Tauhid Harus Melahirkan Kesalehan Individual, Sosial, dan Publik
INFOMU.CO | Yogyakarta – Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ridho Al Hamdi, mengajak umat Islam untuk menguatkan tauhid di tengah tantangan era modern, era disrupsi, dan era digital.
Pesan tersebut disampaikan dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (5/6).
Menurut Ridho, tauhid tidak cukup dipahami sebagai keyakinan bahwa Allah Maha Esa dan tidak memiliki sekutu. Tauhid harus diwujudkan dalam perilaku nyata yang membawa kemaslahatan bagi sesama manusia, lingkungan, dan kehidupan publik.
“Keimanan tidak hanya berhenti pada lisan atau pikiran, tetapi harus hadir dalam tindakan sehari-hari,” ujarnya.
Dalam khutbahnya, Ridho menjelaskan bahwa tauhid yang kokoh setidaknya melahirkan tiga bentuk kesalehan, yaitu kesalehan individual, kesalehan sosial, dan kesalehan publik.
Kesalehan individual, menurutnya, merupakan wujud hubungan seorang hamba dengan Allah melalui berbagai ibadah seperti salat, puasa, zikir, dan bentuk-bentuk ketaatan lainnya. Ia menegaskan bahwa ibadah tidak boleh dipandang sebagai rutinitas semata, melainkan sebagai ekspresi rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat yang diberikan.
Ridho mengingatkan bahwa Rasulullah Saw yang telah dijamin masuk surga tetap memperbanyak ibadah sebagai bentuk syukur kepada Allah. Karena itu, umat Islam yang belum memiliki jaminan keselamatan justru harus semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah.
Namun demikian, ia menekankan bahwa kesalehan individual tidak boleh berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah. Keimanan juga harus tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Pada aspek kesalehan sosial, Ridho menjelaskan bahwa salah satu indikator keimanan adalah kemampuan seseorang menghadirkan rasa aman dan kebahagiaan bagi orang lain. Seorang Muslim yang beriman tidak boleh menjadi sumber ketakutan, ancaman, atau penderitaan bagi lingkungan sekitarnya.
“Minimal jika belum mampu memberi manfaat yang besar kepada orang lain, jangan sampai kehadiran kita menyakiti sesama,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kesalehan sosial harus diwujudkan dalam berbagai ruang kehidupan, baik di lingkungan keluarga, kampus, tempat kerja, maupun masyarakat luas. Menyakiti teman, kolega, atau tetangga bertentangan dengan semangat keimanan yang diajarkan Islam.
Tidak hanya itu, Ridho juga mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam merupakan bagian penting dari implementasi tauhid. Menurutnya, manusia tidak boleh memandang alam semata-mata sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai bagian dari ekosistem kehidupan yang harus dijaga dan dihormati.
“Orang yang beriman tidak hanya tidak menyakiti sesama manusia, tetapi juga tidak merusak lingkungan dan tidak menyakiti makhluk hidup lainnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ridho menjelaskan bahwa bentuk tertinggi dari implementasi keimanan adalah kesalehan publik. Kesalehan ini tampak ketika seseorang diberi amanah dalam urusan publik, baik dalam lingkup kecil maupun besar.
Ia menyebut bahwa integritas dalam mengelola jabatan merupakan bagian dari konsekuensi tauhid. Karena itu, praktik korupsi tidak dapat dipisahkan dari persoalan lemahnya keimanan.
“Tidak korupsi adalah implementasi dari keimanan. Ketika seseorang berani menyalahgunakan amanah demi kepentingan pribadi, itu menunjukkan bahwa kesadaran akan pengawasan Allah belum benar-benar hadir dalam dirinya,” tegasnya.
Ridho menyoroti berbagai kasus korupsi yang masih terjadi di Indonesia sebagai cerminan belum kuatnya kesalehan publik di kalangan sebagian pemegang amanah. Menurutnya, seorang pemimpin yang benar-benar beriman akan menyadari bahwa setiap rupiah yang dikelola merupakan titipan rakyat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan hukum, tetapi juga di hadapan Allah.
Karena itu, ia mengajak generasi muda, mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, maupun para pejabat untuk memaknai iman secara lebih substantif. Keimanan tidak cukup ditunjukkan dengan rajin beribadah, tetapi juga harus melahirkan perilaku yang membawa manfaat bagi masyarakat.
“Agama hadir untuk menolong kesengsaraan manusia. Keimanan harus menghasilkan kebaikan, kesejahteraan, dan keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ridho juga mengaitkan keimanan dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ia menilai bahwa berbagai kerusakan sumber daya alam yang terjadi saat ini tidak terlepas dari praktik korupsi dan lemahnya tanggung jawab moral dalam pengelolaan kebijakan publik.
Menurutnya, orang yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sejatinya sedang menunjukkan kualitas keimanan yang kuat karena memikirkan keberlangsungan kehidupan generasi mendatang.
Menutup khutbahnya, Ridho mengajak jamaah untuk memahami tauhid secara utuh. Tauhid tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga harus melahirkan keberpihakan kepada sesama manusia, kepedulian terhadap lingkungan, serta komitmen menjaga amanah dalam kehidupan publik.
Ia berharap umat Islam mampu membuktikan keimanannya melalui tindakan nyata, mulai dari berbuat baik kepada sesama, menjaga lingkungan, hingga menjalankan amanah secara jujur dan bertanggung jawab.
“Puncak kebijaksanaan adalah takut kepada Allah. Ketika rasa takut kepada Allah benar-benar hadir, maka amanah akan dijalankan dengan jujur dan keimanan akan melahirkan kemaslahatan bagi kehidupan,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.di)

