Pesantren Muhammadiyah Kembangkan Kurikulum Integratif, Padukan Turats dan Sains Modern
INFOMU.CO | Yogyakarta – Pesantren Muhammadiyah terus memperkuat model pendidikan yang mengintegrasikan tradisi keilmuan klasik dengan pendekatan modern. Hal ini disampaikan Wakil Ketua I Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhbib Abdul Wahab, saat ditemui di Kantor Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Yogyakarta pada Senin (27/4).
Secara filosofis, Muhbib menjelaskan bahwa pesantren Muhammadiyah tidak sepenuhnya mengadopsi model pesantren salaf yang berfokus pada pembacaan kitab kuning semata. Muhammadiyah justru mengembangkan pendekatan integratif dengan memadukan sistem pesantren tradisional (salaf) dan modern (khalaf).
“Kurikulum dirancang secara integratif, tidak hanya mengajarkan kitab klasik, tetapi juga menggabungkannya dengan pendekatan modern. Bahkan dalam sekitar satu dekade terakhir, kami telah menyusun kitab-kitab sendiri yang memadukan keduanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, mayoritas pesantren Muhammadiyah kini menggunakan buku-buku yang disusun dan dicetak secara mandiri, meskipun sebagian masih menggunakan kitab klasik. Hal ini menunjukkan adanya fleksibilitas sekaligus standar khas dalam sistem pendidikan pesantren Muhammadiyah.
Selain penguatan kurikulum berbasis kitab, pesantren Muhammadiyah juga menekankan hafalan Al-Qur’an sebagai bagian penting dari pembinaan santri. Dalam masa pendidikan enam tahun, santri ditargetkan mampu menghafal minimal lima juz, yakni Juz 1, 2, serta Juz 28, 29, dan 30. Kurikulum juga mencakup hafalan sekitar 250 hadis pilihan, di antaranya merujuk pada kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah yang dikenal luas di kalangan umat Islam.
Berdasarkan hal tersebut, Muhbib menegaskan bahwa anggapan sebagian masyarakat yang menyebut Muhammadiyah tidak mengajarkan kitab kuning adalah keliru. Menurutnya, Muhammadiyah tetap mengajarkan khazanah keilmuan klasik, namun dengan standar, pendekatan, dan target yang berbeda.
“Target kita adalah melahirkan ulama intelektual, kader ulama yang mampu mengintegrasikan al-‘ulum al-syar‘iyyah (ilmu-ilmu keagamaan berbasis kitab) dengan al-‘ulum al-‘ashriyyah (ilmu-ilmu modern) seperti matematika, kimia, fisika, hingga ilmu falak dan astronomi,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya merawat dan mengembangkan pesantren sebagai bagian dari gerakan dakwah Persyarikatan. Menurutnya, pengembangan pesantren membutuhkan komitmen bersama dari pimpinan dan warga Muhammadiyah.
Dalam mewujudkan pesantren Muhammadiyah yang berkemajuan, Muhbib mengajak seluruh elemen untuk melakukan “jihad” dalam arti kesungguhan di berbagai bidang, mulai dari peningkatan standar pendidikan, penguatan kurikulum, hingga pengembangan sumber daya manusia yang menguasai turats (warisan keilmuan klasik), nushus (teks-teks keagamaan), dan ilmu-ilmu modern.
“Dengan demikian, kader ulama dan ustaz Muhammadiyah dapat berkiprah lebih luas dalam memajukan pesantren serta memberikan kontribusi nyata bagi umat dan masyarakat,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)

