Semesta Bercahaya: Muhammadiyah dan Orbit Gerakan yang Tak Pernah Berhenti
Oleh: Jufri dan Datuk Muda Halbay
“Semesta Bercahaya” bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ia menyimpan filosofi gerakan yang menarik untuk direnungkan. Muhammadiyah seperti Matahari yang memancarkan cahaya, sementara cahaya itu menyinari dan menghidupkan berbagai unsur dalam tubuh Persyarikatan: Ortom, Majelis, Lembaga, hingga Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Matahari tidak perlu mendatangi setiap planet untuk memberikan manfaat. Ia cukup berada pada tempatnya, memancarkan energi, lalu benda-benda langit bergerak dalam orbitnya masing-masing. Dari sana lahir keteraturan.
Barangkali demikian pula Muhammadiyah.
Muhammadiyah tidak harus menjadikan seluruh unsur gerakannya seragam. Yang dibutuhkan adalah arah yang sama, nilai yang sama, dan kesadaran untuk tetap berada dalam orbit gerakan.
Al-Qur’an dalam Surah Yunus ayat 5 mengingatkan bahwa Allah menetapkan manzilah-manzilah bagi perjalanan benda-benda langit. Ayat ini memberikan pelajaran tentang keteraturan ciptaan Allah. Semesta tidak berjalan secara sembarangan. Ada ketentuan, ukuran, dan keseimbangan yang mengaturnya.
Dalam bahasa ilmu fisika, kita mengenal gravitasi, gaya tarik yang menjaga keteraturan benda-benda bermassa. Jika keseimbangan itu terganggu, keteraturan pun dapat terganggu.
Tentu analogi ini bukan untuk menyamakan Muhammadiyah dengan tata surya secara harfiah. Tetapi sebagai sebuah refleksi organisasi, ia menarik untuk direnungkan.
Apa yang menjadi “gravitasi” Muhammadiyah?
Bukan kekuasaan seseorang. Bukan pula ketokohan satu atau dua orang.
Gravitasi gerakan Muhammadiyah adalah Al-Qur’an dan Sunnah, ideologi dan pokok pikiran Persyarikatan, serta nilai-nilai Islam Berkemajuan yang menjadi kekuatan pengikat seluruh elemen gerakan.
Ortom mempunyai orbitnya. Majelis memiliki ruang geraknya. Lembaga memiliki tugas dan kewenangannya. AUM mempunyai fungsi pelayanan dan pengembangannya masing-masing.
Semuanya boleh berkembang dengan karakter dan kreativitasnya sendiri, tetapi jangan sampai kehilangan pusat nilai yang menjadi orientasi bersama.
Dalam rentang waktu yang panjang, keseimbangan dan keteraturan itulah yang selama ini menjadi ruh gerakan Muhammadiyah. Di dalamnya tentu bukan hanya berisi kesamaan. Ada banyak perbedaan, karakter, cara pandang, dan dinamika. Namun semuanya dapat berjalan karena ada kebersamaan, saling menghargai, dan kesediaan untuk menempatkan perbedaan dalam satu tujuan perjuangan.
Sebagaimana Matahari, Bumi, dan planet-planet lainnya yang setia pada orbitnya, Muhammadiyah pun demikian. Masing-masing memiliki posisi, fungsi, dan peran yang berbeda, tetapi tetap bergerak dalam satu sistem yang saling menjaga keseimbangan.
Perbedaan bukan alasan untuk keluar dari orbit, melainkan kekayaan yang membuat semesta gerakan menjadi lebih hidup.
Kita dapat belajar dari alam. Benda-benda langit bergerak dalam keteraturan orbitnya. Dalam ilmu fisika, gerak benda-benda tersebut merupakan bagian dari sistem yang kompleks dan saling berkaitan. Pada tingkat yang berbeda, kita juga mengenal gerak partikel dalam model atom dan gerakan manusia ketika melakukan tawaf mengelilingi Ka’bah.
Tentu masing-masing memiliki konteks ilmiah dan makna yang berbeda. Tetapi semuanya dapat menjadi bahan renungan tentang satu hal: gerakan yang teratur membutuhkan pusat orientasi dan hukum yang menjaga keseimbangan.
Begitu pula Muhammadiyah.
Jika setiap unsur bergerak tanpa memperhatikan orbitnya, organisasi akan mudah mengalami benturan. Majelis bisa masuk terlalu jauh ke wilayah Lembaga. Ortom bisa kehilangan identitasnya. AUM bisa berjalan hanya mengejar kepentingan kelembagaan. Bahkan pimpinan pun bisa terjebak pada ego personal.
Sebaliknya, apabila setiap unsur memahami posisi, fungsi, dan tanggung jawabnya, maka perbedaan justru menjadi energi.
Inilah yang penting dalam membangun Muhammadiyah ke depan.
Kita tidak perlu menjadi Matahari bagi semuanya. Kita cukup menjadi cahaya pada orbit kita masing-masing.
Ada yang bergerak di bidang pendidikan. Ada yang mengembangkan kesehatan. Ada yang mengurus dakwah. Ada yang bergerak di bidang sosial. Ada yang mengembangkan ekonomi. Ada yang membina kader. Ada pula yang bekerja di tengah masyarakat melalui cabang dan ranting.
Semua memiliki kontribusi.
AUM pun semestinya bukan sekadar institusi yang berdiri megah, tetapi menjadi sumber energi peradaban. Sekolah melahirkan manusia berilmu dan berakhlak. Rumah sakit menghadirkan pelayanan yang memuliakan manusia. Perguruan tinggi melahirkan ilmu dan inovasi. Lembaga sosial menghadirkan keberpihakan kepada kaum lemah.
Dari sanalah cahaya Muhammadiyah benar-benar terasa.
Maka “Semesta Bercahaya” sesungguhnya bukan hanya tentang Muhammadiyah yang bersinar, tetapi tentang bagaimana cahaya itu dipantulkan melalui seluruh ekosistem Persyarikatan.
Cahaya itu bergerak dari pusat ke berbagai penjuru. Dari Pimpinan Pusat ke wilayah, dari wilayah ke daerah, dari daerah ke cabang, dan dari cabang sampai ke ranting. Dari Majelis dan Lembaga ke AUM. Dari AUM kembali memberikan manfaat kepada Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Di situlah sebuah gerakan menjadi hidup.
Muhammadiyah harus terus bergerak. Sebab gerakan yang berhenti akan kehilangan energi. Tetapi gerakan yang bergerak tanpa arah juga dapat kehilangan keseimbangan.
Karena itu, cepat bergerak harus dibarengi dengan tepat arah.
Semakin besar Muhammadiyah, semakin banyak pula orbit yang harus dijaga. Semakin banyak AUM yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab tata kelolanya. Semakin banyak kader yang tumbuh, semakin penting menjaga kesatuan nilai dan visi.
Kita juga perlu menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus diselesaikan dengan menyeragamkan. Ada perbedaan yang justru harus dirawat melalui dialog, musyawarah, dan penghargaan. Sebab Muhammadiyah sejak awal bukanlah gerakan yang dibangun oleh keseragaman manusia, melainkan oleh kesatuan cita-cita dan kebersamaan dalam perjuangan.
Akhirnya, kita bisa membayangkan Muhammadiyah seperti sebuah semesta gerakan.
Mataharinya tetap menyala. Planet-planetnya tetap bergerak. Masing-masing memiliki orbit. Semuanya berbeda, tetapi saling melengkapi.
Selama gravitasi nilai, Al-Qur’an dan Sunnah, serta semangat Islam Berkemajuan tetap menjadi pengikatnya, gerakan ini tidak akan kehilangan arah.
Semoga Muhammadiyah terus menjadi cahaya yang bukan hanya menerangi dirinya sendiri, tetapi juga menerangi Persyarikatan, umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta.
Sebab semesta yang bercahaya bukanlah semesta yang hanya memiliki satu cahaya, melainkan semesta yang mampu memantulkan cahaya itu ke segala penjuru.
Muhammadiyah bergerak.
Muhammadiyah mencerahkan.
Muhammadiyah berkemajuan.
Semoga terus bergerak dalam orbit kebaikan dan mencapai Islam Berkemajuan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

