Milad IPM ke-65: Menyiapkan Kader Berkemajuan, Mencerahkan Bangsa dan Semesta
Oleh Jufri
Ada sebuah kebahagiaan yang setiap tahun selalu kami syukuri. Milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dan milad pernikahan kami ternyata hadir pada tanggal yang sama. Mungkin bagi sebagian orang itu hanyalah sebuah kebetulan. Namun bagi kami, ada makna yang lebih dalam. Tidak hanya tanggal yang sama, tetapi juga perjalanan hidup yang dipertemukan oleh kaderisasi Muhammadiyah. Kami sama-sama pernah menjadi kader pelajar Muhammadiyah—saat itu masih bernama Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM)—meskipun tumbuh dan dibina di dua provinsi yang berbeda. Saya dibesarkan dalam tradisi kaderisasi Muhammadiyah di Sumatera Barat, sementara istri saya bertumbuh sebagai kader IRM di Sumatera Utara. Allah kemudian mempertemukan kami dalam ikatan pernikahan sekaligus dalam jalan dakwah yang sama, yakni mengabdi untuk Muhammadiyah.
Bagi kami, kesamaan ini bukan sekadar kenangan, tetapi menjadi pengingat bahwa kaderisasi adalah investasi peradaban. Apa yang dahulu ditanamkan melalui IRM tidak berhenti pada masa remaja, melainkan terus membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengabdi hingga hari ini. Kaderisasi telah menjadi bagian dari perjalanan keluarga kami.
Enam puluh lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat bagi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Organisasi pelajar yang lahir pada 18 Juli 1961 ini telah menjadi ruang pembinaan kader yang melahirkan banyak tokoh, intelektual, pendidik, aktivis, ulama, profesional, hingga pemimpin bangsa. Di setiap fase perjalanan, IPM tidak sekadar menjadi organisasi pelajar, tetapi menjadi sekolah kepemimpinan yang menempa karakter, akhlak, ilmu pengetahuan, dan semangat pengabdian.
Milad ke-65 IPM dengan tema “Resonansi Algoritma Pelajar Berdampak” mengingatkan bahwa generasi muda Muhammadiyah hidup di era digital yang dipenuhi kecerdasan buatan, algoritma media sosial, dan arus informasi tanpa batas. Namun, kemajuan teknologi tidak boleh mengendalikan arah hidup manusia. Justru pelajar Muhammadiyah harus mampu mengendalikan teknologi dengan nilai-nilai Islam sehingga kemajuan digital menghadirkan manfaat bagi umat dan kemanusiaan.
Muhammadiyah sejak awal berdiri dikenal sebagai Gerakan Islam Berkemajuan. Sebuah gerakan dakwah yang tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga membangun pendidikan, kesehatan, ekonomi, pemberdayaan masyarakat, serta peradaban. Islam dipahami sebagai agama yang mendorong umatnya menjadi unggul dalam ilmu, akhlak, dan amal nyata.
Karena itu, IPM memiliki posisi yang sangat strategis. Di pundak para pelajar Muhammadiyah inilah estafet perjuangan akan diteruskan. Mereka bukan sekadar anggota organisasi, melainkan kader pelanjut Muhammadiyah, yang kelak akan menggerakkan persyarikatan di berbagai bidang kehidupan. Mereka dipersiapkan menjadi kader umat yang mampu membimbing masyarakat kepada nilai-nilai Islam yang mencerahkan, sekaligus menjadi kader bangsa yang memberikan kontribusi nyata bagi Indonesia.
Dalam konteks tersebut, Milad IPM ke-65 juga sejalan dengan semangat Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara yang mengusung tema “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Tema ini mengandung pesan bahwa Muhammadiyah ingin menghadirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara spiritual, kuat secara moral, serta mampu memberi cahaya bagi lingkungan, bangsa, bahkan semesta.
Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan hati, kecerdasan sosial, kecerdasan digital, dan kecerdasan dalam membaca perubahan zaman. Sementara Semesta Bercahaya adalah cita-cita agar kehadiran Muhammadiyah benar-benar menjadi rahmat bagi seluruh alam melalui pendidikan, dakwah, pelayanan kesehatan, kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, hingga pengembangan ilmu pengetahuan.
IPM menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan cita-cita besar tersebut. Dari tangan para pelajar hari ini akan lahir para guru, dosen, dokter, ulama, pengusaha, birokrat, politisi, ilmuwan, dan pemimpin masa depan yang membawa ruh Islam Berkemajuan ke mana pun mereka mengabdi.
Menjadi kader Muhammadiyah bukanlah sekadar memiliki kartu anggota atau aktif dalam kegiatan organisasi. Menjadi kader berarti siap belajar sepanjang hayat, menjaga integritas, memperkuat akhlak, membangun tradisi ilmu, serta menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Kader sejati adalah mereka yang tetap rendah hati ketika berhasil dan tetap istiqamah ketika menghadapi tantangan.
Selamat Milad ke-65 Ikatan Pelajar Muhammadiyah. Semoga IPM terus menjadi sekolah kader yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak, inovatif, dan berdampak. Semoga estafet perjuangan Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam Berkemajuan terus terjaga melalui lahirnya kader-kader umat dan kader bangsa yang akan mewujudkan cita-cita besar “Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.” Dan bagi kami sekeluarga, bertepatan dengan milad pernikahan ini, semoga Allah SWT senantiasa menjaga langkah pengabdian kami agar tetap berada dalam jalan dakwah Persyarikatan Muhammadiyah hingga akhir hayat. Aamiin.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni
