OlympiCAD 2026: Meneguhkan Prestasi Bermakna bagi Pendidikan Indonesia Berkemajuan
Oleh : Miftah Fariz – Sekretaris Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Suumatera Utara
Dalam dunia pendidikan, seringkali prestasi dipandang dari segi yang sederhana, seperti juara, peringkat, atau piala. Meskipun pengakuan terhadap prestasi tersebut penting, saya semakin meyakini bahwa pendidikan tidak hanya dapat diukur dari hasil akhir saja. Proses yang dijalani, nilai-nilai yang terkandung dalamnya, dan makna yang dibangun sepanjang perjalanan lebih menentukan arah pendidikan itu sendiri. Berdasarkan pemikiran ini, saya melihat OlympiCAD ke-8 (Olympiade Ahmad Dahlan) tahun 2026 sebagai sebuah kesempatan strategis untuk kembali menggarisbawahi visi pendidikan yang kita tuju bersama.
Diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, OlympiCAD 2026 bertempat di Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) pada tanggal 12 hingga 14 Februari 2026, mengangkat tema “Berprestasi dengan Akhlak Mulia, Berkarya untuk Indonesia Emas 2045.” Tema ini mencerminkan nilai dasar pendidikan Muhammadiyah, sekaligus sejalan dengan visi pendidikan nasional yang mengutamakan penguatan karakter dan pengembangan kompetensi abad ke-21.

Dalam kebijakan pendidikan yang dicanangkan pemerintah, termasuk dalam Profil Pelajar Pancasila dan semangat Merdeka Belajar, diharapkan peserta didik dapat berkembang menjadi individu yang beriman, bernalar kritis, kreatif, mandiri, dan mampu bekerja sama. Namun, dalam praktiknya, mencapainya tidaklah mudah. Sistem pendidikan sering kali terjebak pada orientasi pencapaian hasil yang sempit, sementara pengembangan karakter sering terabaikan.
Di sinilah OlympiCAD memiliki peran yang sangat relevan. Menurut pandangan saya, acara ini lebih dari sekadar kompetisi akademik. OlympiCAD adalah ruang pendidikan yang kontekstual dan aplikatif, di mana kompetisi tidak dijadikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana pembelajaran. Peserta didik didorong untuk memberikan usaha terbaik, berkompetisi dengan cara yang sehat, serta menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Nilai-nilai akhlak tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman langsung dalam proses kompetisi.
OlympiCAD juga menunjukkan bahwa prestasi dan karakter tidaklah saling bertentangan. Sebaliknya, prestasi yang berkelanjutan hanya dapat dicapai oleh individu yang memiliki karakter yang kuat. Siswa yang disiplin, jujur, dan bertanggung jawab akan lebih siap menghadapi tantangan, baik di dunia akademik maupun dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, OlympiCAD dapat dipandang sebagai suatu praktik pendidikan yang menekankan pembiasaan nilai-nilai luhur, bukan hanya seleksi berdasarkan kemampuan kognitif semata.
Lebih jauh lagi, tema “berkarya” dalam OlympiCAD 2026 mengingatkan kita bahwa pendidikan harus mampu menghasilkan bukan hanya individu yang cerdas, tetapi juga mereka yang dapat memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat. Hal ini menjadi sangat penting dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045, di mana bonus demografi hanya akan menjadi kekuatan jika didukung oleh generasi yang produktif, berdaya saing, dan berorientasi pada kebaikan bersama.
Semangat ini sejalan dengan visi pembangunan sumber daya manusia yang telah menjadi fokus kebijakan pendidikan nasional. Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mencetak tenaga kerja terampil, tetapi juga untuk menghasilkan warga negara yang bertanggung jawab dan berakhlak baik. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan prestasi, akhlak, dan karya, OlympiCAD dapat dianggap sebagai model atau praktik terbaik dalam memperkuat kualitas pendidikan.
Pemilihan Universitas Muhammadiyah Makassar sebagai tuan rumah juga menambah nilai strategis bagi acara ini. Ini menunjukkan bahwa pengembangan pendidikan berkualitas tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan tersebar luas dan inklusif. Perguruan tinggi Muhammadiyah, seperti Unismuh, memainkan peran kunci dalam mendorong pendidikan yang bermutu sekaligus memberikan inspirasi kepada peserta didik untuk terus berkembang dan melanjutkan studi.
Namun demikian, OlympiCAD tidak boleh hanya berhenti pada seremonial saja. Evaluasi berkelanjutan dan penguatan pasca-olimpiade sangat penting untuk menjaga integrasi nilai-nilai yang diajarkan dalam acara ini ke dalam budaya sekolah. Sebagai sebuah usaha, OlympiCAD 2026 patut mendapatkan apresiasi, karena mengusung model kompetisi yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai moral yang mendalam.
Pada akhirnya, saya percaya bahwa masa depan pendidikan Indonesia akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana kita memaknai prestasi saat ini. Prestasi yang sesungguhnya adalah prestasi yang tumbuh seiring dengan pembentukan karakter dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. OlympiCAD 2026 membuktikan bahwa arah pendidikan yang mencakup prestasi, akhlak, dan karya tersebut dapat diwujudkan.
Jika Indonesia Emas 2045 ingin tercapai, maka pendidikan harus terus diarahkan untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan siap memberikan kontribusi positif. Dalam konteks ini, OlympiCAD bukan hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi juga merupakan kontribusi nyata bagi pendidikan Indonesia yang berkemajuan. (***)

