• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Menikmati Wisata Kriminal di Medan, Sumatera Utara

Universitas Muhammadiyah Negeri

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
22 November 2025
in Opini
0

Universitas Muhammadiyah Negeri

Oleh : Dr. Salman Nasution, SE.I.,MA

 

“Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini”, ungkapan ini bukan hanya sekedar kalimat, namun sakral yang telah menjadi kekuatan Muhammadiyah secara fundamental dan eskatologi, yaitu tauhid sebagai modal utama menuju kehidupan akhirat. Satu diantara bukti kelahiran kalimat tersebut adalah berdirinya Amal Usaha sebagai amal jariah khususnya di bidang pendidikan. Universitas Muhammadiyah di Indonesia terus menghadirkan program-program pendidikan yang kompetitif. Tridharma perguruan tinggi meliputi pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat, sebagai wujud nyata komitmen persyarikatan terhadap peningkatan kualitas umat dan bangsa. Tidak mengherankan jika sejumlah universitas Muhammadiyah terdaftar kampus terbaik Asia dan dunia versi WUR (World University Rankings).

Satu diantara kampus yang menonjol adalah UMSU (Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara). Tahun 2015 UMSU meraih akreditasi B, kemudian meningkat menjadi A pada 2019, dan mencapai predikat Unggul pada 2022. Pencapaian ini menunjukkan bahwa UMSU bergerak dengan visi dan misi yang jelas, tidak hanya memajukan pendidikan Islam dan Kemuhammadiyahan, tetapi juga memenuhi standar pendidikan tinggi nasional maupun internasional. Upaya ini tidak berhenti, pada tahun 2025, empat program studi UMSU, yaitu; Business and Management Sharia, Sharia Banking, Management, dan Accounting berhasil memperoleh pengakuan internasional dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) yang berbasis di Jerman. Ini merupakan pencapaian luar biasa yang mencerminkan kerja keras, kesungguhan, dan peningkatan mutu yang berkelanjutan.

Keberhasilan kampus-kampus Muhammadiyah tidak terlepas dari keteladanan kepemimpinan yang diwariskan para pendirinya. Ki. Ahmad Dahlan, yang telah memberikan hidup dan kehidupan yang ideal demi kemaslahatan umat. Jejak perjuangannya kini diteruskan oleh pimpinan di kampus Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang saat ini berjumlah 172 yang menyebar dari Sabang hingga Merauke. Selain pendidikan, amal usaha di bidang kesehatan dan sosial menjadi bukti nyata visi Muhammadiyah untuk menegakkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Tema tentang “Universitas Muhammadiyah Negeri” dalam konteks ini bukan bermaksud mengubah status hukum kampus Muhammadiyah menjadi negeri, tetapi lebih kepada cara pandang bahwa Muhammadiyah telah, sedang, dan akan terus berkontribusi bagi negeri. Di masa ketika pemerintah belum mampu menjangkau daerah-daerah terpencil, Muhammadiyah telah lebih dahulu hadir dengan mendirikan sekolah dan layanan sosial. Sejarah juga mencatat bahwa sebelum Indonesia merdeka di tahun 1945, kader-kader Muhammadiyah telah berperan besar memajukan negeri bahkan presiden Soekarno pernah menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah saat mengajar di sekolah Muhammadiyah di Bengkulu tahun 1938. Walaupun Swasta, namun perjalanannya untuk negeri.

Perbandingan antara kampus negeri dan swasta selalu menjadi topik hangat di masyarakat. Banyak orang menilai bahwa kampus negeri lebih unggul dari sisi kualitas dengan rendah biaya. Padahal, anggapan tersebut tidak selalu tepat. Sejumlah kebijakan pemerintah seperti status Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan Badan Layanan Umum (BLU) membuat biaya kuliah atau UKT pada beberapa kampus negeri bahkan lebih tinggi daripada kampus swasta untuk program studi yang sama. Dari segi layanan, swasta mampu menyaingi, bahkan melampaui kampus negeri.

Meski demikian, sebagian besar masyarakat memilih kampus negeri sebagai pilihan utama dalam penerimaan mahasiswa baru. Ada mindset historis yang menghubungkan kata “negeri” dengan peluang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) tahun 2019 menunjukkan bahwa lulusan universitas negeri mendominasi jumlah peserta yang lolos CPNS. Besarnya minat masyarakat terhadap profesi PNS, dianggap menawarkan comfort zone, pendapatan yang cendrung naik, serta jaminan pensiun membuat kampus negeri seolah berada di posisi comfort zone. Jika berorientasi PNS, calon mahasiswa tidak perlu kecewa atau merasa gagal jika tidak diterima di kampus negeri namun fokus menjadi PNS dengan menyiapkan diri membahas soal-soal CPNS walaupun kuliah di kampus swasta.

Kampus swasta cendrung berada pada situasi uncomfortable zone. Kampus-kampus swasta harus terus berinovasi, meningkatkan kualitas, dan membuktikan diri minim ketergantungan pada fasilitas negara. Dinamika perguruan tinggi swasta di Indonesia menunjukkan tren pasang surut yang cukup signifikan, terutama dalam satu dekade terakhir. Beberapa kampus swasta mengalami penurunan jumlah mahasiswa baru, stagnasi pengembangan mutu, hingga akhirnya terpaksa menghentikan operasional (closing). Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain meningkatnya persaingan dengan perguruan tinggi negeri, pergeseran preferensi calon mahasiswa yang semakin selektif terhadap reputasi dan akreditasi institusi, serta tantangan internal seperti keterbatasan sumber daya manusia, sarana prasarana, dan tata kelola kelembagaan yang belum optimal.

Selain faktor-faktor struktural tersebut, terdapat pula persoalan persepsi publik yang sering kali memengaruhi minat masyarakat terhadap Universitas Swasta. Tidak sedikit kalangan yang masih memandang kampus swasta sebagai pilihan kedua (second choice), sehingga memunculkan berbagai stigma yang berdampak langsung pada turunnya tingkat pendaftaran mahasiswa baru. Minimnya ketertarikan ini, jika tidak diimbangi dengan strategi peningkatan mutu, inovasi program studi, dan penguatan branding institusi, dapat mempercepat proses stagnasi hingga penutupan kampus. Oleh karena itu, revitalisasi manajemen, peningkatan kualitas akademik, serta pembangunan citra positif menjadi kebutuhan strategis agar swasta mampu bertahan dan berdaya saing di tengah perubahan ekosistem pendidikan tinggi.

Penting untuk mengubah mindset bahwa kampus swasta termasuk Universitas Swasta lebih rendah dari kampus negeri. Jika ingin membandingkan, maka perbandingannya harus apple to apple, karena masing-masing memiliki keunggulan dan kekhasan yang berbeda. Yang terpenting adalah bagaimana kampus tersebut memberi manfaat, mencetak lulusan yang berakhlak, berkompeten, berdaya saing global, dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

Tidak sedikit lulusan kampus Muhammadiyah menjadi PNS dosen di kampus-kampus negeri. Karena perjalanan yang panjang. Sejarah mencatat, kampus Muhammadiyah pertama kali berdiri adalah Kulliyatul Muballighin atau Sekolah Tabligh Muhammadiyah yang didirikan pada tanggal 2 Januari 1930 di Kauman, Padang Panjang. Tokoh nasional yang pernah belajar disana yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang dikenal dengan Buya Hamka. Gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah dimulai sejak 1920 yang dicetuskan oleh KH. Hisjam, yang saat itu menjabat sebagai Bagian Sekolah di Muhammadiyah. Kata kuliah berasal dari bahasa Arab kulliatul sudah menjadi bahasa baku bahasa Indonesia yang artinya pelajaran yang diberikan di perguruan tinggi. Selanjutnya pada tahun 1955 telah berdiri Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Universitas Muhammadiyah Negeri, atau lebih nyaman didengar Universitas Muhammadiyah untuk Negeri menjadi bagian dari informasi, promosi atau marketing bahwa bagi universitas-universitas Muhammadiyah untuk merekrut generasi bangsa, mendidik generasi adalah bagian dari proses pendidikan untuk menjadi masyarakat Islami yang sebenar-benarnya sebagaimana tujuan dari Muhammadiyah. Kehadiran generasi Islami, tentu melalui kehadiran amal usaha Muhammadiyah seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Disebutkan sebagai organisasi terkaya, tidak hanya dengan kontribusi dari kader dan simpatisan persyarikatan Muhammadiyah namun masyarakat sudah merasa aman dan nyaman bahwa distribusi harta kepada Muhammadiyah akan terjaga dan menjadi amal jariahnya. Satu diantara ZIS dari kontribusi kader, simpatisan persyarikatan Muhammadiyah dan umat Islam adalah pendirian-pendirian Universitas Muhammadiyah. Keberadaan Universitas Muhammadiyah di Negeri Indonesia adalah cara Muhammadiyah untuk tetap mempertahankan dan memperjuangkan purifikasi keislaman melalui pendidikan.

Kampus Muhammadiyah untuk Negeri, ZIS untuk negeri, Kekayaan Muhammadiyah untuk Negeri, Islam dan Kemuhammadiyahan untuk negeri. Berikut kutipan wasiat KH. Ahmad Dahlan berwasiat kepada murid-muridnya yang direkam oleh seorang muridnya yang bernama H. Abdoel Aziz, hoofdredacteur (pemimpin redaksi) Soewara Moehammadijah tahun 1927 dan salah satu pengurus Bagian Taman Poestaka Hoofdbestuur Muhammadiyah “Moehammadijah haroes hidoep. Moehammadijah akan hidoep boeat seloeroeh doenia. Moehammadijah jalah mendjadi Bapaknja Doenia, jang akan mendidik doenia mendjadi baik dan benar. Kaoem Islam di doenia bakal berta’lok pada Moehammadijah”.

Penulis adalah Dosen FAI UMSU, Pengurus MES Sumut dan Sekertaris KPEU MUI SU

 

 

 

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Klik untuk berbagi di Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Klik untuk mengirimkan email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Klik untuk berbagi di Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Klik untuk mencetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: opiniSalman Nasution
Previous Post

FGD dan Pengembangan Sinergi Akademik–Industri FEB UMSU

Next Post

Seteru China–Jepang Meningkat, Ini Peta Lengkap Kekuatan Militer Dua Raksasa Asia

Next Post
Krisis Baru Melanda AS, Pedagang China Ramai-ramai Kabur

Seteru China–Jepang Meningkat, Ini Peta Lengkap Kekuatan Militer Dua Raksasa Asia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.