Selamat jalan, Bang Baron.
Ini adalah postingan terakhir yang saya baca dari Abang, tertanggal 16 Desember 2025.
Tentang kegelisahan seorang pejuang kemanusiaan yang ingin turun ke lokasi banjir, membantu korban, tetapi harus menahan diri karena kesehatan tak lagi memungkinkan.
“Ketika yang lain bahu membahu menolong korban banjir, awak cuma bisa melihat dan membaca lewat sosmed. Padahal kepengen juga turun ke lokasi bencana untuk membantu. Tapi kesehatan sudah tidak memungkinkan…”
Di situlah saya melihat jiwa Abang yang sesungguhnya:
bukan sekadar peduli, tapi terpanggil.
Abang lalu menutupnya dengan cara yang sederhana tapi dalam:
membaca buku, tenggelam dalam pemikiran Buya Hamka, ditemani bakwan jagung dan secangkir kopi pahit.
Sunyi, tapi bermakna.
Sepi, tapi penuh nilai.
Sampai akhirnya pada Selasa malam Rabu, saya membaca satu lagi kabar duka:
Bang Baron berpulang.
Secara pribadi saya memang tidak pernah terlalu akrab dengan beliau.
Namun setiap kali berjumpa, kami selalu bertegur sapa, berbincang, dan saling menghargai.
Beliau senior di dunia nyata, kawan seperjalanan di media sosial.
Satu per satu, kawan bersama pergi… dan tak akan pernah kembali.
Kepergian ini mengingatkan saya bahwa hidup hanyalah jeda.
Kita datang, saling menyapa, lalu pulang satu per satu.
Selamat jalan, Bang Baron.
Kami di sini hanya menunggu waktu untuk ikut menyusul pulang.
Doa terbaik kami untuk Abang dan keluarga yang ditinggalkan.
Kita semua milik Allah’ , dan akan kembali kepada Allah
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
*** Jufri, Aktifis Muda Muhammadiyah Sumatera Utara

