, beliau bertanya, “Mana buku-buku yang berhubungan dengan judul skripsimu?”
Saya menjawab, “Nanti pinjam di perpustakaan dan beli saja, Bang.”
Beliau hanya tersenyum.
“Besok sore datang ke rumah,” katanya singkat.
Keesokan harinya saya datang ke rumah beliau yang saat itu tinggal di rumah mertuanya di Jalan Bromo. Sebagai seorang dosen sekaligus senior yang saya hormati, beliau membuka lemari bukunya, memberikan sebuah tas, lalu mempersilakan saya mengambil buku-buku yang saya perlukan untuk penulisan skripsi.
Saya hampir tidak percaya.
Lebih dari empat puluh buku saya pinjam dari beliau. Semua referensi yang saya perlukan tersedia. Akhirnya saya tidak perlu lagi membeli atau meminjam buku dari tempat lain. Setelah skripsi selesai, seluruh buku itu saya kembalikan.
Saat itulah beliau berkata dengan senyum yang tidak pernah saya lupakan:
“Abang sudah berhasil mengajar Jufri.”
Barulah saya memahami pelajaran yang dulu beliau berikan.
Ketika saya masih muda dan belum terbiasa membeli buku, beliau sengaja tidak meminjamkan bukunya agar tumbuh kemandirian dalam diri saya. Beliau ingin saya belajar menghargai ilmu dengan cara memiliki dan mengusahakannya sendiri. Setelah kebiasaan itu tumbuh, barulah beliau membuka seluruh perpustakaannya untuk membantu saya menyelesaikan skripsi.
Itu bukan soal buku semata. Itu adalah pelajaran tentang karakter, kemandirian, dan kecintaan terhadap ilmu.
Terima kasih, Bang Irwan Syahputra. Pelajaran itu sungguh sangat berharga. Hingga hari ini, di rumah saya pun sudah berjejer buku-buku, walaupun tidak sebanyak milik beliau dahulu.
Dan maaf Bang, untuk yang satu ini saya masih mengikuti pelajaran Abang.
Buku-buku itu tidak untuk dipinjamkan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

