Hari raya kurban 1442 H telah berlalu minggu lalu. Semua umat Islam gembira ria merayakannya. Sebagai wujud rasa syukur atas keteladanan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as.
Keteladanan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Keteladanan untuk mengorbankan apa yang paling dicintai. Keteladanan untuk berbagi kepada sesama.
Seorang anak seusai SMA yang saat ini berada di Australia, ikut berkurban. Dia, atas kehendak sendiri dan uang sendiri atas jerih payahnya. Inilah pertama kalinya dia ikut berkurban. Tanpa disuruh tanpa paksaan.
Atas saran kami, dia ikut berkurban di kampung halaman, kakeknya, alm. Muhammad Dollar Siagian, di Sipirok Tapanuli Selatan Sumatera Utara. Bersama dengan organisasi “Hami Halak Sipirok”, memotong satu ekor sapi di Desa Bagaslombang.
Neneknya atau Ompung Meneknya yang tinggal di Hutasuhut, datang ke sana, untuk menyaksikan pemotongan hewan kurban cucunya. Setelah selesai, panitia menyediakan satu bagian untuk Neneknya. Lalu diantar pulang ke rumahnya.

Kemarin, Selasa, 03.08.21, si Ompung Menek mengirim foto ini kepada saya. Rupanya beliau baru saja mengundang para tetangganya untuk berkumpul. Masak-masak di halaman rumah bersama dengan ibu-ibu dan gadis-gadis yang cekatan pun sigap.
Semua anak-anak satu kompleks diajak makan bersama. Ibu-ibu membawa nasi masing-masing. Sebagian makan bersama di atas daun pisang. Semua gembira semua senang.
Ibu-ibu senang karena tak perlu masak malam hari. Bapak-bapak pun ikut senyum karena dapat bagian, masing-masing ibu membawakan satu porsi untuk suaminya di rumah. Semua gembira penuh keceriaan.
Begitulah susana orang di kampung. Saling berbagi, saling menggembirakan. Mendekatkan pun mengukuhkan pertetanggaan, dalam kebersamaan.
(haidir fitra siagian, Gwynneville, 04.08.21)

