• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Tiga Sukses Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
7 September 2026
in Kolom
0

Tiga Sukses Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah

Oleh : Jufri

Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah makin dekat. Sebagaimana biasa, dalam setiap Muktamar Muhammadiyah kita tidak perlu terlalu sibuk membicarakan siapa figur pengurus yang akan datang. Ketua PP Muhammadiyah Agung Danarto juga mengingatkan bahwa forum permusyawaratan Muhammadiyah jangan sampai berubah menjadi arena kontestasi seperti partai politik. Muktamar bukan sekadar tentang siapa yang terpilih menjadi pemimpin, tetapi momentum memperkokoh komitmen dakwah, memperkuat ukhuwah, dan menentukan arah gerakan Muhammadiyah ke depan.

Karena itu, menjelang Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 di Sumatera Utara, perhatian kita sebaiknya diarahkan kepada tiga sukses Muktamar: sukses penyelenggaraan, sukses peserta, dan sukses syiar.

Pertama, sukses penyelenggaraan.

Muktamar adalah forum permusyawaratan tertinggi dalam Muhammadiyah. Karena itu, penyelenggaraannya harus berlangsung tertib, aman, nyaman, demokratis, dan bermartabat. Sumatera Utara mendapatkan kehormatan menjadi tuan rumah, dan kehormatan itu sekaligus merupakan amanah.

Sukses penyelenggaraan bukan hanya tentang bagaimana acara pembukaan dan persidangan berjalan lancar. Lebih dari itu, bagaimana Sumatera Utara mampu memberikan pengalaman yang baik kepada seluruh peserta dan tamu yang datang dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari mancanegara.

Bahkan, saya kira semangat menjadi tuan rumah tidak boleh hanya dibebankan kepada panitia. Rumah-rumah warga Muhammadiyah juga harus siap menjadi bagian dari penyelenggaraan Muktamar. Ribuan peserta dan penggembira akan datang dari berbagai daerah. Tidak semuanya harus menginap di hotel. Ada semangat ta’awun dan silaturahmi yang bisa kita hadirkan melalui rumah-rumah warga Muhammadiyah.

Rumah-rumah warga Muhammadiyah di Medan, Deli Serdang, Binjai, Serdang Bedagai, maupun Tebing Tinggi sebagai daerah penyangga hendaknya mulai dipersiapkan untuk dapat menampung para penggembira Muktamar dari berbagai daerah. Tentu dengan pengaturan yang baik, koordinasi yang jelas, serta memperhatikan kenyamanan dan kebutuhan para tamu.

Bayangkan, seorang peserta dari Sulawesi datang ke Sumatera Utara. Ia tidak hanya mengikuti Muktamar, tetapi mungkin tinggal beberapa hari di rumah keluarga Muhammadiyah. Dari situlah lahir silaturahmi yang mungkin sebelumnya tidak pernah terjadi. Bisa jadi setelah Muktamar selesai, hubungan itu tidak berhenti, tetapi menjadi jaringan persaudaraan Muhammadiyah yang terus terhubung.

Bayangkan pula orang dari Sulawesi, misalnya. Mereka datang ke Sumatera Utara untuk mengikuti Muktamar, tetapi tentu saja perjalanan sejauh itu bisa menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat Sumatera Utara. Setelah mengikuti agenda Muktamar, mereka mungkin ingin menyempatkan diri datang ke Danau Toba yang ikonik, atau mengunjungi berbagai destinasi wisata lainnya yang ada di Sumatera Utara.

Begitu juga peserta dari Papua, Kalimantan, Jawa, Maluku, Nusa Tenggara dan berbagai daerah lainnya. Mereka tidak hanya membawa pulang pengalaman bermuktamar, tetapi juga cerita tentang Sumatera Utara, keramahan masyarakatnya, kulinernya, budayanya, serta keindahan alamnya.

Di sinilah Muktamar mempunyai efek yang lebih luas. Ribuan orang yang datang ke Sumatera Utara dapat menjadi duta yang membawa cerita tentang daerah ini ketika mereka kembali ke kampung halaman masing-masing. Karena itu, menjadi tuan rumah Muktamar sesungguhnya juga merupakan kesempatan untuk memperkenalkan Sumatera Utara kepada Indonesia dan dunia.

Kedua, sukses peserta.

Muktamar adalah ajang perjumpaan dan silaturahmi. Orang-orang Muhammadiyah yang selama ini mungkin hanya berkomunikasi melalui media sosial, surat, atau forum-forum organisasi, pada Muktamar dapat bertemu secara langsung. Mereka datang dari latar belakang daerah, profesi, pengalaman dan tradisi yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh satu ikatan gerakan.

Karena itu, Muktamar bukan hanya tentang duduk dalam persidangan. Ada nilai yang jauh lebih dalam, yaitu bertemu, saling mengenal, saling belajar, memperkuat ukhuwah dan membangun jejaring perjuangan.

Di sinilah Muktamar menjadi ruang bertemunya keragaman. Ada yang datang dari kota besar, ada yang datang dari pelosok; ada yang berasal dari pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua. Bahkan Muhammadiyah juga telah hadir di berbagai negara.

Perjumpaan seperti ini sesungguhnya adalah kekayaan Muhammadiyah. Kita tidak hanya bertemu untuk memilih dan menetapkan keputusan, tetapi juga untuk saling belajar tentang bagaimana Muhammadiyah tumbuh dan memberi manfaat di tempat masing-masing.

Ketiga, sukses syiar.

Muktamar harus menjadi momentum untuk memperlihatkan kepada masyarakat luas bagaimana Islam Berkemajuan hadir dalam kehidupan. Masyarakat tidak hanya melihat kemeriahan Muktamar, tetapi juga dapat merasakan nilai, gagasan dan manfaat yang dibawa Muhammadiyah.

Bahkan, menurut saya, warga Muhammadiyah itu sendiri harus menjadi “iklan dakwah Islam Berkemajuan.” Apa yang kita katakan tentang Muhammadiyah akan lebih mudah dipercaya ketika masyarakat melihatnya dalam perilaku kita. Cara kita bertetangga, bekerja, berorganisasi, menghormati perbedaan, menjaga kebersihan, membantu orang lain, serta bagaimana kita menghadirkan Islam yang ramah dan mencerahkan, semuanya merupakan bagian dari dakwah.

Dakwah tidak selalu harus berada di atas mimbar. Kadang-kadang justru perilaku seorang warga Muhammadiyah jauh lebih kuat menyampaikan pesan Islam daripada banyak kata-kata. Ketika masyarakat melihat warga Muhammadiyah jujur, disiplin, santun, terbuka, berilmu, peduli dan memberikan manfaat, sesungguhnya saat itu Islam Berkemajuan sedang “beriklan” melalui tindakan nyata.

Karena itu, sukses syiar Muktamar tidak cukup diukur dari seberapa banyak spanduk terpasang, seberapa ramai pemberitaan, atau seberapa banyak konten yang beredar di media sosial. Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah Muktamar masyarakat semakin mengenal dan merasakan bahwa Muhammadiyah membawa Islam yang mencerahkan.

Sukses syiar berarti memperkenalkan Muhammadiyah secara lebih luas sebagai gerakan Islam yang membawa pesan pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, kebudayaan, kemanusiaan dan kebangsaan.

Karena itu, Muktamar jangan hanya menjadi percakapan internal warga Muhammadiyah. Gagasan-gagasan yang lahir dari Muktamar harus dapat dibaca, didengar dan dirasakan oleh masyarakat.

Di sinilah pentingnya media, terutama media sosial. Muktamar hari ini bukan hanya berlangsung di ruang persidangan, tetapi juga berlangsung di ruang digital. Apa yang dilakukan, dipikirkan dan diputuskan di Muktamar akan menjadi bagian dari wajah Muhammadiyah yang dilihat oleh masyarakat luas.

Namun ada satu hal yang menurut saya tidak kalah penting: sukses Muktamar harus berujung pada pemerataan kemajuan Muhammadiyah.

Jangan sampai kemajuan Muhammadiyah hanya terlihat di wilayah tertentu, sementara daerah lain berjalan dengan keterbatasannya. Muhammadiyah harus terus tumbuh secara berkeadilan. Amal usaha boleh berbeda jumlahnya, kemampuan daerah boleh berbeda, tetapi semangat untuk memajukan umat harus dirasakan bersama.

Dari Aceh hingga Papua, bahkan hingga mancanegara, peran Muhammadiyah tetap menyala.

Kalimat ini bukan sekadar menggambarkan luasnya wilayah gerakan Muhammadiyah, tetapi juga mengingatkan bahwa setiap daerah memiliki peran dalam menghadirkan cahaya Islam Berkemajuan.

Maka Muktamar ke-49 hendaknya tidak terlalu disibukkan dengan pertanyaan siapa yang akan menjadi ketua, siapa yang akan masuk kepengurusan, atau siapa yang akan mendapatkan posisi tertentu. Semua itu memang bagian dari mekanisme organisasi, tetapi bukanlah tujuan utama Muktamar.

Yang jauh lebih penting adalah apa yang akan kita lakukan setelah Muktamar.

Siapa pun yang nanti mendapatkan amanah, tugasnya adalah melanjutkan gerakan. Siapa pun yang tidak mendapatkan amanah dalam struktur, tetap memiliki ruang untuk berbuat dan memberikan kontribusi. Sebab Muhammadiyah sejak awal bukan dibangun untuk mengejar jabatan, tetapi untuk menjalankan amal usaha dan amal nyata bagi umat, bangsa dan kemanusiaan.

Saya membayangkan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke-49 sebagai sebuah momentum konsolidasi besar. Kita berkumpul, bermusyawarah, bersilaturahmi, saling menguatkan, kemudian kembali ke tempat masing-masing dengan semangat yang lebih besar untuk bekerja.

Akhirnya, ukuran keberhasilan Muktamar bukan hanya ketika acara selesai dan para peserta kembali ke daerahnya masing-masing. Ukuran sesungguhnya adalah ketika setelah Muktamar Muhammadiyah menjadi semakin kuat, semakin berkemajuan, semakin bermanfaat, dan semakin luas memberikan cahaya.

Sukses penyelenggaraannya, sukses pesertanya, sukses syiarnya.

Dari Sumatera Utara kita teguhkan Muhammadiyah untuk Indonesia. Dari Indonesia kita terus gerakkan Muhammadiyah untuk memberikan manfaat bagi kemanusiaan.

Islam Berkemajuan, Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.

Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: jufrikolomsukses muktamar
Previous Post

Hari BerMuhammadiyah Langkat: Majelis Ekonomi Gelar Pasar Murah

Next Post

100 Guru dan Tendik Aisyiyah Sumut Ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru

Next Post
100 Guru dan Tendik Aisyiyah Sumut Ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru

100 Guru dan Tendik Aisyiyah Sumut Ikuti Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.