• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Refleksi Diri dalam Gerak Perjuangan di Muhammadiyah

Refleksi Diri dalam Gerak Perjuangan di Muhammadiyah

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
24 Januari 2026
in Literasi, Opini
0
Refleksi Diri dalam Gerak Perjuangan di Muhammadiyah
Oleh : Jaharuddin – Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Dalam sebuah forum Baitul Arqam Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta, akhir tahun 2025 lalu, saya menemukan satu titik hening dalam hidup saya sebagai kader. Bukan karena kegagalan, bukan pula karena kehilangan, tapi karena satu pertanyaan yang menghentak nalar sekaligus menyesakkan batin, siapa saya dalam Muhammadiyah? Di mana posisi saya dalam perjalanan panjang organisasi yang saya cintai ini?

Pertanyaan ini tidak datang dari luar. Ia lahir dari dalam, dipantik oleh narasi-narasi jernih dan dalam dari para pembicara yang tidak hanya membagikan ilmu, tapi juga menyulut kesadaran. Dalam suasana itu, saya merenung, apakah selama ini saya sungguh-sungguh hadir sebagai bagian dari gerakan? Atau saya hanya sekadar ikut dalam irama, tanpa memahami musiknya?

Sudah lebih dari satu dekade saya berjalan bersama Muhammadiyah. Mengajar, berkegiatan, berjejaring. Namun waktu tak selalu identik dengan kedewasaan. Ada yang lama di dalam, tapi belum juga memahami ruh gerakan. Ada yang baru bergabung, tapi jiwanya sudah menyatu dengan semangat tajdid dan dakwah pencerahan. Saya sadar, saya perlu berhenti sejenak untuk membaca diri sendiri.

Para pemateri dalam forum itu memetakan tipologi kader Muhammadiyah menjadi lima kategori. Bukan sebagai penghakiman, melainkan sebagai cermin. Cermin untuk melihat diri, jujur, dan bertanya ulang, di kategori manakah saya berada?

Pertama, kader biologis, mereka yang lahir dari rahim keluarga Muhammadiyah. Mereka menghirup Muhammadiyah sejak kecil—dari pengajian keluarga, sekolah, hingga rutinitas sosial. Namun tidak sedikit dari mereka yang hanya tinggal dalam identitas, tanpa benar-benar mengalami transformasi ideologis.

Kedua, kader ideologis, mereka yang menjalani proses kaderisasi dari bawah, memahami pemikiran-pemikiran KH Ahmad Dahlan, menjiwai tafsir sosial atas Al-Ma’un, dan menempatkan diri sebagai penggerak utama perubahan. Mereka adalah tulang punggung yang membawa Muhammadiyah tetap hidup dalam denyut zaman.

Ketiga, kader AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) atau kader honoris. Mereka datang karena pekerjaan. Masuk ke sekolah, rumah sakit, atau kampus Muhammadiyah untuk mencari nafkah. Sebagian dari mereka tumbuh menjadi kader ideologis, sebagian tetap menjadi ‘tamu’ yang tinggal di rumah Muhammadiyah tanpa memahami nilai-nilainya.

Keempat, kader simpatisan. Mereka bergabung karena cinta. Mungkin bukan karena garis keturunan atau pekerjaan, tapi karena keteladanan. Mereka melihat integritas tokoh Muhammadiyah, kesederhanaan yang langka, pelayanan tanpa pamrih, dan merasa terinspirasi. Mereka yang tertarik karena aura keikhlasan.

Kelima, kader parasit. Ini yang paling mengkhawatirkan. Mereka yang menjadikan Muhammadiyah sebagai tangga untuk kepentingan pribadi. Jabatan dikejar, proyek diincar, namun semangat fisabilillah tak tampak, dan keberpihakan terhadap mustadh’afin tak terlihat. Mereka hadir bukan untuk berjuang, melainkan untuk mengambil keuntungan dari perjuangan orang lain.

Kelima kategori ini menyentak kesadaran saya. Refleksi ini bukan untuk menunjuk orang lain, melainkan untuk bertanya dalam diri sendiri, selama ini saya kader jenis yang mana? Apakah saya hanya merasa menjadi bagian dari Muhammadiyah, atau sungguh-sungguh menjiwainya?

Muhammadiyah tidak didirikan hanya untuk menjadi institusi. Ia adalah gerakan. Ia adalah ruh perubahan. Ia hadir karena tangis sejarah, karena keprihatinan terhadap umat yang tertindas, terhadap pendidikan yang terbengkalai, terhadap kemiskinan yang diwariskan. KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah bukan untuk membangun kemegahan, tapi untuk memerdekakan. Dari kebodohan, dari kemiskinan, dan dari ketertinggalan.

Teologi Al-Ma’un menjadi nafasnya. Kita diajari untuk tidak sekadar mengaji ayat, tapi menjelmakan ayat dalam tindakan. Menolong anak yatim, memberi makan fakir miskin, dan tidak membiarkan mereka yang lemah terus tertindas. Spirit inilah yang harus terus hidup dalam setiap diri kader Muhammadiyah.

Namun hari ini, kita harus jujur. Di tengah kemajuan Amal Usaha yang luar biasa, di tengah tumbuhnya lembaga dan universitas, apakah ruh Al-Ma’un masih menjadi pijakan? Apakah kader-kader kita masih melihat fakir miskin sebagai amanah, atau justru sebagai statistik? Apakah semangat fisabilillah masih mengalir dalam darah kita, atau sudah tergantikan oleh hitung-hitungan untung-rugi?

Kita tidak boleh lupa, bahwa tokoh-tokoh besar Muhammadiyah hidup dalam kesederhanaan. Mereka bukan hanya bicara dakwah, tapi menjalani dakwah dengan sepenuh hati. Mereka tidak mencari jabatan, tapi jabatan datang karena keikhlasan mereka. Mereka tidak menghitung apa yang diberikan kepada Muhammadiyah, karena mereka merasa bahwa memberi kepada Muhammadiyah adalah bentuk cinta kepada Allah.

Di zaman yang semakin materialistik ini, kisah-kisah keteladanan itu terdengar seperti dongeng. Namun justru di sanalah letak tantangannya, menjaga ruh Muhammadiyah agar tidak tercerabut dari akar spiritual dan ideologisnya.

Tulisan ini bukan untuk menggurui. Ini adalah catatan, namun saya berharap bisa menjadi cermin bersama. Setiap dari kita harus terus bergerak dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi. Dari kader biologis menjadi kader ideologis. Dari honoris menjadi simpatisan sejati. Dari sekadar ikut, menjadi penggerak yang penuh kesadaran.

Menjadi Muhammadiyah sejati artinya memahami bahwa jalan ini adalah jalan sunyi. Bukan tempat mencari sorotan, tapi tempat mengasah keikhlasan. Jalan ini bukan untuk mendapatkan, tapi untuk memberi. Untuk melayani, bukan dilayani.

Kita semua mungkin pernah tersesat dalam motivasi. Pernah khilaf, terlena, atau bahkan lupa. Tapi selama kita masih mau membaca diri, selama kita masih mau belajar, selama kita masih ingin berubah, maka kita masih berada di jalan yang benar.

Mari kita jaga Muhammadiyah ini dengan jiwa yang bersih. Dengan etika yang tinggi. Dengan ilmu yang mendalam. Dan dengan semangat fisabilillah yang tak pernah padam. Kembalilah pada Al-Ma’un. Jadilah tangan yang memberi. Jadilah cahaya yang menuntun. Karena di sanalah inti dari menjadi kader sejati Muhammadiyah. (tabligh)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: muhammadiyahrefleksi diri
Previous Post

Universitas Al Azhar Kairo Siap Kirim 1000 Dosen ke Indonesia

Next Post

K.H. Ahmad Dahlan sebagai Agen Transformasi Praksis dalam Islam Indonesia

Next Post
Sekolah Muhammadiyah: Menyiapkan Generasi Tangguh di Tengah Tantangan Zaman

K.H. Ahmad Dahlan sebagai Agen Transformasi Praksis dalam Islam Indonesia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 48
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.