• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Didominasi Lansia, Kemenag imbau calon haji Tapsel jaga kesehatan dan ikuti arahan petugas

Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Indonesia, Ini Sejarah dan Maknanya

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
18 April 2026
in Liputan Haji 2024
0

Tradisi Mengantar Jemaah Haji di Indonesia, Ini Sejarah dan Maknanya

INFOMU.CO | Jakarta – Tradisi mengantar jemaah haji sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Kegiatan ini biasanya dilakukan saat keluarga atau tetangga akan berangkat ke Tanah Suci.
Tidak sekadar melepas keberangkatan, tradisi ini juga berisi doa dan harapan agar jemaah diberi kelancaran dalam beribadah. Lalu, seperti apa makna dan kebiasaan yang dilakukan dalam tradisi ini?

Sejarah dan Makna Tradisi Mengantar Jemaah Haji
Mengutip buku Perjalanan Religi Haji dan Umroh Pasca Pandemi Covid-19 karya Fuad Thohari, perjalanan haji masyarakat Nusantara sudah berlangsung sejak zaman kolonial. Pada masa itu, jemaah harus menempuh perjalanan sangat lama, bisa berbulan-bulan, melalui jalur darat dan laut.

Perjalanan yang panjang ini membuat haji dipandang sebagai momen perpisahan. Tidak sedikit orang yang berangkat, tetapi belum tentu bisa kembali ke tanah air.

Dalam buku Berhaji di Masa Kolonial, M. Dien Madjid menjelaskan bahwa jemaah haji biasanya mengadakan walimatus safar atau selamatan sebelum berangkat. Tradisi ini sudah dilakukan sejak masa kolonial Belanda.

Sebelum berangkat, biasanya ada acara perpisahan. Dalam momen ini, calon jemaah haji saling meminta maaf dengan keluarga, kerabat, dan tetangga. Setelah itu, mereka diantar bersama-sama hingga ke pelabuhan.

Selain itu, momen ini juga penting agar tidak ada kesalahan yang tersisa, karena perpisahan bisa saja menjadi yang terakhir.

Perjalanan menuju Makkah saat itu penuh tantangan. Jemaah harus menghadapi ombak besar dan angin kencang yang bisa menyebabkan kapal karam. Risiko lain juga bisa terjadi, seperti cedera, kehilangan barang berharga, hingga meninggal dunia di perjalanan.

Saat di laut, ada juga jemaah yang wafat karena kelelahan, kekurangan fasilitas, atau sakit. Selain itu, ada yang kehilangan harta karena dicuri. Akibatnya, setibanya di pelabuhan, mereka harus bekerja sebagai buruh atau meminjam uang kepada syekh agar bisa melanjutkan perjalanan.

Pada masa itu, perjalanan haji bisa memakan waktu minimal enam bulan, bahkan hingga bertahun-tahun jika bekal habis. Tidak sedikit jemaah dari Nusantara yang berhasil berangkat, tetapi tidak bisa kembali ke kampung halaman.

Jadi, tradisi mengantar jemaah haji dimaknai sebagai bentuk perpisahan, doa, dan dukungan dari keluarga serta masyarakat kepada calon jemaah yang akan berangkat ke Tanah Suci.

Ibadah haji adalah ibadah istimewa karena hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu. Umat Islam juga percaya bahwa orang yang berhaji adalah tamu Allah SWT. Oleh sebab itu, mengantar jemaah haji menjadi momen yang penting bagi masyarakat.

Tradisi mengantar jemaah haji sudah lama dilakukan di berbagai daerah di Indonesia, terutama saat musim haji tiba.

Mengutip laman Kemenag, pada tahun 1897 calon jemaah haji diantar oleh warga satu desa. Tua dan muda ikut mengantar. Suasananya penuh haru, bahkan banyak yang saling berpelukan di stasiun.

Pada 1920, Ismail bin Hadji Abdoellah Oemar Effendi menceritakan suasana di Pelabuhan Belawan, Medan. Ratusan orang mengantar jemaah. Banyak yang menangis, terutama perempuan dan anak-anak, saat kapal akan berangkat.

Saat kapal mulai berangkat, suasana semakin haru. Ada yang berpelukan, menangis, bahkan hampir pingsan karena sedih melepas keluarga yang pergi haji dalam waktu lama.

Pada 1925, Wiranatakoesoema melihat jumlah pengantar lebih banyak daripada jemaah. Banyak orang memenuhi stasiun, bahkan ada yang ikut naik ke gerbong tambahan.

Mengutip buku karya H. Bagenda Ali, di Bali ada tradisi mengantar haji yang disebut Ninjo Haji. Jemaah diantar hingga ke pelabuhan Gilimanuk.

Selain itu, masyarakat Bugis-Makassar juga punya tradisi mengantar jemaah haji sejak zaman nenek moyang. Tradisi ini bahkan masih dilakukan hingga sekarang.

Di Surabaya, Pelabuhan Tanjung Perak dulu dikenal sebagai Tanjung Tangis. Tempat ini menjadi lokasi perpisahan jemaah haji. Banyak keluarga yang menangis saat melepas keberangkatan.

Sekarang perjalanan haji lebih cepat dan aman. Tangis tidak lagi seperti dulu. Namun, tradisi mengantar tetap dilakukan dengan doa dan harapan agar jemaah selamat dan menjadi haji mabrur. (dtk-hikmah)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: mengantar haji
Previous Post

Dinilai Intoleran, Kebijakan Kacabdis Wilayah I soal MTQ Tuai Kritik Pemuda Muhammadiyah Kota Medan

Next Post

Talbiyah dalam Haji: Bolehkah Dilafalkan dengan Komando?

Next Post
Talbiyah dalam Haji: Bolehkah Dilafalkan dengan Komando?

Talbiyah dalam Haji: Bolehkah Dilafalkan dengan Komando?

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.