• Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
Infomu
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi
No Result
View All Result
Infomu
No Result
View All Result
Jufri

Jufri

Mini Drama Darul Arqam: Ketika Sejarah Dihidupkan, Ukhuwah Dikuatkan

Syaiful Hadi by Syaiful Hadi
16 Juli 2026
in Kolom
0
Mini Drama Darul Arqam: Ketika Sejarah Dihidupkan, Ukhuwah Dikuatkan
Oleh : Jufri 
Di sela-sela rangkaian Darul Arqam pekan lalu, ada satu sesi yang terasa berbeda. Bukan ceramah, bukan pula diskusi, melainkan sebuah mini drama yang mengangkat kisah perjalanan Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Cara belajar seperti ini ternyata bukan hanya menyenangkan, tetapi juga membuat nilai-nilai sejarah Islam lebih mudah dipahami, dihayati, dan membekas dalam ingatan.
Drama itu mengangkat beberapa peristiwa penting, mulai dari penghadangan terhadap Nabi Muhammad saw. yang dilakukan oleh kaum Quraisy, kisah tentang pembagian tanah dan harta rampasan perang, hingga berbagai dinamika yang terjadi pada masa awal Islam. Para peserta mendapat kesempatan memerankan tokoh-tokoh bersejarah dengan gaya dan kreativitas masing-masing. Ada yang menjadi Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, ada yang menjadi kaum Quraisy, tentara, petani, hingga penasihat khalifah.
Di sinilah letak keunikannya. Kami menikmati drama itu sambil menampilkan bakat-bakat terpendam yang mungkin selama ini tidak pernah muncul dalam forum resmi. Pemeran Umar di satu kelompok tentu berbeda dengan Umar di kelompok lain. Ada Umar yang tampil gagah dengan pakaian bergaya Arab, sarung yang disulap menjadi jubah, berjenggot lebat, dan berbadan gemuk. Di kelompok lain, Umar tampil lebih ramping, mengenakan jubah “pinjaman istri”, lengkap dengan kacamata yang justru membuatnya semakin khas.
Yang tidak kalah menarik adalah tokoh Quraisy yang justru lebih mirip orang Jepang daripada orang Arab. Mungkin karena pemerannya berasal dari Nias, ditambah intonasi bicara yang unik dan kacamata hitam yang membuat karakternya semakin mengundang tawa. Ada pula peserta yang berperan sebagai petani dengan kostum sederhana tetapi sangat menghibur.
Tidak hanya itu, ada pula seorang tokoh senior yang memainkan perannya dengan penghayatan yang luar biasa. Dalam salah satu adegan, ia digambarkan sedang sakit. Aktingnya begitu total hingga ia tampak terjatuh lalu tertidur dengan sangat meyakinkan, seolah-olah penyakit itu benar-benar sedang dideritanya dan peristiwa tersebut memang dialaminya sendiri. Semua yang menyaksikan spontan tertawa sekaligus memberikan apresiasi. Peran yang dimainkan dengan sepenuh hati membuat suasana semakin hidup dan semakin menarik.
Semua memainkan perannya dengan penuh semangat. Tidak ada yang merasa paling hebat, tidak ada pula yang sekadar menjadi penonton. Semua berperan, semua terlibat, dan semua berusaha menghayati karakter masing-masing seolah-olah sedang berada di masa itu. Berkali-kali terdengar gelak tawa dari para instruktur maupun peserta lainnya. Tawa itu bukan karena meremehkan sejarah, melainkan karena kreativitas para pemeran yang mampu menghidupkan suasana dengan cara yang segar dan mengesankan.
Namun, di balik canda dan tawa itu tersimpan pelajaran yang sangat berharga. Sejarah tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan. Ketika seseorang memerankan tokoh tertentu, ia berusaha memahami cara berpikir, mengambil keputusan, serta merasakan suasana zamannya. Pembelajaran seperti ini membuat sejarah terasa lebih dekat daripada sekadar membaca buku atau mendengarkan ceramah.
Bagi saya, sesi mini drama ini menjadi bukti bahwa pengkaderan Muhammadiyah tidak selalu berlangsung dalam suasana serius. Ada ruang untuk kreativitas, kebersamaan, dan kegembiraan tanpa mengurangi substansi pembelajaran. Justru melalui tawa yang sehat itulah sekat-sekat antarpeserta menjadi cair. Kami saling mengenal, saling mengapresiasi, bahkan menemukan sisi lain dari sahabat-sahabat yang selama ini mungkin hanya dikenal dalam forum-fortemuan resmi.
Darul Arqam akhirnya tidak hanya memperkaya wawasan keislaman dan kemuhammadiyahan, tetapi juga mempererat ukhuwah. Kami datang sebagai peserta dari berbagai daerah di Sumatera Utara, lalu dipertemukan dalam ruang belajar yang penuh makna. Kami pulang bukan hanya membawa materi pengkaderan, tetapi juga membawa kenangan indah tentang tawa, persahabatan, dan pelajaran bahwa berdakwah serta belajar dapat dilakukan dengan cara yang kreatif, menyenangkan, dan tetap bermartabat.
Mungkin bertahun-tahun ke depan kami tidak lagi mengingat secara utuh siapa yang menjadi Umar, siapa yang menjadi kaum Quraisy, atau siapa yang menjadi petani. Namun kami akan selalu mengingat bahwa dalam Darul Arqam itu, sejarah pernah “dihidupkan” dengan sederhana. Dan dari panggung kecil itulah lahir senyum, tawa, persaudaraan, serta pelajaran besar tentang pentingnya kebersamaan dalam menyiapkan kader-kader Muhammadiyah yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa gembira.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke Telegram(Membuka di jendela yang baru) Telegram
  • Kirim email tautan ke teman(Membuka di jendela yang baru) Surat elektronik
  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Cetak(Membuka di jendela yang baru) Cetak
Tags: darul arqamjufrikolommini drama
Previous Post

Kelangkaan BBM Sumut: Dalih Distribusi atau Kegagalan Tata Kelola?

Next Post

Cermati Kehalalan Makanan Berbahan Daging Giling, Ini Lima Titik Kritis yang Wajib Diperhatikan

Next Post
Cermati Kehalalan Makanan Berbahan Daging Giling, Ini Lima Titik Kritis yang Wajib Diperhatikan

Cermati Kehalalan Makanan Berbahan Daging Giling, Ini Lima Titik Kritis yang Wajib Diperhatikan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Beranda
  • Kabar
  • Literasi
  • Kolom
  • Kesehatan
  • Muktamar
  • Pendidikan
  • Redaksi
Call us: +1 234 JEG THEME

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Kabar
    • Persyarikatan
    • Peristiwa
    • Ekonomi
    • Info LazisMu
    • InfoMU tv
  • Literasi
    • Kampus
    • Tarjih
    • Taman Pustaka
    • Jelajah Bumi Para Rasul
    • Majelis Pustaka & Informasi
    • Taman Pustaka
  • Kolom
    • Khutbah
    • Opini
  • Kesehatan
    • Lingkungan
    • Halal Center
  • Muktamar
    • Muktamar 49
    • Road To Muktamar 49
  • Pendidikan
    • umsu
    • Sekolah
  • Redaksi

© 2026 JNews - Premium WordPress news & magazine theme by Jegtheme.