Pendidikan
Teungku Haji Jaafar Hanafiah menghabiskan masa mudanya dengan menekuni berbagai bentuk pendidikan, baik melalui jalur formal maupun informal. Secara formal dia pernah tercatat sebagai salah seorang murid di sekolah Taman Siswa. Jenjang pendidikan ini ditekuninya hingga mencapai tingkat Taman Dewasa. Selain itu, secara informal dia juga sangat tekun mempelajari ilmu agama langsung dari orang tuanya dan melalui guru – guru pengajian. Selain itu, Teungku Haji Jaafar Hanafiah juga pernah tercatat sebagai salah seorang alumnus Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah ( FIAD ) Muhammadiyah . Tidak dapat dipungkiri bahwa lembaga pendidikan ini telah turut pula membentuk kepeloporannya menjadi seorang juru dakwah yang sangat cemerlang pada masanya.
Wawasan pengetahuan dan kedalaman ilmunya semakin cemerlang disebabkan dia juga dikenal sangat rajin membaca berbagai macam kitab agama. Modernisme pemikirannya mulai tampak ketika dia mulai bergabung dan berkecimpung dengan Muhammadiyah pada tahun 1961.
Tokoh pembaharu ini tidak pernah absen dalam berbagai bentuk kegiatan pengajian dan diskusi yang diadakan Muhammadiyah Orang tuanya sendiri sangat mendukung ketika dia bergabung dengan Muhammadiyah, padahal ayahnya masih sangat kuat memegang ajaran kaum ” tua “.
Di antara guru pengajian yang telah banyak membimbingnya dan amat berpengaruh dalam membentuk pemahaman Islamnya adalah Ustad Haji Muhammad Nur Haiyi. Untuk guru yang satu ini, beliau mengakui bahwa seorang Nur Haiyi yang telah dikehendaki Allah membimbing sekaligus memotivasinya hingga berhasil menjadi aktivis dakwah yang peduli terhadap anak yatim, kaum duafa dan mengenal kehidupan yang sesuai dengan sunnah.
Salah satu yang telah memotivasi Teungku Haji Jaafar Hanafiah bergabung dengan Muhammadiyah adalah karena sistem ubudiyah yang dikembangkan Muhammadiyah betul-betul menegakkan sunah sebagaimana yang dikerjakan oleh Rasulullah ﷺ.
Aktivitas Sosial, Ekonomi dan Agama.
Ketika masih muda, terutama di luar jam belajar, Teungku Haji Jaafar Hanafiah selalu ikut menemani dan membantu ayahnya berdagang ( berjualan ) di Jln. Diponegoro Banda Aceh. Pengalaman dagang dari ayahnya inilah yang kemudian telah menurunkan bakat bisnis pada dirinya, sampai akhirnya dia pernah tercatat sebagai salah seorang saudagar yang sangat sukses dalam bisnis ekspor – impor barang antara Aceh dengan Penang ( Malaysia ).
Bisnis dagang yang ditekuminya terus berlanjut sampai Indonesia merdeka. Bahkan ketika beliau menjadi anggota TNI dengan pangkat Kapten dia juga tetap aktif sebagai Direktur Aceh Trading Coy Banda Aceh yang mendapat tugas untuk memasarkan karet ke luar negeri, terutama ke Pulau Penang ( Malaysia ).
Selain itu, ada satu pekerjaan dagang yang dianggap oleh Teungku H. Jaafar Hanafiah yang tidak pernah rugi, yaitu berdakwah Keterbatasan ilmu pengetahuan agama yang dimilikinya tidaklah menjadi kendala baginya untuk menjalankan aktivitas dakwah. Beliau dikenal sangat fasih berbahasa Inggris dan kemampuannya ini sangat membantu untuk menyampaikan missi dakwahnya kepada dunia yang lebih luas. Bahkan dengan kefasihannya berbahasa Inggris dia sempat berdakwah selama satu bulan di Australia.
Satu yang membedakan dakwah Teungku H. Jaafar dibandingkan dengan yang lain yaitu kemampuan retorikanya yang tinggi, sehingga muatan dakwah selalu diramu dengan bahasa segar, kocak, tetapi tetap dalam koridor mendidik.
Pada tahun 1962 sosok kepribadian Teungku H. Jaafar Hanafiah sebagai salah seorang muballigh semakin cemerlang setelah dia terpilih menjadi Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Aceh. Jabatan sebagai ketua diembannya selama enam periode berturut-turut yang berarti selama tiga puluh tahun.
Selama kepemimpinannya aktivitas Muhammadiyah di Aceh masih sangat terikat dengan pendekatan dakwah bil – lisan (di atas mimbar). Kondisi ini menyebabkan sangat banyak lahir muballigh Muhammadiyah. Di kalangan warga Muhammadiyah, beliau sering dipanggil dengan sebutan ” Pak Haji “. Semua warga Muhammadiyah langsung mengetahui kalau kepadanya disebut pak Haji, maka pastilah yang dimaksudkan adalah Teungku Haji Jaafar Hanafiah.
Untuk memudahkan mewujudkan missi dakwahnya, beliau dengan beberapa orang ulama Muhammadiyah lainnya kemudian membentuk sebuah Korps Muballigh Muhammadiyah dan kelompok ini sangat aktif melakukan dakwah ke berbagai daerah.
Bersamaan dengan itu Teungku H. Jaafar Hanafiah semakin dikenal di kalangan masyarakat, baik di Aceh maupun di luar Aceh. Dia seorang aktivis dakwah yang memiliki karakter mau’idatil – hasanah. Selalu tampil menarik dan penuh kharisma di depan umat. Setiap kata-kata dan kalimat yang diucapkannya sangat bersih, tegas dan sangat rasional.
Dia mampu memotivasi audiens dengan hal – hal yang sederhana, sehingga setiap materi dakwahnya tidak pernah menjadi beban untuk diamalkan, dipatuhi dan diikuti. Dia juga menjadi imam salat berjamah yang sangat menyenangkan, karena suaranya merdu dan khas serta bacaannya fasih. Kemerduan suaranya dan kefasihan bacaannya semakin menambah kekhusyuan para jamah secara keseluruhan.
Salah satu pesan yang sering diungkapkan dan didakwahkannya melalui berbagai kesempatan adalah mengenai wasiat Rasulullah ﷺ bahwa barang siapa memegang sunah dalam kehidupannya sehari-hari berarti dia sama seperti memegang api, walaupun bara api itu panas namun orang yang benar-benar beriman akan tetap memegang api itu dengan gala konsekwensinya. Pesan lain yang selalu menjadi fokus pembicaraanya adalah agar akidah umat Islam benar-benar bersih dari segala bentuk kemusyrikan.
Demikianlah, kharisma kepribadian yang dimilikinya sebagai seorang juru dakwah telah mengantarkannya menjadi salah seorang muballigh kondang di tingkat lokal, nasional bahkan di beberapa negara tetangga pada masanya.
Jasa – jasanya.
Salah satu prestasi Teungku Haji Jaafar Hanafiah yang sangat cemerlang dalam Muhammadiyah adalah keberhasilannya merubah opini masyarakat Aceh bahwa Muhammadiyah itu bukanlah organisasinya kaum feodal dan pendatang dari Padang semata, Memang secara historis harus diakui bahwa basis Muhammadiyah di Aceh Selatan, banyak pendatang yang berasal dari Padang yang kemudian dikenal sebagai sub – etnis Aneuk Jamee ( tamu / pendatang ). Namun dengan berbagai upaya yang ditempuhnya , ulama ini telah berhasil menjadikan Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi Islam yang sangat terbuka dan moderen. Berbagai program yang dilakukan Muhammadiyah selalu berpihak kepada kepentingan umat secara universal. Hal itu ditandai dengan adanya program layanan umat melalui Panti Asuhan Muhammadiyah, Lembaga Kesehatan Muhammadiyah dan berbagai Lembaga Pendidikan Muhammadiyah mulai dari Tingkat Taman Kanak – Kanak hingga ke perguruan tinggi .
Di samping itu, Teungku Haji Jaafar Hanafiah juga sangat aktif di Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui lembaga ini dia telah banyak memberikan konstribusi pemikiran guna memajukan kehidupan keagamaan di Aceh. Salah satu jasanya yang sangat menonjol selama aktif di MUI adalah keberhasilannya memupuk silaturrahmi dan rasa ukhuwah antara sesama umat Islam yang berbeda paham keagamaanya la dapat menjalin komunikasi yang harmonis dengan berbagai ulama Aceh yang memiliki perbedaan latar belakang pernikiran dengannya.
Pandangannya yang bijak dan moderat tentang berbagai bentuk khilafiyah (perbedaan pemahaman) menunjukkan kepeduliannya yang lebih besar terhadap kepentingan umat ketimbang pemihakannya terhadap kepentingan elite agama (Islam). Namun demikian, sebagai seorang ulama Muhammadiyah, dia juga sangat konsisten dalam upaya memberantas segala macam bentuk tahkayul, khurafat dan bid’ah. Akidah umat harus bersih dari segala bentuk kemusyrikan.
Selain itu, Teungku Haji Jaafar Hanafiah juga telah berhasil menanamkan semangat berwiraswasta di kalangan umat, menanamkan keyakinan kepada para pengikutnya bahwa hanya dengan semangat wiraswasta dan kemandirianlah umat Islam dapat bangkit dari segala bentuk kemiskinan baik moril maupun material.
Dengan kemandirianlah umat Islam dapat terlepas dari segala bentuk penindasan dan ketergantungan. Dalam konteks pembinaan kaum muda, terutama Angkatan Muda Muhammadiyah, selama masa kepemimpinanya Teungku H. Jaafar Hanafiah menaruh perhatian yang cukup serius. Ia menganggap kaum muda dan anak – anak suatu saat kelak pasti akan menjadi generasi penerus pemegang estafet kepemimpinan umat yang akan menyempurnakan cita-cita dakwahnya. Oleh sebab itu, ia sangat mendukung berbagai kegiatan kaum muda Dukungan yang diberikannya tidak hanya dalam bidang moril semata, tetapi juga selalu memberikan sumbangan dana demi suksesnya setiap kegiatan pengkaderan dan pembinaan generasi muda. Menurut pengakuan Sayed Muhammad Husen (salah seorang kader Muhammadiyah Aceh ), suatu kesempatan. Pemuda Muhammadiyah (1994) datang bersilaturrahmi ke rumah Teungku H. Jaafar Hanafiah di Lhong Raya dan mengharapkan ia dapat hadir memberi ceramah pada acara pengkaderan yang akan diselenggarakan PP Muhammadiyah. Dia menyambut baik dan menyanggupinya. Hanya saja satu hal yang mengejutkan Husen, beliau segera menyerahkan sejumlah uang sumbangan untuk kelangsungan acara dimaksud.
Padahal panitia tidak memasukkannya ke dalam daftar donatur. Menurut berbagai informasi justru inilah yang menjadi kebiasaan beliau dalam mendorong kaum muda agar senang melaksanakan kegiatan dakwah dan pengkaderan.
Demikianlah riwayat, petualangan dan jasa Teungku H. Jaafar Hanafiah yang diperankannya selama hidupnya hingga diapun kembali ke haribaan – Nya pada usia 80 tahun.
Dikutip dari buku “Biografi ulama-ulama Aceh Abad XX” karya: Drs. Shabri A. dkk 2004 (Agusnaidi Budaya)

