Pendidikan Prasekolah, Fondasi Emas Pembentuk Karakter Anak Sejak Dini
Oleh: Partaonan Harahap, ST,.MT
Setiap bangsa yang besar selalu menempatkan pendidikan sebagai fondasi peradabannya. Namun, tidak semua bangsa benar-benar memahami di mana fondasi itu harus mulai dibangun. Di Indonesia, kita masih sering terjebak dalam cara pandang lama, pendidikan dianggap dimulai ketika anak mengenakan seragam sekolah dasar, membawa tas, dan mulai mengenal buku pelajaran. Padahal, pada saat itu, banyak hal yang sesungguhnya sudah terlambat.
Pendidikan yang paling menentukan justru berlangsung sebelum itu pada fase usia dini, saat anak belum mengenal ruang kelas formal, tetapi sedang aktif membentuk dirinya melalui pengalaman, interaksi, dan pembiasaan. Inilah fase yang oleh para ahli disebut sebagai golden age, masa emas yang tidak akan pernah terulang.
Di titik inilah pendidikan prasekolah yang sering diremehkan sesungguhnya memainkan peran paling strategis. Ini bukan sekadar tahap pengantar menuju pendidikan formal, melainkan fondasi utama pembentukan karakter, kepribadian, dan pola pikir anak.
Abdul Mu’ti, dalam berbagai pernyataannya, menegaskan bahwa pendidikan prasekolah adalah kunci dalam membentuk karakter manusia. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan empati tidak lahir secara instan ketika anak sudah dewasa atau bahkan ketika mereka berada di bangku sekolah menengah. Nilai-nilai itu ditanamkan, dilatih, dan dibiasakan sejak usia dini di rumah dan di lembaga pendidikan prasekolah.
Namun sayangnya, kesadaran kolektif kita belum sampai ke sana. Pendidikan anak usia dini masih sering dipandang sebelah mata. Ia dianggap sekadar tempat bermain, bahkan tidak jarang dipersepsikan sebagai “tempat penitipan anak” bagi orang tua yang sibuk. Cara pandang ini bukan hanya keliru, tetapi juga berpotensi merusak masa depan generasi. Jika kita terus mengabaikan pendidikan prasekolah, maka sesungguhnya kita sedang membiarkan fondasi bangsa dibangun di atas tanah yang rapuh.
Masa Emas yang Tak Terulang, Urgensi Pendidikan Prasekolah
Ilmu perkembangan anak memberikan satu kesimpulan yang tidak terbantahkan: usia 0–6 tahun adalah periode paling krusial dalam kehidupan manusia. Pada fase ini, otak berkembang dengan sangat cepat mencapai sekitar 80 persen dari kapasitas maksimalnya. Jaringan saraf terbentuk melalui pengalaman yang dialami anak setiap hari. Apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan akan membentuk cara berpikir dan berperilaku mereka di masa depan. Dengan kata lain, masa kanak-kanak bukanlah masa menunggu, melainkan masa menentukan.
Di sinilah pendidikan prasekolah menemukan urgensinya. Ia bukan sekadar tempat anak belajar membaca, menulis, dan berhitung lebih cepat. Bahkan, jika itu yang menjadi fokus utama, maka kita telah salah arah. Pendidikan prasekolah yang ideal justru menempatkan pembentukan karakter sebagai prioritas utama. Abdul Mu’ti menekankan bahwa pembiasaan adalah kunci. Anak-anak tidak belajar nilai melalui ceramah panjang, melainkan melalui pengalaman sehari-hari. Ketika anak diajarkan untuk antre, ia sedang belajar disiplin. Ketika ia diminta berbagi mainan, ia sedang belajar empati. Ketika ia diberi tanggung jawab kecil, ia sedang dilatih menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Hal-hal sederhana ini sering kali dianggap remeh oleh orang dewasa. Namun justru di situlah letak kekuatan pendidikan prasekolah. Ia bekerja secara halus, tetapi berdampak mendalam dan jangka panjang.
Selain itu, pendidikan prasekolah juga berperan besar dalam membentuk kecerdasan emosional. Anak belajar mengenali perasaannya sendiri, memahami emosi orang lain, serta mengelola konflik secara sehat. Dalam dunia yang semakin kompleks dan kompetitif, kemampuan ini menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar kecerdasan akademik.
Sayangnya, sebagian orang tua masih terjebak dalam paradigma lama yang menilai keberhasilan anak dari seberapa cepat mereka bisa membaca atau berhitung. Anak didorong untuk mengejar capaian akademik, sementara aspek karakter dan emosional terabaikan. Ini adalah kesalahan mendasar yang harus segera dikoreksi. Karena pada akhirnya, banyak persoalan besar dalam kehidupan korupsi, kekerasan, ketidakjujuran tidak lahir dari kurangnya kecerdasan, melainkan dari kegagalan dalam pembentukan karakter.
Realitas yang Tertinggal, Tantangan Pendidikan Prasekolah di Indonesia
Meskipun urgensinya tidak terbantahkan, kondisi pendidikan prasekolah di Indonesia masih jauh dari ideal. Berbagai persoalan struktural terus membayangi, mulai dari kesenjangan akses hingga kualitas layanan. Pertama, masalah pemerataan. Di kota-kota besar, pendidikan prasekolah berkembang pesat dengan berbagai pilihan lembaga, fasilitas yang memadai, dan tenaga pendidik yang relatif lebih siap. Namun di banyak daerah, terutama di wilayah terpencil, akses terhadap PAUD masih sangat terbatas. Tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan stimulasi pendidikan sejak dini.
Kondisi ini berpotensi menciptakan kesenjangan yang semakin lebar di masa depan. Anak-anak yang sejak awal mendapatkan pendidikan berkualitas akan melaju lebih cepat, sementara yang tidak mendapatkannya akan tertinggal bahkan sebelum perlombaan dimulai. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa negara harus hadir untuk memastikan keadilan ini. Pendidikan anak usia dini bukanlah layanan tambahan yang bisa diabaikan, melainkan hak dasar setiap anak Indonesia. Tanpa kebijakan yang serius dan terarah, ketimpangan ini akan terus menjadi bom waktu dalam pembangunan sumber daya manusia.
Kedua, persoalan kualitas tenaga pendidik. Mengajar anak usia dini bukanlah pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan pemahaman mendalam tentang psikologi anak, metode pembelajaran yang tepat, serta kemampuan menjadi teladan dalam setiap perilaku. Namun kenyataannya, masih banyak tenaga pendidik PAUD yang belum mendapatkan pelatihan yang memadai. Dalam banyak kasus, guru PAUD bekerja dengan dedikasi tinggi, tetapi tanpa dukungan sistem yang kuat. Kesejahteraan yang rendah, minimnya pelatihan, serta kurangnya pengakuan profesional menjadi tantangan serius yang harus segera diatasi.
Ketiga, rendahnya kesadaran masyarakat. Banyak orang tua belum memahami pentingnya pendidikan prasekolah. Mereka menganggap bahwa anak akan “belajar dengan sendirinya” ketika sudah masuk sekolah dasar. Padahal, tanpa fondasi yang kuat, anak justru akan kesulitan mengikuti proses pembelajaran di jenjang berikutnya.
Keempat, tantangan era digital. Anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Gawai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tanpa pengawasan dan pendampingan yang tepat, anak lebih banyak berinteraksi dengan layar daripada dengan manusia.
Akibatnya, kemampuan sosial dan emosional anak berisiko terganggu. Mereka mungkin cepat menguasai teknologi, tetapi lambat dalam memahami empati, komunikasi, dan kerja sama. Di sinilah pendidikan prasekolah memiliki peran penting sebagai penyeimbang.
Sinergi yang Mendesak, Dari Rumah, Sekolah, hingga Negara
Menghadapi kompleksitas tantangan tersebut, tidak ada solusi tunggal yang bisa diterapkan. Pendidikan prasekolah membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak secara simultan. Keluarga adalah titik awal yang tidak tergantikan. Orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Nilai-nilai yang diajarkan di sekolah akan kehilangan makna jika tidak diperkuat di rumah. Konsistensi menjadi kunci. Anak harus melihat bahwa nilai yang diajarkan bukan sekadar aturan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa pendidikan karakter adalah tanggung jawab bersama. Sekolah tidak bisa bekerja sendiri, dan orang tua tidak bisa sepenuhnya menyerahkan tugas tersebut kepada lembaga pendidikan.
Di sisi lain, lembaga PAUD harus terus bertransformasi. Kurikulum tidak boleh hanya berorientasi pada capaian kognitif, tetapi harus mencakup perkembangan secara utuh—kognitif, emosional, sosial, dan spiritual. Pembelajaran harus dirancang agar anak aktif, kreatif, dan merasa aman untuk bereksplorasi. Metode learning by playing bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi praktik nyata. Anak belajar melalui pengalaman, bukan tekanan. Lingkungan belajar harus menjadi ruang yang menyenangkan sekaligus mendidik.
Pemerintah memiliki tanggung jawab terbesar dalam menciptakan ekosistem yang mendukung. Ini mencakup peningkatan anggaran pendidikan usia dini, program pelatihan guru yang berkelanjutan, serta sistem pengawasan yang memastikan kualitas layanan tetap terjaga.
Lebih dari itu, diperlukan gerakan nasional untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap pendidikan prasekolah. Kampanye publik harus mampu menyentuh kesadaran orang tua bahwa investasi terbaik bagi anak bukanlah pada kursus mahal di usia sekolah, tetapi pada pembentukan karakter sejak dini. Dunia usaha dan masyarakat sipil juga memiliki ruang kontribusi yang luas. Program tanggung jawab sosial perusahaan dapat diarahkan untuk mendukung pengembangan PAUD, terutama di daerah yang masih tertinggal.
Tanpa sinergi yang kuat, pendidikan prasekolah akan terus berjalan di pinggiran. Namun dengan kolaborasi yang tepat, ia dapat menjadi pusat dari strategi pembangunan manusia Indonesia. Pada akhirnya, masa depan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa tinggi gedung yang dibangun, tetapi oleh seberapa kuat fondasi manusianya. Dan fondasi itu dibentuk sejak usia dini, pada masa yang sering kali justru kita abaikan.
Pendidikan prasekolah bukan sekadar tahap awal dalam perjalanan pendidikan, melainkan akar dari seluruh proses pembentukan manusia. Apa yang ditanam pada fase ini akan tumbuh dan menetap dalam kepribadian anak sepanjang hidupnya. Pesan yang disampaikan Abdul Mu’ti seharusnya menjadi refleksi bersama: jika kita ingin melihat Indonesia yang lebih jujur, lebih disiplin, dan lebih berintegritas di masa depan, maka kita harus mulai dari pendidikan anak usia dini hari ini.
Sudah saatnya kita berhenti menempatkan pendidikan prasekolah sebagai pelengkap. Ia harus menjadi prioritas. Karena bangsa ini tidak dibangun dari atas, melainkan dari bawah dari ruang-ruang kecil tempat anak-anak belajar mengenal nilai, membangun kebiasaan, dan tumbuh menjadi manusia seutuhnya. Di sanalah masa depan Indonesia sedang disiapkan bukan di ruang sidang, bukan di panggung politik, tetapi di ruang-ruang sederhana pendidikan prasekolah. Dan jika kita gagal di sana, maka kita sedang menunda masa depan yang seharusnya bisa kita menangkan.
*** Penulis, adalah Dosen Fakultas Teknik UMSU, Sekretaris LPCR-PM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Ketua Asosiasi Alumni Teknologi Teladan Medan (AATT).

