TAJDID SEPANJANG WAKTU: MENYAMBUT MILAD MUHAMMADIYAH DENGAN KESADARAN ILAHI ATAS PERGANTIAN HARI
Dr. Junaidi, M.Si – (Ketua MT PDM Medan dan Dosen FUSI UINSU Medan)
Pendahuluan
Milad Muhammadiyah yang diperingati setiap tahun pada tanggal 18 November merupakan momen penting bagi umat Islam di Indonesia. Muhammadiyah yang didirikan pada tahun 1912 oleh KH. Ahmad Dahlan, memiliki tujuan untuk memajukan pendidikan, kesehatan, dan sosial masyarakat. Dalam konteks ini, tajdid atau pembaruan menjadi tema utama yang mengingatkan kita akan pentingnya kesadaran Ilahi dalam menghadapi pergantian waktu. Dalam tulisan singkat ini, kita akan menjelajahi makna tajdid, pentingnya milad Muhammadiyah, dan bagaimana kesadaran Ilahi dapat menjadi pendorong dalam setiap langkah kita.
Tajdid berasal dari kata “jadid” yang berarti baru. Dalam konteks Islam, tajdid merujuk pada usaha untuk memperbarui pemahaman dan praktik agama agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini pada setiap seratus tahun seseorang yang akan memperbarui agama mereka.” (HR. Abu Dawud). Ini menunjukkan bahwa pembaruan adalah bagian integral dari perjalanan umat Islam.
Sejak didirikan, Muhammadiyah telah berkontribusi besar dalam pendidikan dan kesehatan di Indonesia. Menurut data dari Kementerian Agama, Muhammadiyah memiliki lebih dari 29.000 sekolah dan 172 rumah sakit di seluruh Indonesia (Kementerian Agama, 2020). Ini menunjukkan betapa besarnya peran Muhammadiyah dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Setiap pergantian hari adalah pengingat akan waktu yang diberikan Allah kepada kita. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan Dia-lah yang menjadikan malam dan siang sebagai tanda-tanda (kekuasaan-Nya).” (QS. Al-Furqan: 62). Kesadaran akan hal ini mendorong kita untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, termasuk dalam menyambut milad Muhammadiyah.
- Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah sosok yang sangat inspiratif. Beliau tidak hanya mendirikan organisasi, tetapi juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan agama. Salah satu kisah yang terkenal adalah ketika beliau mendirikan sekolah pertama di Yogyakarta, yang menjadi cikal bakal pendidikan modern di Indonesia. Upaya beliau menunjukkan bagaimana tajdid dalam pendidikan dapat membawa perubahan yang signifikan.
Menurut data dari Pusat Data dan Statistik Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammadiyah memiliki lebih dari 3 juta siswa yang terdaftar di sekolah-sekolahnya (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2021). Ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pembaruan spiritual, tetapi juga pada peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Selain pendidikan, Muhammadiyah juga berkontribusi dalam bidang kesehatan. Dengan lebih dari 172 rumah sakit dan klinik, Muhammadiyah telah membantu jutaan orang dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang berkualitas. Data dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menunjukkan bahwa layanan kesehatan yang disediakan oleh Muhammadiyah telah berkontribusi dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi di Indonesia (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2022).
Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Muhammadiyah menginisiasi berbagai program pemberdayaan ekonomi, seperti koperasi dan pelatihan keterampilan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam yang mendorong umatnya untuk saling membantu dan memberdayakan satu sama lain.
Setiap tahun, peringatan milad Muhammadiyah diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari seminar, diskusi, hingga bakti sosial. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi atas perjalanan organisasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Dalam setiap kegiatan, kesadaran Ilahi selalu menjadi landasan utama, mengingatkan kita akan tanggung jawab kita sebagai hamba-Nya.
Di era digital saat ini, Muhammadiyah juga beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Melalui platform digital, Muhammadiyah dapat menjangkau lebih banyak orang dan menyebarkan informasi dengan lebih cepat. Menurut survei dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), lebih dari 70% penduduk Indonesia kini terhubung dengan internet, menjadikan digitalisasi sebagai alat yang efektif untuk pembaruan (APJII, 2022).
Dalam konteks pendidikan agama, Muhammadiyah terus berupaya melakukan tajdid dengan mengembangkan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman. Hal ini termasuk pengajaran tentang toleransi, pluralisme, dan pemahaman yang mendalam tentang ajaran Islam. Dengan pendekatan ini, diharapkan generasi muda dapat menjadi umat yang berakhlak mulia dan siap menghadapi tantangan global.
Selain KH. Ahmad Dahlan, ada banyak tokoh Muhammadiyah lainnya yang memberikan inspirasi dalam perjuangan mereka. Misalnya, Buya Hamka yang dikenal sebagai sastrawan dan ulama, berjuang untuk menyebarkan pemikiran Islam yang moderat dan toleran. Karya-karyanya, seperti “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”, tidak hanya menjadi bacaan populer, tetapi juga mengandung nilai-nilai moral yang tinggi.
Seiring berjalannya waktu, jumlah anggota Muhammadiyah terus mengalami peningkatan. Menurut data dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat Muhammadiyah, saat ini terdapat lebih dari 30 juta anggota Muhammadiyah di seluruh Indonesia (Majelis Pemberdayaan Masyarakat, 2023). Ini menunjukkan bahwa semangat tajdid dan pembaruan yang diusung oleh Muhammadiyah semakin diterima oleh masyarakat.
Perempuan juga memiliki peran penting dalam Muhammadiyah. Melalui Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah, banyak program yang dikhususkan untuk pemberdayaan perempuan. Data menunjukkan bahwa lebih dari 5 juta perempuan tergabung dalam Aisyiyah, yang aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan pendidikan (Aisyiyah, 2023). Ini menunjukkan bahwa tajdid juga mencakup pemberdayaan perempuan dalam masyarakat.
Kesadaran Ilahi seharusnya tidak hanya menjadi konsep abstrak, tetapi harus terwujud dalam tindakan sehari-hari. Dalam setiap aktivitas, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, atau masyarakat, kita perlu selalu mengingat bahwa setiap amal baik akan dicatat dan mendapatkan balasan dari Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).
Di tengah tantangan zaman modern, seperti radikalisasi dan konflik sosial, Muhammadiyah berperan sebagai penengah dan pendorong perdamaian. Melalui pendekatan dialog dan toleransi, Muhammadiyah berusaha menciptakan masyarakat yang harmonis. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme menunjukkan bahwa organisasi yang menerapkan nilai-nilai moderasi, seperti Muhammadiyah, memiliki peran penting dalam pencegahan ekstremisme (BNPT, 2022).
Milad Muhammadiyah bukan hanya sekadar perayaan, tetapi juga momen untuk merenungkan perjalanan organisasi dan menyusun rencana untuk masa depan. Dalam setiap refleksi, penting untuk mengingat bahwa setiap langkah yang diambil harus didasarkan pada kesadaran Ilahi dan komitmen untuk melakukan kebaikan. Dengan semangat tajdid, kita dapat menghadapi berbagai tantangan dengan optimisme.
Sebagai organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad, Muhammadiyah terus menunjukkan komitmennya untuk melakukan tajdid dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan kesadaran Ilahi yang selalu menjadi landasan, Muhammadiyah berupaya untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dalam menyambut miladnya, marilah kita bersama-sama merenungkan makna tajdid dan berkomitmen untuk terus berbuat baik, demi kemajuan umat dan bangsa. (***)
