Pendidikan: Menyiapkan Manusia untuk Hidup, Bukan Sekadar Bekerja
Oleh : Jufri
Dalam beberapa waktu terakhir, saya ikut dimasukkan ke dalam sebuah grup alumni organisasi mahasiswa yang anggotanya terdiri dari para guru dan mereka yang pernah menempuh pendidikan di bidang ilmu pendidikan dan keguruan. Dalam berbagai pembicaraan di grup tersebut, tentu saja pendidikan menjadi salah satu tema yang paling banyak dibahas. Masing-masing memiliki pengalaman, pandangan, dan kegelisahan terhadap dunia pendidikan hari ini. Semua merasakan betapa jauh pendidikan kita telah berkembang dengan segala persoalan dan dinamikanya.
Pembicaraan di grup itu semakin menampakkan bahwa ada banyak hal dalam pendidikan kita yang masih harus diperbaiki. Pendidikan kita masih terlalu berorientasi pada nilai dan angka-angka, yang bahkan dalam banyak hal tidak selalu mencerminkan keadaan yang sebenarnya.
Setiap bulan, misalnya, ada berbagai kuesioner yang harus diisi oleh guru. Sebagian besar tentu dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Tetapi tidak sedikit pula yang akhirnya hanya diisi sekadar untuk “menampakkan” bahwa kondisi pendidikan kita baik-baik saja.
Di sinilah persoalannya.
Ketika angka dan laporan lebih penting daripada kenyataan, maka kita berpotensi membangun sebuah sistem pendidikan yang terlihat baik di atas kertas, tetapi menyimpan banyak persoalan di dalam praktiknya.
Kita dapat memiliki nilai yang tinggi, laporan yang lengkap, grafik yang terus meningkat, dan berbagai indikator yang menunjukkan keberhasilan. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah semua itu benar-benar menggambarkan kualitas pendidikan yang sesungguhnya?
Termasuk di antaranya adalah persoalan efektivitas belajar lima hari dan waktu pulang murid yang sampai sore di sekolah, sementara sebagian sekolah kita secara infrastruktur dan fasilitas masih sangat kurang.
Menambah waktu anak berada di sekolah tentu tidak otomatis berarti menambah kualitas pendidikan. Lima hari sekolah dapat saja menjadi efektif apabila didukung oleh sistem pembelajaran yang baik, guru yang cukup, ruang belajar yang layak, fasilitas yang memadai, lingkungan yang sehat, serta kebutuhan dasar anak yang diperhatikan.
Tetapi bagaimana jika anak-anak harus berada di sekolah sampai sore dalam kondisi ruang kelas yang terbatas, fasilitas belajar yang belum memadai, perpustakaan yang tidak berjalan optimal, laboratorium yang minim, bahkan sarana dasar lainnya yang belum sepenuhnya tersedia?
Dalam kondisi seperti itu, kita perlu bertanya secara jujur: apakah yang bertambah benar-benar kualitas belajar, atau hanya bertambahnya waktu anak berada di sekolah?
Anak-anak bukanlah mesin yang dapat terus dipaksa belajar tanpa mempertimbangkan kondisi fisik, psikologis, lingkungan, dan kebutuhan sosial mereka.
Pendidikan harus dirancang berdasarkan kebutuhan manusia, bukan sekadar berdasarkan angka-angka administratif.
Di tengah berbagai persoalan itu, guru pun menghadapi tantangan yang semakin kompleks.
Guru sekarang semakin sulit mendidik, tetapi sangat dimudahkan untuk sekadar mengajar.
Mendidik dan mengajar tentu merupakan dua hal yang berbeda, meskipun keduanya saling berkaitan.
Mengajar lebih berkaitan dengan proses menyampaikan ilmu pengetahuan, materi, dan keterampilan. Sementara mendidik jauh lebih luas. Mendidik berarti membentuk manusia. Di dalamnya ada proses menanamkan nilai, membangun karakter, menumbuhkan tanggung jawab, mengajarkan kedisiplinan, memberikan keteladanan, serta membantu anak memahami bagaimana seharusnya hidup bersama orang lain.
Seorang guru mungkin dapat mengajar dengan buku, kurikulum, teknologi, dan berbagai media pembelajaran. Tetapi untuk mendidik, ia membutuhkan hubungan kemanusiaan, keteladanan, kesabaran, kehadiran, dan kepercayaan.
Di sinilah tantangan guru semakin besar.
Guru dituntut untuk membentuk karakter anak, tetapi pada saat yang sama ruang geraknya dalam mendidik sering kali semakin terbatas. Guru harus menghadapi perubahan sosial, perkembangan teknologi, media sosial, perubahan pola asuh keluarga, serta berbagai persoalan anak yang tidak semuanya dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan akademik.
Belum lagi guru harus disibukkan dengan berbagai administrasi. Waktu dan energi yang seharusnya dapat lebih banyak digunakan untuk memperhatikan murid atau siswa, sering tersita untuk mengisi berbagai laporan, dokumen, instrumen, dan tuntutan administratif lainnya.
Akibatnya, perhatian guru kepada murid dapat berkurang. Guru kemudian lebih banyak berhadapan dengan berkas daripada dengan anak-anak yang seharusnya menjadi pusat perhatian pendidikan.
Semua orang bisa terdorong untuk mencari aman.
Guru mencari aman dengan memenuhi administrasi. Sekolah mencari aman dengan menyelesaikan laporan. Sistem mencari aman dengan menampilkan angka-angka. Padahal, pendidikan tidak boleh hanya dibangun untuk memenuhi kebutuhan administratif dan menghindari kesalahan.
Pendidikan membutuhkan keberanian untuk melihat kenyataan.
Di sisi lain, kita juga menghadapi fenomena kepala sekolah yang dalam beberapa keadaan lebih ditentukan oleh pertimbangan politis daripada kemampuan memimpin dan mengelola pendidikan.
Padahal, kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah pemimpin pendidikan. Ia seharusnya memiliki kemampuan manajerial, kepemimpinan, pemahaman terhadap proses pembelajaran, kemampuan membangun budaya sekolah, serta keberanian mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pendidikan.
Ketika jabatan kepemimpinan pendidikan terlalu mudah dipengaruhi oleh kepentingan politik, maka pendidikan ikut menjadi korban dari politik kekuasaan.
Fenomena ini tentu tidak dapat dilepaskan dari semakin mahalnya ongkos politik dalam pemilihan kepala daerah. Ketika politik membutuhkan biaya yang sangat besar, maka berbagai posisi strategis di dalam pemerintahan dapat berisiko dipandang sebagai bagian dari jaringan kekuasaan dan balas jasa politik.
Jika hal itu merembet ke dunia pendidikan, maka yang seharusnya menjadi pertimbangan utama, kompetensi, integritas, kemampuan memimpin, dan kapasitas mengelola pendidikan, dapat tersisih oleh pertimbangan lain. Koneksi dan uang misalnya .
Padahal, sekolah membutuhkan pemimpin yang mampu menggerakkan guru, melindungi proses pendidikan, mengembangkan potensi siswa, dan membangun lingkungan belajar yang sehat.
Pendidikan membutuhkan kepemimpinan yang berorientasi pada mutu, bukan sekadar loyalitas politik.
Dari pembicaraan itu saya kemudian berpikir, pendidikan memang selalu dianggap dan diharapkan sebagai garda terdepan yang menentukan kualitas suatu bangsa. Tetapi sayangnya, pendidikan selalu saja menjadi objek pembahasan, sementara pengelolaannya tak kunjung benar-benar dibenahi. Adakalanya pendidikan dipersempit oleh ruang kelas, seolah-olah pendidikan hanya berlangsung di sekolah atau perguruan tinggi.
Padahal, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan. Apalagi di zaman ketika ilmu pengetahuan dapat diperoleh dengan begitu mudah oleh siapa saja melalui internet.
Namun, internet dan kemudahan memperoleh ilmu pengetahuan tidak akan pernah sepenuhnya menggantikan pendidikan.
Sebab pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui manusia, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan itu membentuk dirinya. Pendidikan bukan sekadar membuat seseorang menjadi pintar, tetapi juga membantu manusia belajar berpikir, bersikap, mengambil keputusan, menghargai orang lain, memahami kehidupan, dan menggunakan pengetahuannya untuk memberikan manfaat.
Informasi dapat diperoleh melalui internet. Pengetahuan dapat diakses dengan mudah. Tetapi kebijaksanaan, karakter, kedewasaan, dan kemampuan hidup bersama manusia lain tidak dapat diunduh begitu saja.
Di sinilah pendidikan sesungguhnya memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan pelajaran di ruang kelas.
Ada tiga gagasan dari tiga tokoh yang tampaknya berbeda, tetapi sesungguhnya berbicara tentang satu hal yang sama: bagaimana manusia dipersiapkan untuk menjalani kehidupan.
John Dewey mengingatkan bahwa tujuan pendidikan adalah menyiapkan anak-anak untuk hidup, bukan hanya untuk bekerja.
Tan Malaka bahkan memberikan peringatan yang lebih tajam. Jika pendidikan membuat anak-anak muda merasa terlalu tinggi dan terlalu pintar untuk bergaul dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul, sementara cita-citanya hanya sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali.
Sementara Buya Hamka mengajarkan bahwa untuk melewati badai, kita harus terus berjalan. Dan dalam perjalanan itu, ada dua hal yang harus selalu kita bawa: keyakinan dan cinta.
Tiga gagasan ini terasa sangat relevan ketika kita berbicara tentang pendidikan hari ini.
Pendidikan tidak boleh hanya menjadi jalan untuk mendapatkan ijazah, pekerjaan, jabatan, atau penghasilan. Semua itu penting. Tetapi pendidikan yang sesungguhnya seharusnya membuat manusia lebih siap menghadapi kehidupan.
Sebab hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan.
Ada masa ketika seseorang harus menghadapi kegagalan. Ada saatnya ia kehilangan pekerjaan, kehilangan jabatan, kehilangan kesempatan, bahkan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ada pula masa ketika seseorang harus berhadapan dengan perubahan zaman yang begitu cepat.
Pada saat itulah pendidikan diuji.
Apakah pendidikan yang kita terima membuat kita mampu berpikir? Mampu beradaptasi? Mampu bekerja sama? Mampu menghargai orang lain? Mampu bangkit ketika jatuh?
Atau pendidikan hanya membuat kita memiliki selembar ijazah, tetapi tidak memiliki daya tahan menghadapi kehidupan?
John Dewey mengingatkan kita bahwa sekolah harus mempersiapkan manusia untuk hidup. Artinya, pendidikan harus menyentuh seluruh dimensi kemanusiaan. Bukan hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga karakter, keterampilan sosial, keberanian, tanggung jawab, empati, dan kemampuan mengambil keputusan.
Anak-anak kita kelak tidak hanya akan menghadapi soal-soal ujian. Mereka akan menghadapi kehidupan.
Mereka akan berhadapan dengan perbedaan pendapat, persaingan, kekecewaan, godaan, perubahan teknologi, persoalan ekonomi, konflik sosial, dan berbagai ketidakpastian masa depan.
Karena itu, anak-anak perlu diajarkan bukan hanya bagaimana memperoleh jawaban, tetapi juga bagaimana menghadapi pertanyaan-pertanyaan kehidupan.
Di sinilah pesan Tan Malaka menjadi penting.
Pendidikan jangan sampai mencabut manusia dari akar kehidupan. Jangan sampai sekolah dan perguruan tinggi melahirkan manusia yang merasa terlalu tinggi untuk bergaul dengan masyarakat biasa.
Jangan sampai orang yang telah belajar menjadi malu bertemu petani, nelayan, buruh, pedagang kecil, tukang becak, pekerja kasar, atau masyarakat desa.
Sebab ilmu yang membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada manusia lain bukanlah ilmu yang memanusiakan.
Pendidikan seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Semakin berilmu, semakin ia menyadari bahwa masih banyak yang belum diketahuinya.
Bukankah para petani yang bekerja dengan cangkul juga memiliki pengetahuan? Bukankah pedagang kecil memiliki pengalaman? Bukankah orang tua yang tidak pernah duduk di bangku perguruan tinggi juga memiliki kebijaksanaan hidup?
Sekolah dan kampus seharusnya tidak menjauhkan manusia dari masyarakat. Justru pendidikan harus membawa manusia kembali kepada masyarakat dengan kemampuan yang lebih besar untuk memberikan manfaat.
Ilmu bukan tangga untuk meninggalkan manusia lain.
Ilmu adalah jembatan untuk kembali dan membantu manusia lain.
Maka pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang melahirkan manusia berpengetahuan, tetapi tetap membumi. Manusia yang mampu berpikir tinggi, tetapi tetap mampu duduk bersama masyarakat sederhana. Manusia yang menguasai teknologi, tetapi tidak kehilangan kemanusiaan.
Dan setelah memiliki ilmu serta kemampuan, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang lebih dalam untuk menjalani kehidupan.
Di sinilah pesan Buya Hamka menjadi sangat penting:
“Untuk melewati badai, kita harus terus berjalan, bukan berhenti. Dan untuk terus berjalan, hanya ada dua hal yang harus terus kita bawa: keyakinan dan cinta.”
Badai kehidupan tidak dapat dihindari.
Setiap orang memiliki badai masing-masing. Ada yang terlihat oleh orang lain, ada pula yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.
Ada badai dalam keluarga. Ada badai dalam pekerjaan. Ada badai dalam perjuangan. Ada badai dalam organisasi. Ada badai dalam kehidupan sosial dan politik.
Kadang-kadang kita merasa sudah berjalan sangat jauh, tetapi tujuan belum juga terlihat.
Pada saat seperti itu, keyakinan membuat kita tetap percaya bahwa perjalanan ini memiliki makna.
Sementara cinta membuat kita tidak berjalan hanya untuk diri sendiri.
Orang yang berjalan dengan keyakinan tidak mudah menyerah. Orang yang berjalan dengan cinta tidak mudah kehilangan arah.
Pendidikan, hakikatnya , bukan hanya soal membuat manusia mampu bekerja.
Pendidikan harus membuat manusia mampu hidup.
Mampu menghadapi kegagalan tanpa kehilangan harapan.
Mampu memperoleh keberhasilan tanpa kehilangan kerendahan hati.
Mampu memiliki ilmu tanpa merendahkan orang lain.
Mampu memasuki dunia modern tanpa kehilangan akar budaya dan kemanusiaan.
Dan yang paling penting, mampu terus berjalan melewati badai kehidupan dengan membawa keyakinan dan cinta.
Barangkali inilah yang perlu kita renungkan kembali dalam dunia pendidikan.
Kita tidak sedang mendidik anak-anak hanya untuk mengisi lowongan pekerjaan di masa depan.
Kita sedang mendidik manusia yang kelak akan menjadi orang tua, pemimpin, guru, pengusaha, pekerja, warga negara, anggota masyarakat, dan bagian dari kehidupan kemanusiaan.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya:
“Anak kita kelak akan bekerja sebagai apa?”
Tetapi juga:
“Akan menjadi manusia seperti apakah ia?”
Sebab pekerjaan dapat berubah.
Jabatan dapat berakhir.
Teknologi dapat berkembang.
Zaman dapat berganti.
Tetapi karakter, keyakinan, kecintaan kepada sesama, kemampuan untuk terus belajar, dan keberanian untuk terus berjalan akan selalu menjadi bekal penting dalam perjalanan kehidupan.
Pendidikan yang baik bukan hanya membuat seseorang siap mencari pekerjaan. Pendidikan yang baik membuat seseorang siap menjalani kehidupan.
Dan dalam perjalanan panjang itu, seperti pesan Buya Hamka, barangkali kita memang hanya perlu memastikan dua hal tidak pernah tertinggal:
keyakinan dan cinta.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
