Rakernas LRB 2026, Dorong Resiliensi Bencana Berbasis Data dan Kearifan Lokal
INFOMU.CO | Yogyakarta – Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan pentingnya penguatan kapasitas wilayah, pemanfaatan teknologi, serta kearifan lokal dalam menghadapi berbagai ancaman bencana.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa kekayaan alam Indonesia merupakan anugerah yang harus dikelola secara bertanggung jawab. Dalam perspektif Islam Berkemajuan, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi untuk menjaga dan mengelola sumber daya alam secara baik.
Haedar juga menekankan pentingnya membangun resiliensi bencana sebagai bagian dari upaya Muhammadiyah dalam menjalankan peran kemanusiaannya. Menurutnya, penanganan bencana tidak semestinya terjebak pada persoalan status kebencanaan, tetapi harus berorientasi pada langkah nyata dan kesiapsiagaan bersama.
Lebih dari sekadar menghadapi peristiwa bencana, Haedar mengajak untuk menempatkan persoalan kebencanaan dalam ekosistem dan sistem pembangunan bangsa. Upaya membangun ketangguhan masyarakat, menurutnya, merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan Indonesia sebagai bangsa yang berkemajuan.
“Bencana ternyata tidak sekadar kita menghadapi peristiwa, tapi harus kita letakkan juga dalam sebuah ekosistem dan sistem untuk membangun bangsa. Bagaimana kita bisa membangun bangsa makin maju sehingga menjadi bangsa yang berkemajuan,” jelas Haedar dalam pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) LRB Muhammadiyah 2026 di Aula Saraswati, Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BBPPMPV) Yogyakarta, pada Jumat (11/9).
Sementara Ketua LRB PP Muhammadiyah Budi Setiawan menyampaikan bahwa tema Rakernas 2026 bukan sekadar slogan, melainkan respons atas berbagai tantangan kebencanaan yang dihadapi masyarakat. Banjir, gempa bumi, erupsi gunung api, kebakaran hutan dan lahan, hingga krisis iklim menunjukkan perlunya kolaborasi lintas pihak dalam membangun kesiapsiagaan dan ketangguhan menghadapi bencana.
Menurut Budi, Muhammadiyah memiliki modal sosial yang kuat melalui jaringan organisasi yang luas dan kepercayaan publik. Potensi tersebut perlu dioptimalkan melalui penyatuan langkah antarelemen Muhammadiyah dan berbagai pemangku kepentingan.
“Kekuatan Muhammadiyah ada pada jaringan dan kepercayaan publik, oleh karena itu perlu penyatuan langkah,” ucap Budi.
Budi juga menyoroti pentingnya inovasi dan pemanfaatan teknologi di era Society 5.0. LRB Muhammadiyah didorong untuk terus mengembangkan teknologi dalam mendukung pemetaan risiko bencana, pengelolaan data, hingga sistem informasi relawan. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan membuat kerja-kerja kebencanaan Muhammadiyah semakin cepat, tepat, dan akuntabel.
Di sisi lain, penguatan kapasitas wilayah dan pemanfaatan kearifan lokal menjadi bagian penting dalam strategi kebencanaan Muhammadiyah. Budi menilai teknologi perlu berjalan beriringan dengan kekuatan sosial dan budaya masyarakat.
“Teknologi tanpa akar budaya akan kering. Kearifan lokal seperti lumbung pangan dan gotong royong adalah modal besar bersama,” ujarnya.
Karena itu, Rakernas LRB Muhammadiyah 2026 diharapkan tidak berhenti pada perumusan gagasan, tetapi menghasilkan program yang dapat diimplementasikan secara nyata di berbagai wilayah. Penguatan kapasitas tersebut diwujudkan melalui pelatihan, simulasi, kaderisasi, serta penguatan kelembagaan LRB sebagai garda terdepan dalam kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah.
Budi berharap Rakernas 2026 dapat menghasilkan tiga hal utama. Pertama, putusan strategis yang mampu menjawab kebutuhan daerah dan dinamika kebencanaan saat ini. Kedua, program kerja yang terukur, berbasis data, dan dapat diterapkan pada seluruh jejaring LRB Muhammadiyah. Ketiga, semangat baru bagi seluruh jajaran LRB untuk terus memperkuat kerja kemanusiaan dan resiliensi bencana. (muhammadiyah.or.id)

