Muhammadiyah dan Iran Sepakat Lawan Segala Bentuk Kezaliman, dan Tak Menormalisasi Kejahatan
INFOMU.CO | Jakarta – Muhammadiyah dengan Iran memiliki keselarasan berpikir untuk meniadakan penindasan dan melawan segala bentuk kezaliman, penjajahan, serta berjuang bersama menegakkan keadilan.
Hal ini ditegaskan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni pada Selasa (7/4) seusai menerima silaturahmi Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi di Kantor Dakwah PP Muhammadiyah Jakarta.
“Kezaliman dalam bentuk apapun harus kita lawan, dan kita tegakkan bersama-sama keadilan. Dan masyarakat sudah tahu negara mana yang banyak melakukan kezaliman di dunia ini,” ungkapnya.
Keselarasan berpikir ini menurutnya sebagai upaya yang dilakukan tidak hanya oleh Muhammadiyah dan Iran, tapi oleh banyak entitas sosial baik oleh negara maupun komunitas masyarakat tertentu.
“Kita sepakat jangan ada normalisasi kejahatan. Jadi menyerang negara lain yang berdaulat itu adalah sebuah kejahatan dan jangan sampai ini menjadi tatanan yang normal,” katanya.
Normalisasi kejahatan, imbuhnya, akan menciptakan kekacauan dunia. Maka dia mengajak kepada seluruh pihak supaya tidak normalisasi kejahatan – negara menyerang negara lain yang berdaulat.
Syafiq mengajak entitas bangsa di seluruh dunia, lebih-lebih masyarakat Indonesia untuk membangun gerakan anti perang. Dunia ke depan membutuhkan kesadaran manusia yang cinta damai dan menjauhi kekerasan.
“Kita anti perang dan karena itu siapapun yang mulai melakukan peperangan maka harus dihukum secara bersama-sama, baik secara moral, etik, maupun dalam hubungan internasional,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Syafiq juga mengajak ormas keagamaan – tak hanya Islam, tapi juga keagamaan lain bersama-sama untuk menyuarakan lebih keras lagi tentang perdamaian dan masyarakat anti perang.
Peran Strategis Muhammadiyah di Ruang Internasional
Di sisi lain, Kanselir Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes Iran untuk Indonesia, Yahya Jahan Giri mengapresiasi langkah strategis yang diambil Muhammadiyah untuk perdamaian dan gerakan anti perang.
Baginya dan ulama-ulama Iran, Muhammadiyah bukan organisasi yang asing. Pihaknya mengaku telah banyak mengikuti ragam pemikiran dan visi maupun misi Muhammadiyah yang menurutnya relevan dengan peradaban dunia.
Kebesaran dan ekspansi Muhammadiyah ke berbagai negara dunia, katanya, menjadikan organisasi yang berdiri lebih dari seabad ini mengemban amanah semakin berat, sebab situasi dunia yang semakin kacau.
“Karena sudah sebegitu terkenal dan sudah begitu banyak ekspektasinya Muhammadiyah. Oleh karena itu, saya pikir tugas Muhammadiyah akan lebih berat tentunya di mata dunia,” ungkapnya.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki posisi penting untuk membangun persatuan dunia Islam. Bahkan dalam konteks perang yang terjadi di Iran, Muhammadiyah dapat menjadi bagian untuk mendamaikan.
“Oleh karena itu, hal semacam ini juga harus dihentikan. Oleh karena itu, saya melihat bahwa Muhammadiyah juga memiliki kapasitas tersebut,” imbuhnya.
Langkah bijak yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah dalam waktu dekat ini menurutnya adalah dengan memberikan pencerahan kepada dunia tentang situasi yang menimpa Iran kepada masayrakat dunia. (muhammadiyah.or.id)

