60 Tahun Hari Aksara, Kemendikdasmen Dorong Literasi Berdampak
INFOMU.CO | Jakarta – Enam dekade setelah Hari Aksara Internasional (HAI) diproklamasikan UNESCO pada 1966, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong agar peringatan HAI 2026 menjadi momentum memperluas makna literasi.
Literasi dinilai tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi secara kritis, berpikir reflektif, beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial, serta menggunakan pengetahuan untuk memperbaiki kehidupan dan lingkungan.
“Ini adalah momentum refleksi dan aksi nyata bagi kita semua. Literasi hari ini memiliki makna yang semakin luas. Literasi tidak lagi cukup dimaknai sekadar kemampuan membaca dan menulis,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurutnya, perubahan sosial, krisis lingkungan, perkembangan teknologi digital, hingga kecerdasan artifisial menuntut masyarakat memiliki kemampuan literasi yang semakin luas. Masyarakat perlu mampu memilah informasi, berpikir kritis, terus belajar sepanjang hayat, serta memanfaatkan pengetahuan secara bijak.
Peringatan HAI tahun ini sekaligus menandai 60 tahun perjalanan Hari Aksara Internasional. Mengusung tema global “Literacy for People, the Planet and Prosperity”, Indonesia mengadaptasinya menjadi “Literasi untuk Sesama, Semesta, dan Sejahtera.”
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin mengatakan tema tersebut menegaskan bahwa literasi harus membuat manusia semakin berdaya, mampu hidup bersama secara bermartabat, memahami keterhubungan dengan lingkungan, dan memiliki kecakapan menghadapi masa depan.
“HAI bukan semata mengenang masa lalu, tetapi kita sedang memastikan literasi tetap menjadi bekal manusia menghadapi masa depan,” kata Tatang.
Ia menjelaskan, perjalanan 60 tahun HAI menunjukkan bahwa tantangan literasi terus berkembang. Jika sebelumnya perhatian utama diarahkan pada kemampuan membaca dan menulis, kini masyarakat juga dituntut mampu membaca informasi, membedakan informasi yang benar dan menyesatkan, berpikir kritis dalam menggunakan teknologi, serta memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak.
Tatang juga menekankan tiga makna utama dalam tema literasi tahun ini, yakni Sesama, Semesta, dan Sejahtera. Literasi untuk sesama berarti membangun manusia yang berdaya dan mampu hidup bersama secara bermartabat. Literasi untuk semesta berarti memahami alam dan tanggung jawab terhadap lingkungan. Sementara literasi untuk sejahtera diarahkan pada peningkatan kesempatan, produktivitas, dan kualitas hidup.
Sementara itu, Chief of Education at the UNESCO Regional Office in Jakarta, Santosh Kathri, menyebut dunia telah mencatat kemajuan signifikan dalam enam dekade terakhir. Lebih dari 88 persen orang dewasa di dunia saat ini telah melek aksara. Namun, sekitar 739 juta orang dewasa masih belum memiliki keterampilan literasi dasar, dan hampir dua pertiganya merupakan perempuan.
Menurut Santosh, literasi bukan hanya persoalan angka, tetapi juga menyangkut pengetahuan, kemampuan, dan kepercayaan diri untuk turut membentuk kehidupan yang lebih baik.
“Semoga literasi terus membuka pintu ke pelajaran, kepemilikan, kepartisipasian, dan semakin inklusif untuk masa depan semua di Indonesia,” ujarnya.
Peringatan 60 Tahun Hari Aksara Internasional menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat gerakan literasi yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan dasar, tetapi juga mampu menjawab tantangan kehidupan, lingkungan, teknologi, dan masa depan. (***)

