• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Rajin Bersyukur Tetapi Masih Membuat Orang Lain Tersungkur

Rajin Bersyukur Tetapi Masih Membuat Orang Lain Tersungkur

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
24 Oktober 2026
in Kolom
0

RAJIN BERSUJUD, TETAPI MASIH MEMBUAT ORANG LAIN TERSUNGKUR

Oleh: Ust Abdul Latif Khan
Ada pertanyaan yang perlu kita bawa pulang setelah selesai menunaikan shalat: apakah orang-orang di sekitar kita merasakan kebaikan dari ibadah kita?
Apakah keluarga merasa tenteram bersama kita? Apakah bawahan merasa aman ketika berhadapan dengan kita? Apakah orang yang lemah mendapatkan haknya melalui tangan kita?
Ataukah kita begitu lembut ketika berdoa, tetapi begitu keras ketika berbicara kepada manusia?
Kita menangis saat mendengar ayat tentang akhirat, tetapi tidak tergerak ketika melihat seseorang menangis karena perlakuan kita.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan memeriksa diri. Sebab, seseorang bisa terlihat saleh dalam ibadah pribadinya, sementara dalam kehidupan sosial ia masih melakukan kezaliman yang belum disadari, bahkan mungkin terus dibenarkan.
Kezaliman tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan yang menggemparkan.
Ia bisa hadir dalam upah pekerja yang sengaja ditahan, padahal keluarganya sedang membutuhkan makan. Dalam hak waris yang dikuasai seorang diri, sementara saudara sendiri dipaksa mengalah. Dalam fitnah yang disebarkan, lalu dianggap sekadar percakapan biasa.
Ia juga bisa hadir di rumah: ketika pasangan terus direndahkan, anak-anak dibesarkan dengan penghinaan, dan seluruh anggota keluarga harus memendam perasaan demi menjaga suasana hati satu orang.
Kadang-kadang pelakunya adalah orang yang rajin mendatangi pengajian. Lisannya fasih menasihati kesabaran, tetapi ia tidak pernah memikirkan betapa beratnya orang lain harus bersabar menghadapi dirinya.
Jangan sampai kita sibuk mengajarkan orang lain agar ikhlas, sementara kita terus mengambil hak yang seharusnya mereka terima.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”
(QS. Al-‘Ankabut: 45)
Ayat ini mengajak kita melihat buah shalat dalam kehidupan. Sujud semestinya mendidik kita merendahkan hati. Berdiri di hadapan Allah semestinya membuat kita berhati-hati saat berdiri di hadapan orang yang berada di bawah tanggung jawab kita.
Jika kita mengakui kebesaran Allah, mengapa masih merasa berhak memperlakukan manusia sesuka hati?
Jika kita mengharapkan ampunan-Nya, mengapa begitu sulit mengakui kesalahan kepada sesama?
Ketika perilaku kita masih menyakiti orang lain, jangan tinggalkan shalat. Jagalah shalat itu, benahi penghayatannya, dan sungguh-sungguhlah memperbaiki perilaku. Jangan biarkan ibadah berjalan sebagai rutinitas sementara kezaliman terus kita pelihara.
Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat tentang orang yang bangkrut.
Beliau kemudian menjelaskan bahwa orang yang bangkrut dari umatnya ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia juga datang dengan membawa kesalahan terhadap manusia: mencaci, menuduh, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.
Kebaikannya diberikan kepada orang-orang yang dizaliminya. Apabila kebaikannya habis sebelum seluruh tanggungannya selesai, dosa mereka dibebankan kepadanya, kemudian ia dilemparkan ke neraka.
(HR. Muslim, no. 2581)
Betapa menggetarkan peringatan ini.
Ia membawa amal ibadah. Namun, ia juga membawa hak manusia yang belum ditunaikan.
Mungkin selama di dunia ia merasa urusannya telah selesai setelah beristigfar. Sementara orang yang dirugikannya masih menunggu haknya kembali, namanya dipulihkan, atau lukanya diakui.
Jangan merasa aman hanya karena kita memiliki banyak amal. Periksalah, adakah hak orang lain yang masih berada dalam genggaman kita?
Bagi kita yang diberi amanah memimpin, renungan ini menjadi semakin dekat.
Ada keputusan yang tampak sederhana di atas meja, tetapi membuat sebuah keluarga kehilangan penghidupan. Ada ucapan singkat seorang atasan yang meninggalkan luka panjang pada bawahannya. Ada keberpihakan kepada kerabat yang membuat orang jujur kehilangan kesempatan.
Jabatan memperluas kemampuan kita untuk berbuat baik. Pada saat yang sama, keputusan kita dapat menjangkau lebih banyak orang dan menimbulkan lebih banyak kerugian bila diambil dengan zalim.
Maka, ukuran keberagamaan seorang pemimpin juga terlihat ketika ia menerima kritik, membagi hak, menegakkan keadilan, dan memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuatan untuk membalas.
Begitu pula bagi seorang pendakwah. Nasihat tentang akhlak harus lebih dahulu mengetuk pintu rumahnya sendiri. Orang-orang terdekat berhak merasakan kelembutan yang ia sampaikan kepada jamaah.
Mari bertanya dengan jujur kepada diri sendiri.
Adakah seseorang yang takut menyampaikan kebenaran kepada kita?
Adakah orang yang haknya belum kita bayarkan?
Adakah nama yang pernah kita rusak melalui ucapan, lalu kita biarkan tetap tercemar?
Adakah anggota keluarga yang selalu kita minta memahami keadaan kita, sementara kita tidak pernah bersungguh-sungguh memahami penderitaannya?
Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terasa tidak nyaman. Namun, ketidaknyamanan yang membawa kita bertobat jauh lebih baik daripada rasa tenteram yang membuat kita terus berbuat salah.
Selama Allah masih memberi umur, masih ada kesempatan untuk memperbaiki.
Bayarkan hak yang tertahan. Kembalikan harta yang diambil. Luruskan tuduhan yang pernah disebarkan. Mintalah maaf dengan tulus, tanpa menyalahkan orang yang terluka. Hentikan perlakuan buruk itu dan buktikan perubahan melalui tindakan yang terus dijaga.
Jangan menuntut orang lain segera memaafkan hanya karena kita sudah meminta maaf. Ada luka yang membutuhkan waktu untuk pulih. Tugas kita ialah bertanggung jawab dan memperbaiki diri.
Ya Allah, jadikan shalat kami menumbuhkan kerendahan hati. Jadikan puasa kami melatih pengendalian diri. Jadikan ilmu kami menuntun kami berlaku adil.
Ampunilah kezaliman yang kami sadari maupun yang selama ini kami anggap biasa. Berilah kami keberanian untuk mengakui kesalahan dan menunaikan hak sesama.
Semoga setelah kita bersujud kepada Allah, ada manusia yang merasa lebih aman dari lisan, tangan, dan keputusan kita. (***)

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: bersyukurkolomlatief khan
Previous Post

Menyatukan Langkah, Menguatkan Gerakan

Next Post

Menimbang Klaim Sosialis Untuk Orientasi dan Kinerja Presiden Prabowo Subianto

Next Post
Menimbang Klaim Sosialis Untuk Orientasi dan Kinerja Presiden Prabowo Subianto

Menimbang Klaim Sosialis Untuk Orientasi dan Kinerja Presiden Prabowo Subianto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.