UMTS Benchmarking Bersama OSTC UMM, Siapkan Mahasiswa dan Alumni Menembus Industri Kerja Internasional
INFOMU.CO | Malang– Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS) melakukan kegiatan benchmarking ke Outsourcing Training Center (OSTC) Vokasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Jumat 3 Juli 2026. Benchmarking yang dilakukan oleh UMTS menjadi langkah strategis untuk pembangunan dan pengembangan pusat karir (career center) yang tidak hanya berorientasi pada penemptan kerja alumni, tetapu juga mempersiapkan mahasiswa untuk memasuki dunia kerja internasional sejak berada di bangku kuliah.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, M.A (Rektor UMTS), Mira Rahmayanti Sormin, M.A, Adek Kholijah Siregar, M.Pd dan Rosmaimuna Siregar, M.A selaku perwakilan UMTS. Kemudian Prof. Dr. Tulus Winarsono, M.Si bersama kolega perwakilan dari OSTC UMM. Pertemuan ini berlangsung di kantor OSTC UMM bersama mitra industri PT. Brexa Raya Indonesia yang selama ini menjadi salah satu penghubung OSTC UMM melakukan penempatan tenaga kerja ke Jepang.

Benchmarking antara UMTS dan UMM menjadi forum berbagi pengalaman mengenai strategi pengelolaan pusat karir berbasis industri global. OSTC UMM memaparkan berbagai program pelatihan, pembinaan kompetensi, penguatan bahasa asing, hingga pendampingan penempatan kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang. Model yang dilakukan oleh OSTC UMM dinilai relevan untuk didopsi dan dikembangkan oleh UMTS sebagai bagian dari peningkatan layanan kepada mahasiswa dan lulusan.
Prof. Dr. Tulus Winarsono, M.Si., menjelaskan bahwa pusat karir di perguruan tinggi saat ini harus memiliki peran yang lebih luas dibandingkan sekadar membantu alumni memperoleh pekerjaan. Menurutnya, mahasiswa tingkat akhir juga perlu dipersiapkan sejak dini agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja internasional. Melalui program yang dijalankan OSTC, mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir dapat memperoleh pembekalan keterampilan, pelatihan budaya kerja dan kemampuan bahasa sehingga memiliki peluang lebih besar untuk bekerja di perusahaan-perusahaan global, termasuk di Jepang. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat transisi lulusan dari dunia pendidikan menuju dunia kerja.
Sementara itu, Assoc. Prof. Dr. Darliana Sormin, M.A., menyampaikan bahwa hasil benchmarking ini akan menjadi referensi penting bagi UMTS untuk mengembangkan pusat karir yang lebih adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar tenaga kerja. Bagi Darliana perguruan tinggi memiliki tanggung jawab, tidak hanya menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik, tetapi juga harus mampu bersaing di tingkat internasional.
Selain membahas penguatan pusat karir, diskusi juga menyoroti pentingnya menghadirkan akses pendidikan yang inklusif bagi masyarakat. Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah membuka peluang bagi masyarakat yang terdampak bencana atau mengalami keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui skema tersebut, masyarakat dapat mengikuti pelatihan kerja dan memperoleh kesempatan bekerja, termasuk di Jepang, selama satu hingga dua tahun. Setelah memiliki pengalaman kerja dan kondisi ekonomi yang lebih baik, mereka dapat melanjutkan pendidikan tinggi melalui program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Vokasi, sehingga pengalaman kerja yang dimiliki dapat diakui sebagai bagian dari proses akademik menuju jenjang sarjana.
Model ini diharapkan menjadi solusi yang mampu menghubungkan dunia pendidikan, dunia industri, dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan. Tidak hanya meningkatkan kesempatan kerja, tetapi juga membuka akses pendidikan tinggi bagi kelompok masyarakat yang sebelumnya terkendala oleh faktor ekonomi.
Melalui benchmarking ini, UMTS dan OSTC UMM sepakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pusat karir, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan jejaring kerja sama dengan mitra industri internasional. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan lulusan yang kompeten, berdaya saing global, serta memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui akses terhadap pekerjaan dan pendidikan yang lebih luas. (amin aziz)

