Masjid, Kaderisasi, dan Lahirnya Guru Besar
(Tulisan ke-37 dari Beberapa Tulisan Bertema Kaderisasi)
Oleh: Amrizal – Wakil Ketua MPKSDI PWM Sumut/Dosen Universitas Negeri Medan
Bagi Muhammadiyah, masjid bukan hanya tempat shalat, tetapi juga ruang belajar dan pembentukan karakter. Di masjid, kader-kader ditempa melalui kebersamaan, pengabdian, dan proses kaderisasi yang berjalan pelan namun mendalam. Dari ruang sederhana inilah lahir semangat keilmuan, kepemimpinan, dan kesetiaan berorganisasi. Karena itu, ketika dari masjid tumbuh kader yang kelak menjadi guru besar dan pemimpin akademik, hal tersebut bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan buah dari proses panjang yang dijalani dengan ikhlas dan konsisten.
Keyakinan inilah yang hidup dalam sebuah adagium lama di lingkungan Muhammadiyah: “Siapa yang mengurus masjid, maka hidupnya akan diurus oleh Allah.” Kalimat ini sering terdengar sederhana, bahkan kadang dianggap sekadar penghibur bagi mereka yang memilih jalan sunyi pengabdian. Namun bagi saya, adagium ini bukan mitos. Ia adalah kenyataan hidup yang saya saksikan sendiri—tumbuh, berproses, dan kini menjelma prestasi—pada dua sahabat saya: Mas Qorib dan Bang Akrim.
Kisah ini tidak lahir dari panggung megah atau sorotan kamera. Ia tumbuh pelan, dari lantai masjid yang dingin, dari malam-malam panjang penuh diskusi, dari hidup sederhana yang dijalani dengan kesetiaan. Masjid Taqwa Ranting Pulau Harapan, Kota Medan, menjadi saksi bisu perjalanan itu—masjid kecil yang diam-diam melahirkan dua guru besar, predikat tertinggi dalam dunia akademik.

Masjid sebagai Rumah, Aktivisme sebagai Jalan
Dulu, ketika kami sama-sama berproses di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Masjid Taqwa bukan sekadar tempat shalat. Ia adalah rumah, ruang diskusi, sekaligus sekolah kehidupan. Mas Qorib dan Bang Akrim tinggal di sana, mengabdi sebagai penjaga masjid. Sebuah pilihan hidup yang bagi sebagian orang mungkin tampak sederhana, bahkan marginal.
Saya masih mengingat masa-masa itu dengan jelas. Sebagai sesama aktivis IMM, saya kerap berkunjung, bahkan sekadar tiduran di masjid tersebut. Kami berbincang tanpa sekat, tanpa jabatan. Di lantai masjid itulah obrolan tentang umat, bangsa, keadilan sosial, dan masa depan Muhammadiyah mengalir hingga larut malam. Kadang serius, kadang diselingi canda, tetapi selalu berujung pada satu kesadaran: hidup harus bermakna dan berpihak.
Mas Qorib dan Bang Akrim bukan aktivis panggung. Mereka tidak gemar mencari sorotan. Namun keduanya pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum PK IMM FAI UMSU, sementara saya dipercaya menjadi Ketua Umum PK IMM KH. Ahmad Dahlan (FMIPA) Unimed. Kami ditempa bersama di PC IMM Kota Medan, lalu sama-sama berdinamika dalam kerasnya proses kaderisasi di DPD IMM Sumatera Utara.
IMM bagi kami bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pembentukan watak. Di sanalah kami belajar memimpin, mengelola perbedaan, berdebat dengan gagasan, dan—yang terpenting—belajar setia pada proses.
Aktivis–Akademisi: Jalan Sunyi yang Konsisten
Hari ini, kisah itu menemukan babak pentingnya. Dua penjaga masjid tersebut kini menyandang predikat Profesor. Sebuah capaian yang jika dilihat sekilas terasa kontras dengan masa lalu mereka. Namun bagi yang memahami prosesnya, capaian ini justru terasa sangat wajar.
Mas Qorib kini dikenal sebagai Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, sementara Bang Akrim adalah Prof. Dr. Akrim Lubis, M.Pd. Gelar guru besar yang mereka sandang bukan hadiah yang jatuh dari langit, melainkan buah dari konsistensi panjang menempuh jalur aktivis–akademisi.
Di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Mas Qorib baru saja menyelesaikan amanah sebagai Dekan Fakultas Agama Islam (FAI)—sebuah posisi strategis yang menuntut kepemimpinan akademik sekaligus keteladanan moral. Sementara Bang Akrim hingga hari ini masih aktif mengemban tugas sebagai Wakil Rektor II UMSU, mengelola bidang keuangan dan sumber daya dengan ketelitian dan tanggung jawab besar.
Namun yang menarik, semakin tinggi jabatan mereka, semakin terasa kesahajaannya. Tidak ada jarak berlebihan, tidak ada bahasa yang meninggi. Seolah-olah pengalaman tidur di lantai masjid telah mengajarkan satu hal penting: jabatan hanyalah titipan, bukan tujuan akhir.
Amanah Persyarikatan: Mengabdi Tanpa Kehilangan Arah
Pengabdian mereka tidak berhenti di kampus. Dalam struktur persyarikatan, Mas Qorib kini mengemban amanah sebagai Bendahara PW Muhammadiyah Sumatera Utara, sementara Bang Akrim dipercaya sebagai Bendahara PD Muhammadiyah Kota Medan. Dua posisi yang menuntut kejujuran, ketelitian, dan integritas tinggi—nilai-nilai yang justru tumbuh subur dari kehidupan masjid dan proses kaderisasi IMM.
Di titik ini, perjalanan mereka menjadi contoh konkret bahwa kaderisasi Muhammadiyah tidak gagal, selama ia dijalani dengan kesetiaan dan kesabaran. Masjid, organisasi, dan kampus bukanlah tiga dunia yang saling bertentangan, melainkan tiga pilar yang saling menguatkan.
Buya Syafii Maarif pernah mengingatkan, “Ilmu tanpa akhlak akan melahirkan kecerdasan yang dingin, sementara akhlak tanpa ilmu akan kehilangan arah.” Nilai itulah yang hidup dalam perjalanan Mas Qorib dan Bang Akrim. Mereka menuntut ilmu tanpa tercerabut dari nurani, dan berkhidmat tanpa kehilangan kejernihan berpikir.
Menghidupkan Muhammadiyah dari Bawah
Melihat perjalanan mereka, saya teringat pesan KH. Ahmad Dahlan yang selalu relevan lintas zaman:
“Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.”
Mas Qorib dan Bang Akrim menghidupkan Muhammadiyah dari bawah—dari ranting, dari masjid, dari kerja sunyi—tanpa menjadikan persyarikatan sebagai tangga pragmatis. Justru karena ketulusan itulah, Allah mengangkat derajat mereka melalui jalan akademik dan amanah persyarikatan.
Keteladanan serupa juga kita jumpai pada KH. AR Fachruddin, yang mengajarkan kesahajaan dalam kepemimpinan. Jabatan setinggi apa pun, baik di organisasi maupun akademik, hakikatnya hanyalah alat untuk melayani umat, bukan untuk membesarkan ego.
Sementara itu, Prof. Dr. Haedar Nashir kerap menegaskan pentingnya melahirkan insan yang cerdas sekaligus berkarakter, serta menumbuhkan persatuan dalam keberagaman. Dinamika yang kami alami bersama di IMM—di Cabang dan DPD—dengan segala perbedaan dan gesekannya, justru memperkuat ikatan persaudaraan itu.
Pesan untuk Kader dan Generasi Muda
Kisah dari Masjid Taqwa Pulau Harapan ini layak menjadi cermin dan penyemangat bagi kader-kader IMM dan generasi muda Muhammadiyah. Jangan pernah merasa rendah diri karena hidup sederhana, tinggal di masjid, atau berjuang dalam keterbatasan ekonomi. Sejarah Muhammadiyah justru dibangun oleh orang-orang seperti itu.
Masjid adalah pusat peradaban, bukan ruang pinggiran. Dan IMM adalah laboratorium kepemimpinan, tempat kader ditempa agar kuat, bukan sekadar cepat berhasil. Kaderisasi sejati tidak selalu melahirkan orang yang segera bersinar, tetapi orang yang tahan menunggu dan setia berproses.
Mas Qorib, Bang Akrim, dan saya mungkin menempuh tempat berbeda dalam kehidupan profesional. Namun nurani kami tetap sama: nurani kader yang pernah tidur di lantai masjid, dibesarkan oleh semangat fastabiqul khairat, dan percaya bahwa pengabdian tidak pernah sia-sia.
Harapan yang Dijaga dari Masjid
Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengagungkan individu. Ia ditulis untuk menjaga harapan. Bahwa bangsa ini masih memiliki masa depan selama cendekianya lahir dari rahim pengabdian, bukan semata dari ambisi gelar. Selama masjid tetap menjadi ruang pembentukan karakter, dan Muhammadiyah setia pada jalan dakwah dan tajdidnya.
Masjid Taqwa Pulau Harapan mungkin tidak tercatat dalam buku sejarah nasional. Namun dari masjid itulah lahir dua profesor, dua bendahara persyarikatan, dua pemimpin kampus—dan satu pelajaran besar tentang kesetiaan, kesabaran, dan keyakinan.
Sebab sering kali, jalan sunyi adalah jalan yang paling jujur. Dan siapa pun yang setia menjaganya, kelak akan dijaga oleh Tuhan dengan cara yang tidak pernah ia duga.
Melalui kisah mereka, kita belajar bahwa masjid harus kembali menjadi ruang hidup para aktivis dan rumah besar anak-anak muda. Masjid tidak boleh sunyi dari gagasan dan perjuangan, karena ia bukan sekadar tempat shalat, melainkan pusat pembentukan karakter, pengabdian, dan ikhtiar meraih kesuksesan hidup—di dunia sekaligus di akhirat.
Wallahu a’lam bish shawab

