Politik Muhammadiyah : Politik Moral dan Politik Kebangsaan
- Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan : Muhammadiyah menjadi kekuatan politik moral dan politik kebangsaan
INFOMU.CO | Parapat – Seperti apa politik Muhammadiyah hari ini. Ketua Majelis Pembinaan Kader & Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan — akrab disapa Gus Bah — menjelaskan konstalasi politik Indonesia serta irisannya dengan Politik Muhammadiyah itu sendiri. Gus Bah menyampaikan materi itu pada forum Darul Arqam Pimpinan Tingkat Wilayah Sumatera Utara.
Darul Arqam yang berlangsung 9 -12 Juli di Mess Porapora Parapat itu diikuti Pimpinan Harian PWM Sumatera Utara, Pimpinan Harian PW Aisyiyah Sumatera Utara dan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sumatera Utara. Darul Arqam merupakan forum Kaderisasi bagi Pimpinan. Daru Arqam mengusung tema : “Kepemimpinan Strategis dan Transformatif untuk Mewujudkan Muhammadiyah yang Tangguh, Kolaboratif, dan Berkemajuan.

Politik Moral dan Politik Kebangsaan
Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan mengatakan, Muhammadiyah tidak menjadi kekuatan politik secara formal. Tapi Muhammadiyah menjadi kekuatan politik moral dan politik kebangsaan di mana Muhammadiyah mengambil peran dalam menjaga moral politik bangsa agar tetap berada pada koridor cita-cita berdirinya Negara Kesantuan Republik Indonesia. Sementara politik kebangsaan Muhammadiyah adalah menjaga dan berkiprah untuk memajukan kehidupan masyarakat agar bangsa ini menjadi maju dan berkemajuan. ” Sehingga kita dapat menyaksikan Indonesia seperti yang kita harapkan dalam rumusan Darul Ahdi Wa al-Syahadah,” kata Gyus Bah.
Menjawab Pertanyaan Jurnalis tvMu terkait dengan diaspora kader politik yang menyebar dibanyak tempat, seperti apa Muhammadiyah memaksimalkannya. Gus Bah menjelaskan, jalur perjuangan hidup itu ada pada jalur struktural atau jalur politik kekuasaan dan jalur kultural, yakni pembangunan masyarakat. ” Kader Muhammadiyah ada dibanyak tempat. Ada yang tinggal di Muhammadiyah, ada yang berkiprah di-ummat dan ada yang di jalur kekuasaan,” kata Gus Bah. Memaksimalkan kader diaspora itulah Muhammadiyah berkiprah untuk ikut membangun membangai budang pendidikan, kesejahteraan dan politik.
Gus Bah berharap pimpinan Muhammadiyah di semua tingkatan untuk mau melakukan pendataan terkait dengan kader politik dan diaspora kader lainnya untuk ikut sama-sama membangun cita-cita Muhammadiyah.
Gus Bah berharap, kader Muhammadiyah yang ada di jalur politik dapat melahirkan kebijakan politik dan kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat. ” Muhammadiyah harus bersinergi dengan diaspora kader politik yang kini berada di banyak partai politik, untuk mewujudkan cita-cita Muhammadiyah membangun masyarakat dan bangsa untuk lebih baik lagi” kata Gus Bah.

Benci Polit Tapi Ridu Kuasa
Pada sisi diskusi antara peserta Darul Arqam muncul istilah “Benci Politik Tapi Rindu Kuasa” menyoroti orang-orang yang No-Politik tapi Ingin menikmati kekuasaan. Menjawab pertanyaan ini, Gus Bah mengatakan, untuk mendapatkan kukuasaan itu harus dilakukan melalui sebuah proses. Namun ada orang yang mau menikmati hasil dari proses itu tanpa mau memberikan kontribusi atau effort. Gus Bah mengatakan, tidak baik, kita mau menikmati kekuasaan tapi tidak mau ambil bagian pada prosesnya.
Darul Arqam yang berlangsung selama empat hari menghadirkan berbagai materi menarik, mulai Risalah Islam Berkemajuan dan Risalah Perempouan Berkemajuan, Peta Ideologi dan Pemikiran Islam, Ideologi Muhammadiyah : teks, konteks dan kontekstualisasi, Manhaj Tarjih Muhammadiyah, Risalah Ahlaq Kepemimpinan Muhammadiyah, Islam dan isu-isu global, Islam Berkemajuan : Rekonstruksi Kehidupan Kebangsaan yang Bermakna, Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wa al-Syahadah, Teologi Al-Maun, Fiqih Prioritas, Fiqih Informasi : Cerdas Beragama ditengah Hiruk Pikuk AI.
Selain Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, hadir memberikan pencerahan : Dr. Agung Danarto dan dr. Agus Taufiqurrahman. (Syaifulh/AH/ Bess)
